Opini

Di Manakah Tingkatan Shaum Kita?

13
×

Di Manakah Tingkatan Shaum Kita?

Share this article
IMG 20260304 WA0024
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh

PADA Selasa 24 Februari 2026 lalu, saya menghadiri rangkaian shalat tarawih di Masjid Maslicha yang berada di kompleks Perumnas Bumi Arum Sari, Talun, Cirebon, Jawa Barat. Pada kegiatan ini yang didaulat menjadi pemberi ceramah kuliah tujuh menit atau kultum adalah Bapak Gailh Alamsyah, S.Pd., dengan materi berjudul “Tiga Tingkatan Shaum; Sudah Sampai Mana Kita?”

Mengawali, penceramah menjelaskan bahwa istilah shaum berasal dari akar kata as-shiyam atau as-shaum yang berarti menahan. Pada kesempatan ini penceramah mengutip Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazi, yang dikenal Ibnu Qasim al-Ghazi.

Ibnu Qasim al-Ghazi dalam kitabnya “Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfadzit Taqrib” yang akrab dikenal Fathul Qorib Al-Mujib, menjelaskan bahwa shaum artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan shaum (khususnya makan, minum, dan hubungan seksual), dilakukan dari terbit fajar shadiq hingga terbenamnya matahari, disertai dengan niat.

Penceramah mengingatkan kembali kepada kita untuk selalu meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah yaitu kita terus istikomah dan menunaikan semua kewajiban serta meninggalkan semua larangan-Nya. Dengan takwa itu artinya kita sedang mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Karena pada hakikatnya dunia adalah tempat kita menanam, sedangkan akhirat adalah tempat kita untuk memanen.

Namun perlu kita syukuri bahwa dengan shaum di bulan Ramadan ini kita tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi kita juga melatih kesabaran, keikhlasan dan kedisiplinan dalam menjalankan perintah Allah. Sebab inilah sebagai spirit dan tujuan shaum itu sendiri yaitu meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Hal itu sudah menjadi maklum bagi kita dan sudah djeaskan oleh para ulama bedasarkan firman Allah dalam al-Qur’an. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183 Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, telah diwajibkan atas kalian ber-shaum sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

Baca Juga :  Jaga Lisanmu, Tangisi Dosamu!

Tingkatan Shaum

Setiap orang yang shaum di Ramadan ini memiliki pemahaman, cara dan pelaksanaan yang berbeda-beda. Ada yang sekadar menahan dii dari makan dan minum, ada juga yang menahan ucapan dengan tidak berkata kotor, menahan mata untuk tidak melihat sesuatu yang dilarang oleh agama. Ada pula yang benar-benar menjadikannya sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah.

Penceramah pun mengutip penjelasan Imam al-Ghazali, dalam kitab “Ihya’ Ulumuddin”. Dalam kitab yang sangat mashur di kalangan umat Islam ini, Imam al-Ghazali membagi tingkatan shaum menjadi tiga, yaitu: (1) shaum awam (umum), (2) shaum khusus, dan (3) shaum paling khusus (khususil khusus). Lebih lengkapnya, kita bisa baca dalam “Ihya’ Ulumuddin” Jilid II, Syirkat Al-Quds, Al-Qaherah.

Pertama, shaum umum yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari fajar hingga magrib. Fokusnya hanya pada pemenuhan syarat sah shaum secara lahiriah.

Kedua, shaum khusus yaitu menahan perut dan kemaluan, serta menjaga panca indra (mata, telinga, lisan, tangan, kaki) dari perbuatan dosa dan maksiat.

Ketiga, shaum palung khusus yaitu shaumnya hati dari keinginan duniawi, pikiran rendah, dan menjaga hati sepenuhnya dari segala sesuatu selain Allah. Bahkan, orang yang shaum pada tingkatan ini, terbersit pikiran duniawi dianggap membatalkan shaum.

Pada Tingkat Manakah Kita?

Lalu, pertanyaan mendasarnya, di tingkat manakah shaum kita? Ibadah dan amal saleh yang kita lakukan pada setiap detik saat Ramadan ini adalah jawabannya. Kita sendiri lebih menyadari di mana posisi atau tingkatan shaum kita masing-masing. Satu hal yang pasti, kita harus terus berupaya unuk meningkatkan kualitas ibadah kita hingga kelak menggapai derajat takwa yang lebih tinggi di hadapan Allah.

Baca Juga :  Revolusi Hukum, Nepalisasi dan Ketegasan Presiden

Shaum Ramadan memang datang sekali setahun, namun jangan djadikan hanya sebagai rutinitas tahunan, melainkan dijadikan sebagai jalan menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Karena itu, mari kita manfaatkan sebaik mungkin agar berbagai ibadah yang kita lakukan akan jauh lebih baik dan terus meningkat kualitasnya dari sebelumnya.

Menurut penceramah, jangan biarkan detik-detik yang tersedia berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan dalam ibadah dan ketakwaan kita.

Mudah-mudahan apa yang kita ulas kali ini bukan saja sebagai pengingat, tapi juga sebagai motivasi bagi kita semua untuk meningkatkan kualitas ibadah kita saat ini dan di masa yang akan datang.

Kita tanpa terkecuali, bila ingin menggapai derajat takwa yang lebih berkualitas, maka mari kita jadikan Ramadan ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan hati kepada Allah dan meraih derajat shaum yang lebih tinggi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *