Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”
KITA layak bersyukur karena saat ini kembali Allah pertemukan dengan bulan mulia, yaitu bulan Ramadan di tahun 1447 H. Pada Ramadan lalu, bisa jadi ada diantara keluarga, tetangga dan kolega kita yang kali ini sudah tak bisa bersama kita lagi karena menemui ajal kematiannya. Kita doakan semoga mereka mendapat jatah surga di sisi Allah. Sementara kita masih diberi kesempatan, yang mesti kita manfaatkan dengan baik untuk hal-hal yang bermanfaat.
Orientasi shaum Ramadan adalah takwa. Karena itulah standar kita di hadapan Allah. Allah berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. al-Hujurat: 13)
Ramadan adalah bulan shaum yang punya kandungan “imsak”, yaitu menahan, menjaga dan menghentikan. Maknanya, (1) kita mesti menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan shaum, (2) menjaga diri dari berbagai bentuk dosa dan maksiat, serta (3) mengehentikan berbagai aktivitas sia-sia, bahkan menghentikan aktivitas halal pada momentum tertentu sesuai dengan ketentuan syariat. Proses tersebut secara berangsur membuat kita menjadi pribadi yang kokoh dalam takwa, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
GeraTIS Ramadan
Dalam momentum Ramadan ini, secara praktis, takwa dapat diwujudkan dengan melakukan gerakan terencana dalam bentuk tiga hal, yang saya sebut dengan “Gerakan Tiga S Ramadan” (GeraTiS Ramadan), yaitu, pertama, saving (penghematan). Shaum mendidik kita untuk menjalani hidup hemat dan tidak boros. Makan dan minum yang biasanya terjadwal tiga kali sehari, dikurangi jadi hanya dua kali saja yaitu untuk berbuka dan sahur. Maknanya, kita dilatih untuk membatasi diri dari urusan dunia secara berlebih-lebihan.
Kedua, sharing (berbagi). Ramadan adalah momentum terbaik untuk berbenah diri, termasuk membersihkan diri dari sifat kikir, hingga menggapai derajat takwa. Orientasi takwa terimplementasi dalam bentuk amal saleh, termasuk yang berdimensi sosial. Karena itu, kita mesti berupaya untuk meningkatkan giat amal saleh yang berdimensi sosial pada sesama. Shaum melatih kita untuk giat berbagi, sesuai kemampuan kita. Berbagi tak mesti harta, tapi juga ilmu, perspektif dan motivasi ke arah yang lebih baik.
Bahkan dalam perspektif al-Quran, kita mesti itsar, yaitu berbagi pada sesama, walaupun kita sejatinya masih membutuhkannya. Hal ini seperti sifat unggul kaum Anshar saat berbagi dengan kaum Muhajirin pada era hijrahnya kaum Muhajirin. Ini adalah sifat sekaligus karakter unggul generasi terdidik di era itu. Allah berfirman, “Dan mereka (orang-orang Ansar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin), daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan memerlukan.” (QS. al-Hasyr: 9)
Ketiga, solidarity (solidaritas). Ramadan menjadi momentum untuk meningkatkan giat kita dalam hal solidaritas. Solidaritas tercipta dari rasa kepedulian yang tinggi pada sesama dan lingkungan sekitar. Peduli berkaitan dengan rasa perihatin dan simpati pada kondisi orang lain atau kejadian seperti bencana di tempat lain. Dalam bahasa lain, kita mesti empati yaitu daya “tidak tega” bila menyaksikan orang lain hidup dalam kesusahan dan kesulitan atau keterbatasan ekonomi dan sebagainya, lalu diikuti dengan tindakan nyata.
Takwa sebagai orientasi shaum Ramadan tidak hanya dimaknai kemampuan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, tapi juga melatih diri untuk lebih giat dalam saving, sharing dan solidarity. Takwa tidak cukup dimaknai hanya dalam dimensi spiritual semata, tapi juga dalam dimensi moral-sosial. Keunggulan takwa mesti dibentangkan secara luas pada aspek pemberdayaan dan kepedulian sosial. Singkatnya, takwa mesti mampu mengangkat derajat spiritual dan keberdayaan sosial dalam satu nafas yang sama. (*)






