Opini

Jaga Lisanmu, Tangisi Dosamu!

4
×

Jaga Lisanmu, Tangisi Dosamu!

Share this article
IMG 20260226 WA0085
Foto : Istimewa/GM

Oleh : Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”

KITA sudah bersama dengan shaum Ramadan beberapa hari. Terhitung sudah sepekan lebih. Shalat tarawih di berbagai tempat pun masih dihadiri oleh para jamaah lintas tempat. Khusus di Kompleks Perumnas Bumi Arumsari, Cirebon, Jawa Barat, tepatnya di Masjid Maslicha, para jamaah masih antusias menghadiri rangkaian shalat tarawih kali ini.

Salah satu yang rutin menjadi rangkaian tarawih kali ini adalah kuliah tujuh menit atau kultum. Pada Kamis 26 Februari 2026, pemateri kultum adalah Bapak H. Suhendi, S.Pd., MM. dengan materi “Menjaga Lisan dan Mata; Shaum yang Utuh”. Materi ini sangat penting, terutama dalam rangka menjalankan ibadah dengan khidmat dan menjaga kesakralan ibadah shaum yang kini kita tunaikan.

Menurut penceramah, Ramadan adalah bulan yang sangat mulia. Padanya juga diwajibkan ibadah yang sangat spesial yaitu shaum wajib. Beliau pun berharap agar rangkaian ibadah Ramadan yang kita tunaikan kali ini, dari awal hingga akhir nanti, diterima oleh Allah dan mengantarkan kita pada capaian ideal orientasi shaum itu sendiri yaitu takwa. “Agar kalian bertakwa!” (QS. al-Baqarah: 183)

Materi ceramah kali ini terlihat sederhana, tapi sejatinya sangat penting bagi kita, terutama dalam menjalani shaum Ramadan dan meniti kehidupan selanjutnya setelah Ramadan. Menurut beliau, salah satu hal penting yang perlu kita jaga dalam Ramadan ini adalah lisan kita. Jangan sampai kita shaum, tapi masih ngerumpi dan membicarakan keburukan orang lain, lalu lupa keburukan dan dosa sendiri.

Shaum adalah kewajiban orang beriman. Allah menyeru untuk menjalankan shaum hanya mereka yang beriman. Diantara ciri orang beriman adalah lisannya selalu terjaga dari berbagai bentuk keburukan. Orang lain selamat dari lisannya. Orang yang shaum bakal berupaya agar lisannya hanya melahirkan kebaikan dan bukan kata-kata kotor, bukan fitnah, bukan adu domba, dan bukan membicarakan keburukan orang lain.

Baca Juga :  Satu Abad NU; Refleksi dan Agenda Abad Kedua

Satu hal sangat menarik, penceramah mengutip hadits yang dicantumkan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab beliau yang sangat mashur di kalangan umat Islam yaitu Riyadhus Shalihin. Kitab ini menjadi salah satu kitab rujukan di berbagai pondok pesantren dan komunitas muslim. Menurut penceramah, dalam kitab tersebut terdapat hadits yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir.

Riwayat yang dimaksud oleh penceramah adalah hadits hasan yang diriwayatkan oleh salah satu Imam Hadits yang sangat terkenal, Imam At-Tirmidzi. Riwayatnya begini: “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah yang menyebabkan keselamatan?’ Beliau menjawab, ‘Jagalah lidahmu, tetaplah di rumahmu, dan tangisilah dosamu!'” (HR. At-Tirmidzi)

Menurut penceramah, hadits ini mengandung anjuran kepada kita semua untuk beberapa hal. Pertama, menjaga lisan. Lisan kita lebih baik fokus membicarakan kebaikan, jauhi membicarakan keburukan orang lain. Kedua, fokus pada urusan pribadi kita dan tebar manfaat bagi orang lain. Ketiga, fokus menangisi dosa diri sendiri, bukan sibuk mengobral keburukan dan dosa orang lain.

Diantara kebiasaan buruk kita, kata beliau, adalah sering berkumpul dengan kolega dan semacamnya untuk hal yang sia-sia. Sepertinya ada kebanggaan dan kenikmatan saat menjelekkan orang lain secara bersama-sama. Hal ini merupakan kebiasaan buruk dan tentu saja termasuk dosa. Pada Ramadan mestinya kita fokus beribadah dan melakukan hal-hal yang baik juga bermanfaat.

Bila kita tidak mampu melakukan kebaikan dan enggan menebar manfaat bagi sesama, jangan menjadi sumber hoaks dan fitnah bagi orang lain. Kita, lebih baik berdiam diri di rumah kita. Selain menjaga silaturahim dengan anggota keluarga, di situ kita fokus untuk ber-muhasabah dan mengingat dosa-dosa yang kita lakukan. Mohon ampun kepada Allah dan menangislah, insyaa Allah Allah mengampuni dosa-dosa kita. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *