Nasional

Labuan Bajo Rawan Tenggelam Kapal Wisata, Aktivis Muda Manggarai Barat: Alarm Bagi Pemerintah

154
×

Labuan Bajo Rawan Tenggelam Kapal Wisata, Aktivis Muda Manggarai Barat: Alarm Bagi Pemerintah

Share this article
IMG 20251228 WA0036
Foto : Istimewa/GM

LABUAN BAJO, GM – Insiden kapal wisata KM Putri Sakinah yang tenggelam di perairan Selat Pulau Padar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat malam (26/12/2025), menjadi peringatan keras tentang betapa rawannya keselamatan di perairan wisata Indonesia. Peristiwa tragis ini harus menjadi alarm bagi pemerintah pusat dan daerah untuk segera mengevaluasi keselamatan pelayaran wisata di Labuan Bajo dan sekitarnya.

Kecelakaan yang menimpa KM Putri Sakinah terjadi ketika kapal yang mengangkut 11 orang penumpang mengalami mati mesin lalu diterjang gelombang tinggi 2–3 meter, sehingga terbalik dan tenggelam di perairan Taman Nasional Komodo. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi tujuh penumpang dalam kondisi selamat, termasuk wisatawan asing dan awak kapal, namun empat wisatawan Spanyol masih hilang dan dalam pencarian intensif.

Menurut aktivis muda Manggarai Barat, tragedi ini bukan sekadar kecelakaan semata, melainkan cerminan lemahnya pengaturan keselamatan dan kesiapan sarana di daerah wisata unggulan dunia. Labuan Bajo yang mencatat jutaan wisatawan setiap tahun seharusnya memiliki standar keselamatan yang lebih tinggi daripada sekadar pelampung dan prosedur darurat biasa.

“Kami menerima kabar mati mesin di tengah laut, sehingga kapal tenggelam itu bukan lagi sekedar nasib buruk. Ini berarti pengawasan teknis kapal dan standar peralatan keselamatan.” ujar Ahmad Rafiq, aktivis muda Manggarai Barat. Sabtu (27/12/2025).

Kasus KM Putri Sakinah menunjukkan bahwa cuaca dan gelombang tinggi bisa menjadi ancaman nyata di perairan Labuan Bajo. Namun demikian, ia menilai arus kebijakan pemerintah pusat dan daerah masih kurang responsif terhadap kondisi risiko laut ini.

Ia menuntut adanya audit keselamatan kapal wisata secara berkala dan standar peralatan keselamatan wajib yang lebih ketat, di samping perlunya pelatihan SAR yang lebih memadai dan anggaran yang jelas, serta peningkatan infrastruktur peringatan cuaca dan navigasi laut.

Baca Juga :  Pelindo Kembali Masuk Daftar Fortune Indonesia 100

“Labuan Bajo bukan sekadar destinasi cantik, ini adalah wilayah laut yang penuh tantangan. Kekuatan ombak dan arus bisa berubah cepat. Kalau sistem keselamatan kita masih lemah, tragedi seperti ini bisa saja terulang lagi. Kita harus belajar banyak peristiwa sebelumnya,” tambahnya.

Ia pun mendesak pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh sehingga tidak ada lagi korban, mengingat Labuan Bajo adalah Kota Wisata favorit dunia.

“Jangan sampai peristiwa seperti ini membuat wisatawan enggan untuk untuk berkunjung ke Labuan Bajo lagi. Ini alarm bagi pemerintah,” lanjutnya.

Selain pemerintah, pelaku industri pariwisata, operator kapal, hingga agen perjalanan juga bertanggung jawab untuk memastikan keamanan wisatawan. Kesadaran akan standar internasional harus diterapkan, bukan sekadar kepentingan ekonomi semata.

Tragedi ini juga membuka mata banyak pihak bahwa pariwisata bukan hanya soal pemandangan, tapi juga soal keselamatan dan tanggung jawab bersama. Ribuan wisatawan datang ke Labuan Bajo setiap musim, dan jika keselamatan belum menjadi prioritas utama, reputasi dan nyawa bisa semakin terancam. (Syam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *