Oleh : Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh Nasional
Rabu 17 Desember 2025, dalam hitungan kalender masehi, Dr. Adian Husaini genap berusia 60 tahun. Bila dua dekade lalu, beliau kerap disebuat sebagai intelektual muda muslim, kini sebutan semacam itu sudah dianggap berlalu. Bila merujuk pada pemahaman sehari-hari kita, usia 60 tahun adalah usia tua. Usia yang sangat matang dalam hal pemikiran, pandangan dan sepak terjang.
Hari ini Rabu 17 Desember 2025 diadakan “Tasyakuran 60 Tahun Adian Husaini dan Diskusi Masa Depan Indonesia” secara online dengan peluncuran E-Book berjudul “Mengokohkan Peta Jalan Menuju Indonesia Emas 2045”. Keluarga, kolega dan teman dekat diundang untuk menghadiri acara yang sangat istimewa ini. Saya termasuk yang turut menghadiri acara ini.
Dr. Adian Husaini sendiri merupakan tokoh muslim yang sudah dikenal lama di level nasional bahkan internasional. Sepak terjangnya dalam dunia dakwah dan pergerakan Islam sudah tak bisa diragukan lagi. Beliau adalah pejuang dakwah yang merasakan asam garam perjuangan bersama para tokoh pejuang lintas generasi selama beberapa dekade belakangan ini.
Setiap kita tentu memiliki kesaksian dan catatan tersendiri perihal pemikiran, pemandangan dan sepak terjang Dr. Adian Husaini selama ini. Secara pribadi, sepengetahuan saya yang terbatas, bila menelisik sepak terjang Dr. Adian Husaini selama 22 tahun lebih, sejak awal berinteraksi pada tahun 2003 silam hingga saat ini, saya menemukan beberapa hal penting yang melekat pada sosoknya.
Pertama, berpijak pada wahyu. Dr. Adian Husaini adalah sosok yang selalu mendasarkan pemikiran dan sepak terjangan perjuangannya pada sumber pokok Islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Hal ini bisa kita pahami dari berbagai tulisannya, baik buku maupun artikel yang tersebar di berbagai media, termasuk media online.
Hal tersebut baik saat menjadi mahasiswa S1 (Kedokteran Hewan di Institut Pertanin Bogor), S2 (Hubungan Internasional di Pascasarjana Universitas Jayabaya) dan S3 (ISTAC-Internasional Islamic University of Malaysia) maupun saat menjadi pimpinan dan dosen di Program Doktoral Pendidikan Islam di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, Direktur at-Taqwa Coleg di Depok dan Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Jakarta.
Bila kita telisik, hampir tak ada tulisan Dr. Adian Husaini yang tidak mencantumkan ayat al-Qur’an atau al-Hadits. Pada puluhan buku karya beliau, misalnya, selalu mendasari ulasannya dengan sumber pokok ajaran Islam, yaitu Wahyu. Hal ini menjadi penegas bahwa Dr. Adian Husaini adalah sosok yang melekat dan menjadikan Islam sebagai tuntunan, bukan pajangan!
Kedua, meneladani para ulama dan ilmuan muslim. Dr. Adian Husaini adalah sosok tokoh yang selalu menjadikan para ulama sebagai teladan dan ilmuan muslim sebagai rujukan. Ada begitu banyak ulama dan ilmuan muslim yang selalu beliau kutip pada tulisannya atau pada saat memberikan ceramah dan seminar. Beliau begitu fasih menyebut nama-nama mereka. Baik ulama dan ilmuan muslim terdahulu maupun yang hidup di era di era ini.
Dr. Adian Husaini kerap mengutip pandangan, sikap dan sepak terjang Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanafi, Imam Ahmad, Imam al-Ghozali, Pak Mohammad Natsir, KH. Ahmad Surkati, KH. Agus Salim, Buya Hamka, KH. Zam-zam, Ustadz Ahmad Hasan, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, KH. Imam Zarkasyi, Ustadz Abdullah Said, Pak Husen Umar, KH. Aceng Zakaria, Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi dan ulama atau tokoh lainnya
Hal ini bisa kita baca pada buku-buku karya Dr. Adian Husaini. Kutipan pandangan para ulama dan ilmuan muslim lainnya juga terlihat jelas. Baik dalam meneguhkan pandangannya tentang sesuatu maupun dalam menjelaskan tema-tema yang sedang diulas. Beliau tentu melakukan itu sebagai pewarisan dan rasa bangga pada para ulama dan ilmuan muslim serta tokoh-tokoh tersebut, serta konsisten pada pemikiran atau pandangan yang rasional, lurus dan bertanggung jawab secara moral dan keilmuan.
Ketiga, konsisten pada perjuangan dakwah. Sejak usia pelajar hingga saat ini Dr. Adian Husaini aktif di berbagai organisasi pergerakan dan organsiasi berbasis massa Islam. Dr. Adian Husaini pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Bahkan saat ini menjadi Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (Dewan Da’wah). Sepak terjangnya sangat jelas dan menjadi inspirasi banyak orang, terutama kalangan muda muslim di Indonesia.
Sejak 1980-an hingga kini, Dr. Adian Husaini kerap memberi pencerahan berkaitan dengan berbagai pemikiran yang membingungkan umat Islam, sehingga harapannya mereka bisa kembali pada jalan kebenaran. Apa yang beliau jalani bukan dalam rangka membenci mereka yang menjadi pengasong pemikiran keliru yang telah lama merasuk pada pemahaman sebagian umat Islam, tapi justru sebagai wujud cinta pada mereka.
Dr. Adian Husaini memilih jalan semacam itu karena selalu sadar dan ingat betapa pentingnya dakwah yaitu saling mengajak pada kebenaran dan menjauhi kemungkaran, baik pada aspek pemikiran, lisan dan tindakan maupun kebijakan—bila menjadi pejabat publik. Dakwah bukan tugas ringan, karena itu mesti dijalankan dengan niat yang lurus, tekad yang kuat, penuh pengorbanan dan strategi yang jitu serta amal nyata.
“Kita hidup di dunia ini hanya sementara. Kita harus mengisinya pada hal-hal yang benar dan bermanfaat. Jadilah pejuang kebenaran, jangan kalah sama monyet,” ungkapnya suatu ketika.
Dengan demikian, sepak terjang Dr. Adian Husaini ini tidak “one man one show”, tapi selalu bersama dengan tokoh dan pejuang dakwah lainnya. Secara individu Dr. Adian Husaini sangat potensial dan memahami banyak hal bahkan berpengalaman dalam banyak hal. Namun beliau tetap memilih berjuang dalam satu barisan dengan para pejuang lainnya. Sehingga berbaris rapih, lebih kokoh dan memiliki dampak luas.
Keempat, aktif dan produktif menulis. Siapapun sangat mengenal bahwa Dr. Adian Husaini adalah penulis sekaligus tokoh nasional yang paling produktif menulis. Bahkan saya menyaksikan beliau salah satu Ketua Umum organisasi massa Islam yang sangat aktif menulis. Tidak heran bila artikel karyanya sudah ribuan jumlahnya, bahkan sebagiannya sudah diterbitkan menjadi beberapa judul buku.
Begitu juga buku karya beliau, sudah puluhan judul jumlahnya. Dicetak ribuan eksamplar dan dibaca oleh pembaca beragam latar belakang. Bahkan ada beberapa kenalan saya dari non muslim ikut membaca buku-buku beliau seperti buku Wajah Peradaban Barat yang terbit pertama kali pada tahun 2005 dan buku-buku lainnya.
Buku-buku karya Dr. Adian Husaini yang sudah saya miliki dan pernah baca, misalnya, Penyesatan Opini (2002), Tantangan Sekularisasi dan Liberalisasi di Dunia Islam (2004), Pragmatisme Dalam politik Zionis Israel (2004), Wajah Peradaban Barat (2005), dan Hegemoni Kristen – Barat Dalam Studi Islam Di Perguruan Tinggi (2006).
Berikutnya buku Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam (2009), Membendung Arus Liberalisme Di Indonesia (2009), KEMI: Cinta Kebebasan yang Tersesat (2010), Membangun Peradaban dengan Ilmu (2010), Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam (2013), Pluralisme Agama: Telaah Kritis Cendekiawan Muslim (2013), Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab (2015), dan Kerukunan Beragama dan Kontroversi Pengunaan Kata “Allah” Dalam Agama Kristen (2015).
Lalu buku 10 Kuliah Agama Islam (2016), Pendidikan Islam: Kompilasi Pemikiran Pendidikan (2018), dan Kiat Menjadi Guru Keluarga: Menyiapkan Generasi Pejuang (2019), Jangan Kalah Sama Monyet (2020), Islam dan Pancasila (2020), Mengenal Sosok dan Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud (2020), dan Perguruan Tinggi Ideal Era Disrupsi Pasca Covid-19: Konsep dan Aplikasinya (2020).
Berikutnya, buku Pemikiran dan Perjuangan M. Natsir dan Hamka dalam Pendidikan (2021), Rasional Tanpa Menjadi Liberal (2021), Bersama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Mewujudkan Indonesia Adil-Makmur 2045 (2021), 55 Tahun Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia – 1967 – 2022 (2022), Beginilah Pendidikan Nasional yang Ideal: Konsep, Aplikasi, Tantangan dan Solusinya (2022), Mohammad Natsir: Negarawan, Guru, Dai Teladan (2025) dan masih banyak buku lainnya.
Kelima, perekat dan penjaga ukhuwah islamiyah umat Islam. Dr. Adian Husaini dikenal sebagai tokoh yang akrab dengan semua kalangan, terutama organsiasi massa Islam. Beliau akui ada perbedaan pandangan dan sikap dalam beberapa hal, namun hal itu tidak menghilangkan sikap saling percaya antar sesama umat Islam. Di samping itu tentu untuk tetap menjaga ikatan dan merekatkan hubungan ukhuwah islamiyah antar sesama umat Islam.
Dalam banyak kesempatan Dr. Adian Husaini selalu mengingatkan betapa tegas perbedaan pandangan dan sikap para ulama di era terdahulu, terutama para tokoh muslim masa kemerdekaan. Mereka sangat kokoh pada pandangan juga sikapnya. Tapi mereka tetap menghargai secara sadar dan berlapangn dada pandangan dan sikap tokoh yang lainnya. Perdebatan yang begitu panas di banyak forum formal pun tak membuat mereka menghapus saling mencintai sesama tokoh dan umat Islam.
Perbedaan para tokoh tidak menghilangkan misi besar mereka untuk menyebarkan Islam dan ajarannya kepada masyarakat di berbagai penjuru, termasuk di birokrasi dan pemerintahan. Betul ada saja perbedaan pandangan dan sikap, bahkan ada saja kekurangan dan kelemahannya; namun hal itu tidak membuat mereka kehilangan sikap mulia untuk menghargai capaian para tokoh terdahulu. Itu merupakan teladan yang harus kita ikuti dan teladani kini dan nanti.
“Kalau kita belum sampai pada titik seratus, jangan sampai kita melupakan capaian yang sudah kita peroleh pada titik sekarang ini,” ungkapnya suatu ketika.
Keenam, menjadi ayah dan pendidik hebat. Dr. Adian Husaini adalah sosok yang aktif mendidik anak-anaknya dalam banyak hal. Beliau mengarahkan mereka untuk menjadi pejuang, termasuk melalui dunia pendidikan. Bahkan beliau mengajak anak-anaknya untuk berkarier di dunia pendidikan, terutama pesantren.
Selain itu, Dr. Adian Husani juga aktif mengajar di perguruan tinggi. Beliau pernah mengajar di pascasarjana Universitas Indonesia, aktif menjadi peneliti di INSISTS, dan menjadi pimpinan dan dosen di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Selain itu, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, aktif sebagai Direktur at-Taqwa Coleg di Depok, Peneliti di INSISTS dan Senat Sekoilah Tinggi Ilmu Dakwah Mohamad Natsir.
Dalam beberapa kesempatan yang saya hadiri, Dr. Adian Husaini kerap mengingatkan bahwa salah satu medan amal yang memiliki pahala dan dampak besar adalah menjadi pendidik, baik guru maupun dosen.
“Kalau kita menjadi guru atau pendidik seperti dosen, lalu rajin berdoa, peluang dikabulkan oleh Allah jauh lebih besar,” ungkapnya.
Suami dari Ibu Megawati dan ayah dari M. Syamil Fikri, Bana Fatahillah, Dina Farhana, Fatiha Aqasha Kamila, Fatih Madini, Alima Pia Rasyida dan Asad Hadhari ini telah menorehkan berbagai kebaikan yang layak kita tiru. Beberapa hal yang saya sebutkan di atas hanyalah sebagian saja yang melekat pada Dr. Adian Husaini, yang dapat saya jangkau.
Ada banyak hal lain yang masih bisa diungkap oleh mereka yang lebih dekat dan telah lama berinterkasi dengan sosok yang akrab dengan pemikiran dan sepak terjang Pak Mohammad Natsir, Prof. Syed Mohamad al-Naquib al-Attas dan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud ini.
Dr. Adian Husaini lahir di Bojonegoro, Jawa Timur pada 17 Desember 1965, bertepatan dengan 24 Jumadil Akhir 1385 Hijriyah. Hari Rabu 17 Desember 2025 bertepatan dengan tanggal 26 Jumadil Akhirah 1447 Hijriyah, genap berusia 60 tahun atau dalam hitungan hijriyah genap berusia 62 tahun. Usia yang cukup matang dalam banyak hal. Sepak terjangnya layak dijadikan teladan dan inspirasi bagi kita semua, terutama kalangan muda muslim dalam meniti jalan hidup dan perjuangan.
Barakallah dan sukses selalu untuk Dr. Adian Husaini dan keluarga. Semoga seluruh pengalaman, sepak terjang dan karyanya menjadi jariyah dan saksi terbaik di hadapan Allah akan kesungguhannya dalam berjuang di jalan Allah. Kami mendoakan mudah-mudahan seluruh karyanya menginspirasi banyak orang, sehingga tersadarkan dan tergerak untuk menjadi orang baik yang aktif menjalankan kebaikan dan mengajak orang ke jalan kebaikan yang Allah ridhoi dan berkahi! (*)






