Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku ‘Kang Dedi Mulyadi: Memimpin dengan Hati”
A politician needs the ability to foretell what is going to happen tomorrow, next week, next month, and next year. And to have the ability afterwards to explain why it didn’t happen: Seorang politikus perlu memiliki kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi besok, pekan depan, bulan depan, dan tahun depan. Dan memiliki kemampuan untuk menjelaskan mengapa hal itu tidak terjadi setelahnya. (Winston Churchill).
Tak ada yang keliru bila kaum muda masuk politik. Dwi Tunggal Soekarno dan Mohammad Hatta (Bung Karno dan Bung Hatta) ketika memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dari penjajah pada 17 Agutus 1945, masih berusia di bawah 45 tahun. Bila Bung Karno yang kelahiran 1 Juni 1901 saat itu berusia 44 tahun, sementara Bung Hatta yang kelahiran 12 Agustus 1902 masih berusia 43 tahun.
Hal ini mempertegas bahwa justru generasi muda sangat dibutuhkan menjadi penggerak untuk memajukan bangsa dan negara ini. Mereka diharapkan memiliki visi dan misi perubahan besar yang lebih baik untuk masa depan. Termasuk dalam konteks politik daerah atau lokal.
Tak sedikit tudingan bahwa politik itu kotor. Padahal politik pada dasarnya tidak kotor. Disebut kotor, karena tindak tanduk kotor sebagian politisi. Makanya, generasi muda hadir dan perlu memberikan pembaruan dan perubahan signifikan dalam bentuk tindakan nyata.
Namun demikian, terjun ke dunia politik itu tidak mudah. Di sini dibutuhkan komitmen ideologi, kesungguhan dalam berjuang dan tindak nyata dalam membela masyarakat. Bahkan terjun ke jalur politik berati kesiapan diri untuk menghadapi berbagai hambatan dan tantangan yang merusak keutuhan bangsa dan negara tercinta.
“Mencalonkan diri untuk jabatan politik berarti mengambil langkah menuju hal-hal yang tidak diketahui,” tulis Vince Cable dalam buku “How To Be a Politician” (2022).
Vince terkenal sebagai pemimpin partai politik Demokrat Liberal 2017-2019. Kenyang pengalaman di parlemen dan pernah masuk kabinet PM Inggris David Cameron sebagai Menteri Perdagangan (Secretary of State for Business and Trade).
Kehadiran politisi muda di panggung politik memang memiliki dampak tersendiri. Selain sebagai wadah pematangan potensi diri, politik juga menjadi medan aktualisisi kemampuan diri dalam hal jaringan, birokrasi dan kepemimpinan.
Dinamika politik pun kadang berlangsung sangat cepat, maka setiap orang “menuju pada hal-hal yang tidak diketahui”. Oleh karenanya, dalam buku barunya itu, Vince mengutip pendapat mantan Perdana Menteri Inggris John Major era 90-an: “Persyaratan pertama dalam politik bukanlah kecerdasan atau stamina, melainkan kesabaran. Politik adalah permainan jangka panjang dan kura-kura biasanya akan mengalahkan kelinci.”
Ya, berpolitik mesti siap sedia untuk menghadapi berbagai tantangan dalam bentuknya, yang membutuhkan kesabaran yang tinggi, lebih dari kecerdasan dan staminta berpolitik. Sebab panggung politik selalu menyediakan pertarungan sengit dan panjang.
Memimpin demgan Hati
Memimpin itu adalah bekerja dengan orang lain untuk meraih sesuatu tujuan bersama. Bekerja dengan orang lain mengharuskan setiap pemimpin memiliki kemampuan mempengaruhi masing-masing orang agar mau menunaikan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikannya. Manakala semua orang mau bekerja maksimal, maka tugas pemimpin sebenarnya telah selesai.
Namun pada kenyataannya, menggerakkan orang tidak selalu mudah, sehingga tidak sedikit pemimpin mengalami kesulitan. Sebaliknya, juga sering terdengar para bawahan mengeluhkan perilaku pemimpinnya sendiri. Para bawahan merasa tidak mudah menyesuaikan diri dengan perilaku atasannya. Dalam keadaan seperti ini, iklim organisasi menjadi tidak menyenangkan, baik pemimpinnya maupun bawahan yang dipimpin.
Menurut Prof. Imam Suprayogo (2015), jika dipelajari, para pemimpin di dalam menggerakkan bawahannya menggunakan nafsu, akal, atau hati nuraninya. Ketiga hal tersebut dijadikan piranti untuk menggerakkan orang lain. Akan tetapi dari ketiga piranti yang dimaksudkan itu masing-masing orang berbeda kecenderungannya. Ada seorang pemimpin yang tampak lebih mengedepankan emosonya, atau akalnya, dan juga hati nuraninya.
Seorang pemimpin yang ketika menghadapi problem cepat marah, maka jelas bahwa yang bersangkutan lebih mengedepankan emosi. Pemimpin seperti itu menjadikan anak buahnya bekerja oleh karena terpaksa atau karena takut. Mereka bekerja bukan oleh karena menyenangi pekerjaannya, melainkan oleh karena takut terkena marah. Suasana kerja seperti ini menjadikan orang bekerja karena terpaksa, serba khawatir, dan biasanya sulit diharapkan menghasilkan sesuatu yang berkualitas.
Berbeda dengan pemimpin yang selalu mengedepankan emosi adalah mereka yang mengutamakan akalnya. Pemimpin yang mengedepankan akal biasanya lebih rasional dan juga kalkulatif. Hubungannya dengan para bawahannya diukur dengan standar tertentu. Apa saja diukur secara matematik atau untung rugi. Beban kerja dihitung dan disesuaikan dengan upah yang dibayarkannya. Tatkala terdapat orang yang tidak produktif, maka tidak perlu ditegur dan apalagi dimarahi, tetapi cukup dipindahkan pada bagian lain atau dikeluarkan.
Hubungan yang bersifat manusiawi dengan para anak buahnya bagi pemimpin rasional tidak bisa dirasakan. Manusia diperlakukan bagaikan mesin. Sebagai sebuah mesin, maka setiap orang dianggap bisa diukur atau dikalkulasi produk atau hasil kerjanya. Pemimpin seperti ini tidak terlalu melihat manusia sebagai makhluk yang unik dan berdimensi luas. Manusia diperlakukan bagaikan barang dan bisa diatur sebagaimana yang dimaui oleh pemimpinnya.
Pemimpin rasional menggerakkan anak buahnya dengan peraturan atau jumlah imbalan yang diberikan. Mereka mengira bahwa dengan peraturan dan atau uang, semua orang bisa digerakkan. Pemimpjn seperti itu tidak membayangkan bahwa manusia memiliki dimensi psikologis yang juga menuntut dipuaskan. Pemimpin yang lebih mengedepankan rasio itu biasanya menggunakan pendekatan formal dan kalkulatif sebagaimana disebutkan sebelumnya.
Terakhir yaitu pemimpin yang mengedepankan hati nurani. Pemimpin seperti ini lebih melihat manusia sebagai makhluk yang berdimensi luas dan harus didengarkan suaranya. Pemimpin yang lebih mengedepankan hatinya, maka biasanya menjadikan siapa saja yang dipimpin bekerja secara ikhlas, menyenangkan, dan mengikuti suara nuraninya masing-masing. Hubungan antara pekerja atau bawahan dengan pemimpinnya bagaikan antara ayah dan anak. Di antara mereka saling mengormati, menyayangi, menghargai, dan saling menjaga.
Jika diilustrasikan di antara ketiga jenis pemimpin dimaksud adalah bahwa pemimpin yang mengedepankan emosinya biasanya cepat marah dan oleh karena itu tangan dan telunjuknya dijadikan alat untuk menggerakkan orang. Sementara itu pemimpin yang mengepankan akalnya, seringkali tampak bahwa tangannya digunakan untuk memegang dahi dan atau kepalanya. Sedangkan pemimpin dengan menggunakan hati, tangannya lebih sering digunakan untuk memegang dadanya. Mereka berusaha bersikap lembut oleh karena berpandangan, justru dengan kelembutan itu orang menjadi bersemangat bekerja.
Buku untuk Kang Dedi Mulyadi
Sebagai warga Jawa Barat, sejak 2002 hingga saat ini, asal Cereng, Desa Golo Sengang, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, saya menulis buku khusus untuk Kang Dedi Mulyadi, judulnya “Kang Dedi Mulyadi; Memimpin dengan Hati”. Sebuah upaya mengulas tentang sosok politisi yang pada usia 28 tahun sudah menjabat sebagai Anggota DPRD Purwakarta periode 1999-2004. Namanya H. Dedi Mulyadi, SH., MM., akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) atau Kang Dedi.
Saya berupaya mengulas secara singkat perihal profil dan sepak terjang Kang Dedi yang sudah merasakan pahit-manis di jalur politik selama puluhan tahun. Baik saat bergabung dengan Partai Golkar maupun kini saat bergabung dengan Partai Gerindra. Baik saat menjadi Anggota DPRD Purwakarta dan DPR RI maupun saat menjadi Wakil Bupati dan Bupati Purwakarta, hingga kini menjadi Gubernur Jawa Barat.
Bagi saya, Kang Dedi adalah sosok politisi sekaligus pemimpin yang rasional namun selalu menjadikan hati nuraninya sebagai pijakan dalam memutuskan sesuatu kebijakan dan menjalankan kepemimpinannya. Mengafirmasi Prof. Imam Suprayogo, tangan Kang Dedi lebih sering digunakan untuk memegang dadanya. Ia berusaha bersikap lembut oleh karena berpandangan, justru dengan kelembutan itu orang menjadi bersemangat bekerja.
Walau demikian, Kang Dedi juga bisa tegas bahkan murka bila menyaksikan kondisi yang sudah tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Namun “gemes-nya” Kang Dedi tidak dibangun oleh emosi yang meluap-luap, tapi oleh kesadaran penuh yang berpijak pada hati nurani yang tulus. Ketulusan itulah yang membuatnya didukung dan dicintai oleh banyak orang. Bukan saja masyarakat Jawa Barat tapi juga masyarakat Indonesia di berbagai kota atau daerah.
Buku ini saya ramu dari tulisan dan pemberitaan tentang Kang Dedi di berbagai media terutama media online, youtube dan media sosial lainnya. Di samping itu, juga video rekaman saat Kang Dedi diundang sebagai narasumber di TV. Termasuk saat saya bertemu langsung dengan Kang Dedi di berbagai momentum seperti forum diskusi, seminar dan sebagainya.
Untuk memudahkan saya dalam penulisan sekaligus pembahasan, saya sengaja membaginya ke dalam tiga bab. Bab I tentang masa kecil dan latar keluarga. Bab II tentang rekam jejak pendidikan, organisasi dan karier politik. Dan Bab III tentang gagasan, kepedulian dan kepemimpinan.
Tentu apa yang saya lakukan ini belum meng-cover seluruh apa yang Kang Dedi lakukan selama ini. Namun demikian, upaya sederhana ini bisa menjadi pemantik sekaligus pendorong bagi para politisi di partai apapun termasuk di Partai Gerindra agar lebih giat mempublikasi kegiatannya ke berbagai media massa, media online dan media sosial.
Secara khusus buku ini saya hadirkan sebagai kado sepesial untuk Kang Dedi yang pada Sabtu 11 April 2026 genap berusia 55 tahun. Kang Dedi sendiri lahir di Subang, Jawa Barat pada Ahad 11 April 1971 silam. Saya mendoakan mudah-mudahan Kang Dedi selalu mendapat bimbingan, kekuatan dan keberkahan dari Allah, sehingga mampu menjalankan amanah berat sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2025-2030.
Sekadar berbagi inspirasi, buku ini saya tulis selama empat hari (Selasa-Jumat, 25-28 Maret 2025). Walau di tengah suasana sekaligus sedang menjalankan ibadah shaum Ramadan 1446 H, saya menjalaninya dengan penuh semangat dan riang gembira. Kemudian melakukan sedikit perbaikan pada Ramadan 1447 H, sekitar akhir Maret 2026.
Jujur saja, saya nikmati aktivitas ini sebagai apresiasi pada sosok tokoh yang dibahas, yaitu Kang Dedi. Di samping itu, juga sebagai upaya mewariskan bacaan untuk anak-anak saya dan generasi muda Indonesia serta sumbangsih literasi bagi Indonesia yang pada 17 Agustus 2045 nanti genap berusia 100 tahun atau satu abad.
Saya percaya suatu saat saya bisa mengenang bahwa saya pernah menulis dan menebar manfaat bagi siapapun yang jatuh cinta pada buku dan giat menjemput inspirasi kehidupan kepada siapapun, di manapun dan kapanpun. Saya optimis apa yang saya hadirkan ini bermanfaat bagi banyak orang, termasuk bagi Kang Dedi dan keluarganya, insya Allah.
Terima kasih banyak saya sampaikan kepada Kang Dedi yang selalu menginspirasi agar saya dan keluarga terus berkarya untuk kemajuan Jawa Barat, minimal dari sisi literasi. Dalam berbagai momentum Kang Dedi selalu menyampaikan kepedulian yang tinggi kepada dunia yang saya tekuni yaitu literasi terutama kepenulisan.
Saya akui bahwa buku ini sangat sederhana, dari segi isi dan kemasan maupun dari diksi dan penyusunannya. Namun saya mesti melakukan ini agar setiap lakon baik termasuk yang diperankan oleh Kang Dedi selama ini tetapi terdokumentasi dengan baik, sehingga bisa menjadi inspirasi bagi siapapun untuk terus melakukan kebaikan bagi siapapun dan kapanpun. (*)






