BANDUNG, GM – Akreditasi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) selama ini kerap dipahami sebagai proses administratif yang bertumpu pada pemenuhan dokumen. Perspektif tersebut mendapat penegasan kritis melalui Sidang Promosi Doktor pada Program Administrasi Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Rabu, 14 Januari 2026.
Sidang promosi doktor yang berlangsung terbuka ini dihadiri kurang lebih 100 peserta yang hadir langsung dan 64 peserta melalui Zoom, hal ini menunjukkan tingginya perhatian sivitas akademika terhadap isu mutu dan akreditasi PTS.
Forum akademik tersebut menghadirkan sudut pandang baru dengan menempatkan kepemimpinan transformasional dan kesehatan organisasi sebagai fondasi utama mutu akreditasi institusi.
Gagasan tersebut disampaikan oleh promovendus Arip Amin, dosen dan sekaligus Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sindang Kasih Majalengka, melalui disertasi berjudul “Model Manajemen Mutu Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi Berbasis Kepemimpinan Transformasional dan Kesehatan Organisasi (Studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan LLDIKTI IV Wilayah Jawa Barat dan Banten Regional Wilayah 3 Cirebon)”.
Kajian disertasi berangkat dari realitas masih terbatasnya capaian akreditasi unggul pada perguruan tinggi swasta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu institusi tidak cukup dijelaskan oleh kelengkapan administrasi, melainkan sangat dipengaruhi kemampuan pimpinan membangun komitmen kolektif, menyatukan visi organisasi, serta menciptakan iklim kerja yang sehat dan adaptif terhadap perubahan.
Sidang promosi doktor ini menghadirkan Prof. Dr. H. Farihin Nur M.Pd dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai penguji eksternal. Penguji internal dipercayakan kepada Dr. Sururi M.Pd. Prof. Dr. H. Diding Nurdin M.Pd bertindak sebagai promotor dengan Prof. Dr. H. Djam’an Satori M.A selaku ko promotor, dan Dr. Suryadi M.Pd sebagai anggota promotor.
Jalannya sidang dipimpin Dr. Sardin M.Si.
Proses pengujian menyoroti kekuatan metodologis dan kontribusi keilmuan penelitian. Pendekatan mixed methods dengan desain explanatory sequential digunakan untuk menguji hubungan antarvariabel. Analisis kuantitatif melibatkan 446 sampel terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan perguruan tinggi swasta dan diolah menggunakan Structural Equation Modeling, kemudian diperdalam melalui data kualitatif untuk memahami dinamika kepemimpinan transformasional dan kesehatan organisasi secara komprehensif.
Hasil penelitian membuktikan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh signifikan terhadap kesehatan organisasi, Kesehatan organisasi berpengaruh signifikan terhadap manajemen mutu akreditasi institusi PTS. Kesehatan organisasi berperan sebagai mekanisme yang memperkuat pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap keberlanjutan mutu. Temuan ini menegaskan bahwa sistem mutu hanya dapat berjalan efektif ketika didukung oleh organisasi yang sehat secara struktural dan kultural.
Model CULEM dirumuskan sebagai sintesis antara kerangka teori dan temuan empiris. Commitment merepresentasikan komitmen pimpinan dan sivitas akademika terhadap mutu. Unity menggambarkan kesatuan visi dan arah institusi. Leadership menegaskan peran kepemimpinan transformasional sebagai penggerak perubahan.
Excellence menunjukkan orientasi keunggulan berkelanjutan. Mentality merefleksikan budaya mutu yang hidup dalam praktik keseharian organisasi.
Arip Amin menegaskan bahwa model tersebut tidak lahir dari pencarian akronim.
Kerangka konseptual dirumuskan terlebih dahulu melalui analisis teoritik dan data empiris, kemudian diberi nama CULEM sebagai alat konseptual agar mudah dipahami dan dioperasionalkan dalam praktik kelembagaan perguruan tinggi swasta.
Disertasi ini dinilai relevan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional yang menempatkan mutu sebagai tanggung jawab institusi.
Amanat Undang Undang Nomor 12 Tahun 2012 dan kebijakan penjaminan mutu yang menegaskan bahwa akreditasi institusi harus mencerminkan mutu nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar kepatuhan administratif.
Model CULEM diposisikan sebagai kerangka kepemimpinan dan kultural yang menopang siklus penjaminan mutu internal agar berjalan konsisten. Pendekatan ini memperkuat internalisasi budaya mutu dan mendorong akreditasi sebagai refleksi kesehatan organisasi perguruan tinggi swasta.
Nilai praktis penelitian terletak pada sifatnya yang adaptif. Model CULEM dapat diterapkan secara bertahap pada perguruan tinggi swasta dengan keterbatasan sumber daya. Fokus diarahkan pada penguatan kepemimpinan, kesatuan visi, dan iklim kerja yang sehat sebagai modal dasar peningkatan mutu akreditasi institusi.
Disertasi ini diharapkan menjadi rujukan akademik dan kebijakan dalam pembinaan mutu perguruan tinggi swasta. Pendekatan yang ditawarkan mendorong pergeseran orientasi akreditasi dari pemenuhan dokumen menuju penguatan organisasi dan budaya mutu yang berkelanjutan. (Eko)






