Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh
BERDAKWAH adalah tanggungjawab kita sekaligus kebutuhan hidup kita. Berdakwah artinya mengajak manusia kepada Islam sehingga mampu menjalankan perintah Islam dan menjauhi larangannya. Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf/12: 108)
Pada era ini tantangan dakwah sangat banyak, baik yang berasal dari internal maupun dari eksternal. Secara khusus, tantangan eksternal misalnya munculnya ajaran sesat dan menyesatkan, informasi hoaks dan berbagai pemikiran yang menyimpang seperti mencampuradukan ajaran Islam dengan budaya asing yang buruk. Adapun yang berasal dari internal seperti enggan mendalami sumber ajaran Islam, malas menjalankan ajaran Islam dan sikap kasar pada sesama.
Islam adalah agama risalah yang bermakna sumber dan ajarannya berasal dari Allah yang disampaikan para utusan-Nya kepada umat manusia untuk diikuti dan didakwakan. Tugas kita era ini adalah melanjutkan amanah para rasul itu kepada umat manusia. Itulah yang disebut dengan dakwah atau berdakwah. Berdakwah mesti dijalankan dengan cara-cara yang baik dan hati-hati. Bukan dengan cara-cara sembrono dan tak beradab. Dan berdakwah bukan memaksakan keyakinan, sebab petunjuk adalah hak Allah semata, bukan hak kita.
Langkah Praktis
Pertama, berdakwah itu merangkul, bukan memukul. Sebagai muslim, kita punya kewajiban untuk mengajak siapapun pada jalan Islam. Aktivitas dakwah yaitu amar maruf nahi mungkar adalah amanah risalah. Ia adalah tugas para utusan Allah yang mesti kita wariskan. Kita menjalankan dakwah bukan agar orang mengikuti kita, tapi kembali pada jalan Allah dan wahyu-Nya. Caranya adalah merangkul orang dengan tulus, bukan memusuhi atau memukul.
Kedua, berdakwah itu mengajak, bukan mengejek. Di era media yang menjamur kita dapat menyaksikan berbagai konten yang kerap mengejek. Tak sedikit diantara kita yang hobi mengejek daripada mengajak. Padahal kewajiban kita adalah mengajak manusia kepada jalan yang benar, bukan mengejek. Ajakan yang baik akan menarik bagi siapapun untuk merasakan nikmatnya kebaikan Islam. Itulah berkah dari proses dakwah yang mengedepankan ajakan.
Ketiga, berdakwah itu membina, bukan menghina. Dakwah juga adalah upaya membina diri dan siapapun agar berkomitmen pada Islam. Kita mesti memiliki semangat untuk meningkatkan kualitas diri dengan cara membina diri sehingga bertambah yakin pada Islam dan lebih giat untuk menjalankan ajarannya. Bila kita terbiasa membina diri maka kita punya daya tarik untuk membina orang lain. Tentu bulan dengan cara menghina siapapun.
Keempat, berdakwah itu memberi cerah, bukan memecah belah. Dakwah Islam adalah dakwah yang mencerahkan dan menyatukan. Sebab Islam bersumber kepada al-Quran dan al-Hadits yang mulia dan mencerahkan untuk tujuan menyatu pada jalan Islam. Dua sumber pokok tersebut, tentu ditambah dengan ijma’ dan qiyas, menjamin kita untuk berjalan pada jalan yang benar. Karena itu, dakwah yang kita lakukan mesti mencerahkan, bukan menimbulkan kegerahan dan pecah belah.
Kelima, berdakwah itu menebar kebaikan, bukan kebencian. Dakwah adalah jalan suci, maka tak pantas bagi kita untuk menyebar Islam dengan cara-cara culas. Islam hadir dan mesti dihadirkan dengan cara-cara yang pantas. Sebab bila dengan cara yang keliru justru hanya menimbulkan antipati. Membenci kebodohan, kemungkaran dan kemaksiatan itu wajar. Tapi caranya mesti dengan cara santun dan menyentuh hati, bukan membabi buta dan sibuk memproduksi benci.
Keenam, berdakwah itu memberi rasa aman, bukan memberi ancaman. Dakwah yang baik adalah dakwah yang memberi rasa aman pada siapapun. Jangan kan mereka yang baik, mereka yang jahat pun mesti merasa aman dan nyaman dengan dakwah yang kita jalani. Dakwah yang selalu mengedepankan ancaman bakal menimbulkan sikap antipati dari siapapun. Kenyamanan orang pada dakwah yang kita jalankan akan memungkinkan dakwah bertumbuh, berdampak dan maju.
Ingat, dakwah itu bukan menambah jumlah kelompok tanpa perbaikan kualitas. Dakwah itu bukan mengumpulkan massa agar suatu saat dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok yang bersifat sesaat dan jangka pendek. Berdakwah bukan untuk tujuan dunia dan materi. Berdakwah adalah jalan suci yang mesti diniatkan dan diorientasikan pada kesucian Islam. Keteladanan diri adalah modal yang mesti dimiliki, sehingga berdakwah bukan berhenti pada kata-kata, tapi mewujud dalam aksi nyata, dalam kehidupan sehari-hari kita sendiri. (*)






