Opini

Hakikat Shaum; Lebih Dari Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

11
×

Hakikat Shaum; Lebih Dari Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

Share this article
IMG 20260220 WA0065
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”

JUMAT, 20 Februari 2026 malam, ratusan jamaah menghadiri shalat tarawih di Masjid Maslicha yang berada di Kompleks Perumnas Bumi Arumsari, Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pada kesempatan ini, Bapak Suherman didaulat menjadi imam shalat, sementara pemateri kuliah tujuh menit atau kultum disampaikan oleh Ustadz Afif Susanto, S.Pd., M.Pd. degan materi berjudul “Hakikat Puasa; Lebih Sekadar Menahan Lapar”.

Menurut Ustadz Afif, shaum adalah ibadah wajib yang Allah perintahkan kepada orang beriman seperti yang ditegaskan dalam surat al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang beriman, telah diwajibkan atas kalian ber-shaum sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” Karena itu, shaum adalah ibadah sekaligus wujud ketaatan kepada Allah, sehingga kelak meraih derajat takwa

Hakikat Shaum

Bila ditelisik, hakikat shaum terbagi ke dalam beberapa hal, yakni, pertama, pengendalian diri. Shaum adalah ibadah yang membutuhkan sekaligus berdampak pada pengendalian diri kita dari berbagai hal buruk seperti (1) sifat marah, (2) kata-kata kasar, (3) bergunjing, dan (4) menahan pandangan dari hal-hal yang tidak baik atau tidak patut.

Mengapa kita mesti selalu diingatkan demikian? Sebab tak sedikit yang shaum tapi sekadar menahan lapar dan dahaga, sementara tak mendapatkan pahala shaum. Kita tentu ingin agar setiap ibadah yang kita lakukan, terutama shaum wajib di Ramadan, benar-benar dijalani dengan ikhlas dan berdampak pada pembentukan karakter mulia yaitu takwa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Betapa banyak orang yang ber-shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ahmadz Ibnu Majah dan an-Nasa’i). Karena itu, sejak lama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” (HR. Bukhari).

Baca Juga :  One Kid Kembali On-Fire di Lapangan Kodim 0620 Cirebon

Kedua, membersihkan jiwa dan hati. Shaum adalah ibadah yang pada proses pembersihan jiwa dan hati dari berbagai dosa dan maksiat. Karena itu, Ramadan adalah momentum terbaik bagi kita untuk (1) memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah. Bahkan kita perlu lebih giat beristighfar pada momentum sahur. Proses memohon taubat dan ampunan harus menjadi agenda utama kita dalam serangkaian shaum yang kita tunaikan.

Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imran: 17). Pada surat lain, Allah berfirman, “Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzariyat: 18). Dua ayat ini menjelaskan kebiasaan orang-orang beriman dan bertakwa dari generasi para nabi rasul hingga era ini yang kita teladani.

Selain itu, pada Ramadan yang mulia kita dianjurkan untuk (2) memperbanyak amal lainnya seperti banyak membaca al-Quran. Sebab ada banyak pahala yang kita peroleh. Bahkan satu huruf mendapat ganjaran setimpal. (3) menjaga hubungan yang lebih akrab dengan Allah melalui ibadah-ibadah sunah. (4) Kita juga dianjurkan untuk sabar dalam segala hal, dan (5) bersikap jujur sebagai bagian dari substansi shaum yang kita tunaikan.

Ketiga, shaum sebagai proses pembentukan karakter baik dan mulia. Shaum adalah bagai lembaga pendidikan, ia adalah madrasah kehidupan. Diantara pembelajaran penting dari shaum Ramadan adalah (1) hidup disiplin. Waktu berbuka dan batas akhir sahur tak bisa dilanggar, ini mengandung pembelajaran kedisiplinan yang angkat ketat. Bila kita melanggar, maka shaum kita batal dan tidak sah. Di situlah letak pentingnya menjadi sosok yang disiplin waktu.

Baca Juga :  Langkah Konkret Menghadapi Negara Darurat Korupsi

Pembelajaran lain yaitu (2) membentuk diri kita makin bertanggung jawab. Shaum mendidik kita untuk bertanggung jawab atas semua kewajiban dan aktivitas yang kita lakukan. Sebab tak ada yang bisa lolos dari jangkauan Allah dan malaikat-Nya. Kemudian, (3) konsisten dalam kebaikan. Shaum mendidik kita untuk konsisten dalam kebaikan dan tidak tergiur dengan hal-hal yang buruk, dosa dan maksiat. Itulah yang membuat kita semakin terbentuk menjadi generasi unggul atau umat yang berkarakter baik.

Akhirnya, shaum yang kita tunaikan pada setiap Ramadan adalah wujud kasih sayang Allah kepada kita. Sebab yang dipanggil untuk menjalankan shaum hanyalah orang beriman. Karena itu, shaum mestinya bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi momentum refleksi dan pembenahan diri ke arah yang lebih baik. Dengan begitu, shaum dan berbagai ibadah Ramadan yang kita jalani benar-benar berdampak dan membentuk karakter baik dalam menggapai derajat takwa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *