Oleh : Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh
DUNIA kepenulisan adalah dunia kreatifitas. Dunia dimana ide dan gagasan itu muncul di ruang dan momentum yang tak menentu. Kadang ide dan gagasan hadir pada saat sang penulis lagi santai, lagi membaca buku, dan sebagainya. Kreatifitas penulis membuatnya menjadi ulasan panjang dan menjadi tulisan yang layak dipublikasi ke khalayak.
Dalam banyak kesempatan, saya menghadiri berbagai forum ilmiah, seminar, workshop, bedah buku, diskusi dan serupanya. Baik sebagai narasumber maupun sebagai peserta. Biasanya, di sela-sela kegiatan semacam itu saya menulis artikel atau opini berkaitan dengan tema yang sedang dibahas. Hal itu saya lakukan untuk menjaga ide atau gagasan.
Kebiasaan semacam itu sudah saya jalani selama dua dekade lebih, sejak aktif sebagai mahasiswa sehingga kelak aktif di berbagai organisasi sekaligus komunitas. Dampaknya, setiap ide atau gagasan yang muncul terjaga dengan baik. Bahkan tak sedikit yang dipublikasi di berbagai surat kabar dan media online, juga blog dan akun media sosial saya.
Tak sedikit yang berkomentar begini: rajin sekali menulis, bagaimana caranya bisa menulis setiap hari, dan berbagai komentar lainnya. Pada dasarnya, ketika saya menulis, saya harus mengorbankan banyak hal. Kadang saya harus rela tidak makan karena fokus menulis. Saya juga mengurangi waktu tidur malam. Terutama bila idenya tetiba muncul.
Selama dua dekade terakhir, saya telah membiasakan untuk menulis setiap hari. Caranya? Berani memulai atau langsung menulis. Lawan rasa malas, perangi rasa kantuk. Saya menulis artikel dan buku, di samping biografi para tokoh lintas latar belakang. Tantangan dan hambatan tentu menjadi pengalaman sangat berharga.
Menulis buku itu butuh perjuangan dan pengorbanan tak sedikit. Selain pikiran, tenaga dan waktu, juga biaya cetak bukunya. Saya menulis banyak buku tidak langsung jadi. Awalnya saya menyicil dalam bentuk artikel atau opini yang dikirim dan dimuat di berbagai surat kabar dan media online, lalu saya satukan dalam satu file naskah buku layak terbit.
Tak lama kemudian, setelah mendapat masukan sekaligus koreksi dari beberapa teman, lalu tersedia sedikit biaya cetak, akhirnya saya serahkan ke penerbit. Uangnya berasal dari mana? Dari tabungan plastik berisi uang receh sisa belanja sayur dan air galon. Saya suka mengoleksi uang logam sisa belanja. Itulah sumber biaya cetak buku saya.
Kecuali buku biografi tokoh, biayanya jelas dari tokoh bersangkutan. Karena itu pula belakangan saya semakin tertarik untuk menulis buku biografi tokoh. Selain karena sumber biaya cetaknya lebih jelas, juga membuat saya lebih konsentrasi pada ide dan aktivitas menulis itu sendiri. Buku jenis ini juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi.
Bila menjadi narasumber di beberapa forum dan mendapatkan uang transportasi, biasanya saya jadikan sebagai modal biaya cetak buku. Bila pun tak ada uang transportasi, buku-buku saya sebagian besar dibagi secara gratis di berbagai forum itu. Saya haru, bangga dan lega karena karya saya dibaca orang. Saya berharap buku-buku saya bermanfaat bagi siapapun! (*)






