Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku Pendidikan Ramadhan
SHAUM Ramadhan merupakan salah satu rukun dari lima rukun Islam. Ia adalah satu shaum wajib yang kita tunaikan pada bulan Ramadhan. Shaum ini merupakan kewajiban bagi orang beriman yang memenuhi syarat tertentu yang diatur oleh syariat Allah dan rasul-Nya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga siapapun yang hendak menjalankannya mampu memenuhi standar syariat sebagai sebuah ibadah wajib.
Para ulama menjelaskan bahwa shaum wajib pada Ramadhan memiliki posisi dan dampak khusus yaitu mendapatkan ampunan dari Allah, lebih khususnya dosa-dosa yang telah berlalu. Dalam rangka menggapai shaum yang berkualitas sekaligus berdampak ganda, tentu diperlukan syarat tertentu. Syarat tersebut memiliki posisi dan peranan penting bagi siapapun yang menunaikan ibadah shaum Ramadhan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa bershaum di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa beribadah (menegakkan atau menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari dua hadits tersebut dijelaskan bahwa ada dua syarat yang mesti diperhatikan agar shaum berdampak ganda. Pertama, beribadah karena iman. Kunci utama ibadah shaum Ramadhan adalah iman. Karena memang yang dipanggil untuk beribadah shaum Ramadhan adalah orang beriman. Maksudnya, kita beribadah karena percaya pada Allah bahwa Ia satu-satunya Zat yang layak disembah, bukan selain-Nya.
Kedua, beribadah karena penuh perhitungan. Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah kita beribadah karena paham tata caranya. Dalam Islam, tata cara ibadah itu sudah ditentukan oleh Allah seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada para sahabatnya. Di samping itu, kita beribadah dengan satu keyakinan bahwa Allah bakal menerimanya sekaligus percaya bahwa Allah bakal membalasnya.
Kata “qooma” (“menegakkan atau menghidupkan” Ramadhan pada hadits di atas menunjukan bahwa ibadah shaum yang kita lakukan akan sempurna dan berdampak manakala dilengkapi dengan ibadah lainnya seperti shalat tarawih, tilawah al-Qur’an, bersedekah dan beramal soleh lainnya. Insyaa Allah bila memenuhi dua syarat tersebut maka ibadah Ramadhan yang kita lakukan berdampak ganda, yaitu diampuninya dosa-dosa yang sudah berlalu sekaligus menggapai derajat taqwa. (*)






