Opini

62 Tahun IMM; Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia

10
×

62 Tahun IMM; Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia

Share this article
IMG 20260314 WA0015
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Departemen Pendidikan Karakter Majelis Pengurus Pusat ICMI 2025-2026

SABTU 14 Maret 2026, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) genap berusia 62 tahun. Organisasi mahasiswa yang dinaungi oleh persyarikatan Muhammadiyah ini didirikan pada 14 Maret 1964 silam. Tema milad kali ini adalah “Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia”. Milad adalah momentum refleksi perjalanan organisasi yang telah melahirkan banyak intelektual, pemimpin, serta tokoh bangsa selama lebih dari enam dekade.

Modal dan Usulan Agenda untuk IMM

Usia 62 tahun bukanlah usia muda, ini adalah usia matang untuk sebuah organisasi mahasiswa. IMM telah menunaikan tugas sejarah penting bagi kemajuan umat dan bangsa dengan melahirkan para tokoh penting dari tingkat lokal hingga nasional bahkan internasional. Sepak terjang IMM, termasuk para alumninya, pada aspek wacana dan pencerahan publik tak diragukan lagi. Berbagai lembaga atau institusi negara, perguruan tinggi, birokrasi, partai politik, dan lembaga sosial negeri ini hampir tak kosong dari alumni IMM.

Bila ditelisik, ada tiga modal penting yang dimiliki oleh IMM, yang sejak dulu hingga kini masih terjaga dengan baik. Pertama, religiusitas. Sebagai organisasi mahasiswa yang dinaungi oleh persyarikatan Muhammadiyah tentu aspek religiusitas bukan hal asing dalam relung pergerakan IMM. Namun demikian, religiusitas tidak cukup pada aspek simbolik semata, ia mesti berdampak pada ranah peran sosial. Nilai-nilai religius mesti berdampak dan nampak pada moral pergerakan dan laku kader saat menjabat di lembaga dan institusi apapun.

Kedua, intelektualitas. IMM berbasis pada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Baik perguruan tinggi dalam kategori Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) maupun perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya yang non AUM. Mahasiswa akrab dengan tradisi akademik yang tercermin dalam kualitas intelektual. IMM tentu tidak cukup membicarakan gagasan, tapi mesti mewujudkan gagasannya menjadi laku pergerakan dan berkontribusi pada penyelesaian masalah umat juga bangsa.

Baca Juga :  Teknologi, Guru dan Masa Depan Indonesia

Ketiga, humanitas. IMM adalah organisasi manusia yang berwajah mahasiswa. Religiusitas dan intelektualitas umumnya cenderung melekat pada tubuh kader dan organisasi. Dalam rangka refleksi dan melompat ke masa depan, maka dua modal tersebut mesti mampu diejawantah dalam skala kemanusiaan yang lebih konkret. Humanitas akan menjadi relevan bila ia benar-benar dimanifestasikan dalam bentuk pencerahan, advokasi ril dan kegiatan yang berdampak juga nampak.

Dalam rangka mengkombinasikan tiga modal tersebut dan mengisi detik-detik sejarah selanjutnya, ada baiknya IMM menginisiasi pembentukan lembaga riset yang mengkaji dan meneliti berbagai isu keumatan dan kebangsaan seperti yang berkaitan dengan isu primer kewargaan seperti kemiskinan, kesejahteraan, diskriminasi, kriminalisasi dan penyakit sosial maupun kebijakan pemerintah dalam beragam agenda. Termasuk isu penegakan hukum, korupsi dan kepemimpinan politik yang belakangan ini kerap bermasalah.

Di samping itu, IMM juga punya peluang untuk menghidupkan geliat internasionalisasi pergerakan IMM. Alumni IMM yang melanjutkan pendidikan dan bertugas di luar negeri jumlahnya tak sedikit. Ini adalah modal sosial yang cukup besar. Pada saat yang sama, IMM sangat memungkinkan berperan lebih pada percepatan agenda internasionalisasi Muhammadiyah. Hal ini bisa dikombinasikan dengan lembaga atau struktur terkait di PP Muhammadiyah, di samping pemanfaatan jaringan global IMM selama ini.

Dalam rangka memajukan dunia pendidikan Indonesia, terutama dalam melahirkan manusia unggul baru penguatan inovasi, menuju Indonesia Emas 2045, IMM perlu berkolaborasi dengan kementrian terkait seperti (1) Kementrian Pendidikan Dasar dan Mencegah, (2) Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, (3) Kementrian Pemuda dan Olahraga, (4) Kementrian Komunikasi, Digitalisasi dan Informasi juga kementrian dan atau lembaga lainnya.

Secara khusus, IMM secara berkala perlu melakukan evaluasi terhadap sepak terjang kader atau alumninya dalam hal kasus hukum. IMM harus memastikan diri, baik kader dan organisasinya, tidak tersangkut kasus korupsi. Musuh besar bangsa ini adalah korupsi. Berbagai kasus korupsi yang menjerat para pejabat tingkat pusat dan daerah belakangan ini adalah alaram dan pengingat bagi IMM untuk memperkuat benteng moral dan integritas, sehingga tidak tersangkut korupsi seperti yang dialami oleh organsiasi lain di luar sana.

Baca Juga :  Marhaban Yaa Ramadan

Kontribusi dan kekaryaan IMM selama 62 tahun yang telah lewat adalah saksi sejarah bahwa IMM tidak sibuk dengan dirinya sendiri, tapi punya peran dalam menjaga moral dan memajukan umat juga bangsa di berbagai lini. Sebagai bagian dari elemen muda Muhammadiyah di lingkup mahasiswa, IMM mesti terus mendayung atau bergerak, agar terus menjadi arus utama pergerakan mahasiswa, sehingga eksistensi dan peranannya semakin berdampak juga nampak. Sungguh, sejarah masih bersama IMM. Jangan titipkan sejarah pada siapapun! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *