Opini

Shaum Ramadan Mulai 1 Ramadan, Bukan 1 Syawal!

8
×

Shaum Ramadan Mulai 1 Ramadan, Bukan 1 Syawal!

Share this article
IMG 20260105 WA0001
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Merawat Indonesia”

SALAH satu hal krusial dalam tubuh umat Islam Indonesia yakni penentuan awal atau tanggal 1 Ramadan, termasuk Ramadan tahun 1447 H (2026 M). Pemerintah melalui Kalender Hijriah Indonesia 2026 memperkirakan awal Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Kalender tersebut disusun berdasarkan kriteria imkanur rukyat yang disepakati Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Dalam kriteria ini, tinggi hilal dan kemungkinan terlihatnya menjadi faktor penting.

Namun perkiraan tersebut bisa berubah bila hasil sidang isbat berbeda. Sidang isbat diadakan pada Selasa, 17 Februari 2026 di Auditorium H. M. Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta. Sidang akan dihadiri oleh unsur Komisi VIII DPR, Perwakilan Mahkamah Agung Majelis, Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, Perwakilan ormas Islam, pondok pesantren, serta Tim Hisab Rukyat Kemenag.

Pandangan NU, Persis dan Muhammadiyah

Pertama, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hingga saat ini belum memutuskan tanggal untuk awal Ramadan 1447 H (2026 M). NU menggunakan metode Hisab Imkanur Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), yang menggabungkan perhitungan astronomi dengan pengamatan langsung hilal di lapangan. NU akan melanjutkan dengan pemantauan hilal pada 29 Syaban 1447 H untuk menentukan awal Ramadan. Hasil observasi hilal tersebut akan menjadi acuan untuk penetapan resmi awal puasa oleh NU.

Kedua, Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) telah resmi menetapkan awal Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab atau perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat PP Persis yang merujuk pada metodologi hisab imkan rukyah dengan kriteria astronomi. Ketetapan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 2317/JJ-C.3/PP/2026 tentang awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H atau 2026 M yang ditandatangani oleh Ketua Umum PP Persis Dr. KH. Jeje Zaenudin dan Sekretaris Umum PP Persis Dr. KH. Haris Muslim di Bandung pada 20 Januari 2026.

Baca Juga :  Islam Menjawab Fenomena Konsumerisme

Menurut Persis, ijtima akhir Sya’ban 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB. Namun pada saat magrib di wilayah Indonesia, posisi bulan masih berada di bawah kriteria imkan rukyah. Tinggi bulan antara -2 derajat 14 menit 56 detik hingga -0 derajat 51 menit 32 detik. Lalu jarak elongasi bulan-matahari antara 0 derajat 56 menit 19 detik sampai 1 derajat 53 menit 24 detik. Karena itu, tanggal 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis 19 Februari 2026. Kemudian, 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri pada Sabtu 21 Maret 2026 dan Idul Adha 10 Zulhijah jatuh pada Rabu 27 Mei 2026.

Ketiga, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah resmi menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah untuk tahun 1447 H, yang bertepatan dengan tahun 2026 M. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah selama ini. Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang dirilis pada 22 September 2025, diputuskan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 M.

Sementara itu, Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 M. Bila 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada Senin, 18 Mei 2026 M, sementara Arafah (9 Zulhijah) bertepatan pada Selasa, 26 Mei 2026 M, dan Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah) jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 M. Penetapan ini mengacu pada prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal yang merupakan hasil Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan pada tahun 2024.

Dalam maklumat tersebut, dijelaskan bahwa ijtimak (konjungsi) jelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 M. Namun, berdasarkan kriteria Kalender Hijriah Global, bulan baru dimulai saat matahari terbenam keesokan harinya. Hal serupa juga berlaku untuk penetapan awal Syawal dan Zulhijah yang telah dihitung secara cermat. Dengan demikian, perbedaan awal Ramadan tahun 1447 H sangat terbuka lebar. Tapi lagi-lagi, kita tentu sangat menantikan hasil keputusan sidang isbat pada Selasa, 17 Februari 2026.

Baca Juga :  Transformasi PKB di Usia ke-27: Antara Tantangan Destruktif dan Kepemimpinan Konstruktif

Menyikapi Perbedaan

Perbedaan pendapat sudah terjadi sejak zaman para sahabat, para generasi setelah mereka hingga saat ini. Perbedaan dalam rukyatul hilal bisa terjadi karena faktor geografis dan metode yang digunakan. Seperti yang tergambar dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bershaumlah kalian ketika melihat hilal, dan berbukalah kalian ketika melihatnya. Jika kalian terhalang (tidak bisa melihatnya), maka sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam rangka itu, kita perlu memperhatikan beberapa sikap dalam menghadapi perbedaan dalam menentukan beberapa hal penting dalam Islam, termasuk 1 Ramadan 1447 H tersebut. Pertama, menjaga ukhuwah islamiyah dan persatuan umat. Baik rukyat maupun hisab adalah metode yang memiliki dasar ilmiah dan syar’i. Niat utama kita adalah beribadah kepada Allah dengan tulus. Karena itu, kita tetap menjaga ukhuwah islamiyah, menjaga persatuan umat dan toleransi terhadap perbedaan.

Kedua, saling menghormati keputusan pemerintah dan organisasi masyarakat Islam. Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal Ramadan berdasarkan sidang isbat. Persis, NU, Muhammadiyah dan organisasi lain juga memiliki metode yang sudah diakui dan memiliki dasar hukum.
Kita boleh mengikuti keputusan yang sesuai dengan keyakinan kita, tetapi tetap menghormati dan menghargai adanya keputusan lain di luar sana.

Perbedaan demikian sudah berlangsung sejak lama dan setiap ormas telah saling menghormati serta toleran dengan sikap antar ormas Islam. Pemerintah juga menghormati ormas Islam dan umat Islam untuk menjalankan pemahaman keagamaannya berdasarkan ijtihad masing-masing, termasuk dalam memulai shaum Ramadan. Bagaimana pun, seperti candaan teman saya yang kerap banyak berbeda pandangan dengan teman saya yang lain, pada faktanya kita telah menyepakati bahwa shaum Ramadan dimulai pada 1 Ramadan, kalau Idul Fitri jatuh pada 1 Syawal! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *