Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Selamat Datang di Manggarai Barat”
Di sela-sela gegap gempita syukuran atau mungkin pesta di altar kota, ada sisi lain yang perlu ditengok. Apa itu? Jalan dan transportasi. Di pusat kota begitu ramai pamer jalan licin, tapi di sini masih nampak jalan sunyi, sepi dari aspal mahal. Kadang ingin marah, tapi itu hanya membuang waktu, tenaga dan kata-kata. Sebab respon lanjutan bisa ditebak: “nanti kita bereskan semuanya!”, “itu bukan kerja kami”, dan jawaban lainnya.
Fakta itu berbicara jujur. Ia tak tergoda memanipulasi dirinya oleh pesta janji, diksi pembelaan dan pidato manis. Fakta ya fakta. Ia tak tertipu oleh media yang kerap memuji lalu jadi pembela mereka yang dikasih mandat. Beginilah kondisinya, jalan rayanya masih menanti ulur tangan dan kebijakan nyata. Suatu saat jadi tol premium. Itu harapan dalam hati. Entah itu bakal jadi kenyataan atau tidak, terserah!
Tapi percayalah, bisa jadi itulah cara Tuhan mendidik kita agar lebih banyak bersyukur. Bersyukur atas jalan yang tersedia apa adanya. Tanpa aspal dan tanpa transportasi yang memudahkan. Jalan berlubang, bahkan bila hujan tiba, ia bagai sawah yang siap ditanami padi. Berbagai foto kerap ditebar, bukan untuk mencela, tapi untuk menghibur diri. Barangkali syair lagu tak cukup jago menyentuh hati. Atau sesekali menampar nurani. Semoga foto menggerakkan banyak hati!
Pertanyaannya, apakah karena jalan bagus lalu kita semakin akrab dengan Tuhan? Bisa ya, bisa tidak. Ini bukan sekadar tentang jalan, kebijakan para penggawa atau nurani pemangku kebijakan. Tapi ini tentang diri kita sendiri. Tentang hati yang terpaut dengan Sang Pencipta. Keterbatasan adalah momentum untuk perbanyak saldo syukur. Bersyukur atas apa yang telah ada. Mungkin terasa sakit, tapi sakit yang diselipi doa adalah kemuliaan.
“Mabar Bangkit, Mabar Mantap!” biarkan jadi mimpi mereka yang berwenang. Entah apalagi judul pesta yang kelak ditebar, terserah saja. 23 tahun adalah rekaman panjang tentang banyak hal. Tak perlu diungkap dan diumbar. Tapi ini lebih dari senyawa politis. Sejarah punya selera tersendiri untuk mewartakan secara jujur tentang semuanya. Tentang janji, tentang keadilan dan tentang semuanya. Sejarah bakal tiba dengan jutaan abjadnya.
Bersyukur itu sikap mulia. Sembari mengelus dada penuh harap: Tuhan tetap berbagi senyuman pada semua tanpa batas latar apapun. Menikmati yang ada itu kemuliaan. Sesekali mengeluh, itu wajar. Manusiawi saja. Lengkapi dengan menyusun bait doa, lalu kirimkan ke langit takdir. Hingga kelak sejarah menjadi saksi: semuanya berubah. Tapi ingat, pembangunan fisik bukanlah tujuan. Sebab manusia terdiri dari jiwa dan raga.
Sebelum zaman fasilitas mewah itu tiba, mari sejenak merenung tentang spiritual dan moral kita. Itulah pupuk bagi ruh kita. Fisik kita hidup tak lama, puluhan tahun saja. Sementara ruh adalah abadi adanya. Sekali lagi, di situlah letak pentingnya bersyukur atas apa yang ada. Sebagai manusia sekaligus warga negara, kita sangat boleh mengeluh dan mempertanyakan kebijakan. Bahkan pada posisi tertentu sudah sewajarnya begitu. Apalagi bila ada bau anyir korupsi.
Tapi ingat, manusia adalah manusia. Kurva normalnya sama saja. Sementara Tuhan punya caranya sendiri. Rayakan syukur dengan berbenah diri, peka pada situasi dan paham peta jalan selanjutnya. Jalan becek dan berlubang tanpa aspal adalah saksi dan bahan evaluasi. Tentang janji manis mereka yang duduk di kursi empuk di Kota Premium dan pemerataan pembangunan yang masih mencari takdirnya. Sejarah bakal tiba dan membuat kita terus tersenyum lebih manis dari hari ini, bahkan tanpa ada jalan raya beraspal sekalipun. (*)





