Opini

Islam Menjawab Fenomena Konsumerisme

34
×

Islam Menjawab Fenomena Konsumerisme

Share this article
IMG 20260108 WA0042
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Prof. Achmad Kholiq, M.Ag

Guru Besar UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon

FENOMENA konsumerisme hari ini telah menjadi gejala global yang membentuk cara manusia memandang diri, orang lain, dan makna kebahagiaan. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pertumbuhan ekonomi, ekspansi industri digital, dan kuatnya pengaruh media sosial telah mengubah konsumsi dari sekadar pemenuhan kebutuhan menjadi sarana pembentukan identitas.

Barang tidak lagi dibeli hanya karena fungsinya, tetapi karena makna simbolik yang melekat padanya: prestise, pengakuan, dan rasa “menjadi bagian” dari arus zaman. Dalam situasi ini, pasar tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual citra diri dan gaya hidup, sehingga tanpa disadari manusia belajar menilai dirinya melalui apa yang ia miliki dan tampilkan.

Dari sinilah lahir logika eksistensial yang sering diringkas dalam ungkapan, “aku membeli maka aku ada.” Nilai diri bergeser dari kualitas karakter, kontribusi sosial, dan kedalaman spiritual, menuju kepemilikan dan tampilan luar. Identitas dibangun melalui merek, tren, dan simbol status, sementara kebahagiaan direduksi menjadi kepuasan instan yang harus terus diperbarui lewat konsumsi berikutnya.

Secara psikologis, pola ini menumbuhkan rasa kurang yang kronis, kecemasan sosial, dan ketergantungan pada validasi eksternal. Secara sosial, ia memperlebar jarak simbolik antar individu, karena relasi lebih sering dibangun atas dasar citra, bukan makna. Secara ekologis, ia mendorong eksploitasi sumber daya yang semakin agresif, menjadikan krisis lingkungan sebagai harga mahal dari budaya belanja tanpa batas

Perspektif Islam

Islam hadir dengan kerangka nilai yang tidak menolak aktivitas ekonomi, tetapi menolak menjadikan konsumsi sebagai pusat identitas dan tujuan hidup. Dalam pandangan Islam, manusia tidak dimuliakan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh siapa dirinya dan bagaimana ia menjalani hidup dengan nilai. Karena itu, Islam menggeser pusat kebahagiaan dari akumulasi barang menuju kualitas relasi: dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Narasi eksistensial pun berubah menjadi, “aku bersyukur maka aku bahagia.”

Baca Juga :  Menjadi Bangsa Kaya Adab

Syukur dalam pengertian ini bukan sekadar ekspresi verbal, tetapi sikap mental yang menumbuhkan rasa cukup, menguatkan ketenangan batin, dan membebaskan manusia dari tekanan untuk terus membuktikan diri lewat kepemilikan. Konsep syukur juga berfungsi sebagai mekanisme pengendali hasrat konsumsi. Ia membantu manusia membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara cukup dan berlebihan.

Dengan demikian, Islam tidak mematikan semangat bekerja dan berikhtiar, tetapi mengarahkan hasil kerja agar tidak berubah menjadi sumber ketergantungan psikologis. Keseimbangan inilah yang menjadi ciri penting etika ekonomi Islam: produktif tanpa menjadi rakus, menikmati tanpa kehilangan kendali, maju tanpa tercerabut dari nilai. Dalam kerangka ini, kesejahteraan tidak hanya diukur dari pertumbuhan materi, tetapi juga dari kesehatan sosial, stabilitas emosional, dan kebermaknaan hidup.

Konteks Bangsa dan Kehidupan Sosial

Dalam konteks Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi dan percepatan digital, pesan ini menjadi sangat relevan. Ketika budaya pamer, diskon masif, dan standar hidup yang diproduksi media terus menekan individu untuk mengejar citra tertentu, Islam justru menawarkan ketenangan melalui kesadaran bahwa harga diri tidak ditentukan oleh etalase kehidupan.

Kebahagiaan tidak harus menunggu barang berikutnya, dan makna hidup tidak harus dibuktikan melalui konsumsi. Di sinilah syukur berfungsi sebagai kekuatan kultural yang mampu menahan laju ideologi konsumerisme yang menjadikan manusia sekadar target pasar. Pada akhirnya, konsumerisme menjanjikan kebahagiaan lewat kepemilikan, sementara Islam menumbuhkan kebahagiaan lewat makna. Yang satu membangun identitas dari luar, yang lain meneguhkannya dari dalam.

Di tengah dunia global yang semakin cepat, kompetitif, dan sarat rangsangan belanja, ajaran “aku bersyukur maka aku bahagia” bukan hanya pesan spiritual, tetapi juga tawaran rasional untuk hidup yang lebih seimbang, lebih merdeka dari tekanan sosial, dan lebih berkelanjutan bagi manusia serta lingkungan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *