Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Problem Solver: Beginilah KDM Memimpin”
MUHAMAD Fadlih, S.E., akrab disapa Nana Fadli, lahir di tanah Nggorang, Manggarai Barat, NTT pada Kamis, 17 Februari 2000 silam. Dari kampung yang sangat sederhana ia membawa nama, dan dari nama itu ia menanam janji: tidak akan pulang dengan tangan kosong.
Ia anak pertama dari dua saudari. Di belakangnya ada Walida Nafsah dan Sri Wulandari, dua perempuan yang menjadi saksi pertama bagaimana kakaknya belajar memimpin dengan cara mengalah, belajar kuat dengan cara melindungi.
Ibu bernama Siti Mardia, seorang petani yang tangannya lebih dulu mengenal lumpur sebelum mengenal pena. Bahkan ia hanya lulusan sekolah dasar (SD), tapi otaknya brilian, kerjanya apik. Ayah, Sudirman, kini telah berpulang. Dari pengalaman bersama sawah dan kebun orang tuanya ia mewarisi kesabaran dan kerja keras, dari doa mereka ia mewarisi keberanian dan optimis untuk melangkah.
Langkah pertama sekolah dimulai di Madrasah Ibtidaiyyah Nggorang, 2009 hingga 2015. Di bangku kecil itu ia belajar mengeja huruf dan mengeja hidup: bahwa setiap huruf punya tempat, dan setiap manusia punya giliran untuk bersinar.
Lalu ia merantau ke Kediri, Lombok Barat, NTB menimba ilmu di Madrasah Tsanawiyyah Dakwah Islamiyah Putra Pondok Pesantren Nurul Hakim, 2015-2018. Dinding pesantren mengajarinya bahwa disiplin adalah cinta yang tegas, dan bahwa bangun subuh adalah cara paling jujur menyapa Allah.
Di tempat yang sama ia melanjutkan ke Madrasah Aliyah Dakwah Islamiyah Putra, 2018-2021. Di antara kitab dan lapangan, ia belajar bahwa ilmu tanpa adab kosong, dan adab tanpa ilmu buta.
2022 ia tiba di Universitas Janabadra, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Ekonomi Pembangunan. Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, ia wisuda. Gelar S.E. yang kini ia sandang bukan sekadar huruf di belakang nama, ia adalah surat terima kasih yang ia hadiahkan untuk Ibu dan untuk Almarhum Bapak.
Di kampus ia tidak hanya duduk di kelas. Ia tumbuh di HMJ-EP sebagai anggota Departemen PSDM, lalu setahun kemudian dipercaya menjadi Koordinator. Dari sana ia melangkah lagi ke DPM FEB, menjabat di Komisi 3 Controlling sebagai Koordinator. Di rapat, di proker, di lelah yang sama-sama dipikul, ia belajar satu hal: bekerja sama adalah cara paling indah menjadi dewasa.
Organisasi memberinya lebih dari sertifikat. Ia diberi keberanian bicara, diberi ruang untuk gagal, diberi kepercayaan untuk memimpin. Dari sana lahir rasa percaya diri yang dulu ia kira hanya dimiliki orang lain.
Kenangan paling berkesan adalah diskusi-diskusi panjang yang merobek malam. Dan ada kebebasan kecil saat ia bermain bola atau futsal, seakan sejenak dunia berhenti menuntut. Untuk itu semua ia mengucap terima kasih sebesar-besarnya.
Hidup mandiri mengajarinya banyak hal unik. Mandiri bukan hanya mencuci baju sendiri atau memasak nasi sendiri. Mandiri adalah menjaga diri, bertanggung jawab pada pilihan, dan tetap berdiri walau tidak ada yang menepuk bahu. Selama kuliah, pikirannya berubah. Ia mulai berpikir bukan hanya untuk dirinya.
Ia memegang dua pegangan: prinsip “menyelesaikan apa yang dimulai” dan nilai respek. Menghargai orang lain, katanya, adalah bentuk paling tulus menghargai diri sendiri. Dan nasihat paling sunyi yang menguatkannya datang dari Ibu. Tanpa suara, tanpa ceramah panjang, cukup tatapan Ibu untuk menjadi kompas.
Guru pertamanya adalah dirinya sendiri. Ia mulai mengajar sejak mulai berpikir, karena ia percaya perkembangan terjadi saat kita berani mengoreksi diri di depan cermin. Tapi inspiratornya tetap satu: Ibu. Tidak ada alasan lain selain karena dia Ibu.
“Inspirator terbaik adalah ibu. Tak ada alasan lain selain karena Ibu adalah Ibu,” ucapnya dengan penuh bangga.
Ada mimpi yang ia simpan untuk kampung halaman: memperbaiki dinamika struktur sosial kalangan muda. Ia ingin anak-anak di Nggorang, juga di Manggarai Barat, NTT, tahu bahwa merantau tidak harus melupakan asal, dan bahwa pulang bisa berarti membawa perubahan.
Untuk mereka yang sedang berjuang di rantau, pesannya sederhana: jalani semua persoalan, jangan patah semangat. Jawaban akan datang pada waktunya.
Karena Ibu dan kedua adiknya, yang ia harap tetap ada sampai tak terhingga, karena kasih sayang dan kerja keras yang menjadi alasan ia bertahan… Muhamad Fadlih kini berdiri, membawa gelar, membawa harapan, dan membawa pulang nama baik orang tua, adik dan keluarga besarnya.
“Ibu adalah segalanya, harapannya ibu tetap ada sampai tak terhingga. Merasakan kerja keras dan kasih sayang ibu menjadi dorongan saya untuk bertahan,” akunya.
Dari Muhamad Fadlih kita belajar tentang banyak hal yang terangkum dalam satu ungkapan penting: mengalir meniti ombak. Bahwa kondisi keluarga yang serba terbatas, menjadi yatim dan merantau dengan berbagai tantangan adalah ombak besar kehidupan. Tapi ia mampu menitinya dengan giat, telaten dan akhirnya sukses.
“Di punggung air yang berbisik, waktu meleleh menjadi garam dan cahaya. Setiap gulung datang membawa nama yang dulu kupanggil dalam diam. Aku menapaki puncaknya dengan telapak doa, lalu jatuh ke pelukannya yang lembut. Ombak tidak pernah menolak, ia hanya mengajari tentang pulang dan pergi. Di antara buih, hatiku belajar menari tanpa menuntut tepian. Dan ketika senja menidurkan laut, aku masih mengalir, menjadi nyanyian yang tak putus,” mungkin dengan begitulah Muhamad Fadlih bersahabat dengan ombak.
Semoga Allah selalu menyertai seluruh nafas, langkah dan kariermu inspirator muda Indonesia! (*)






