Opini

Kampus, Mahasiswa dan Mesin Ekonomi Daerah

18
×

Kampus, Mahasiswa dan Mesin Ekonomi Daerah

Share this article
IMG 20260207 WA0036
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Musta’in, M.Ed

Dosen Tetap Manajemen Pendidikan Islam Institut Agama Islam (IAI) Nurul Hakim Lombok

MEMASUKI awal tahun baru 2026, refleksi semestinya tidak berhenti pada seremoni dan nostalgia atas perjalanan waktu yang telah dilalui. Momentum ini justru perlu dimaknai sebagai ruang evaluasi, khususnya bagi dunia pendidikan tinggi, dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dinamika dunia kerja yang semakin kompleks dan tidak menentu.

Harapan masyarakat terhadap kampus saat ini telah bergeser. Perguruan tinggi tidak lagi cukup dinilai dari kemampuannya mencetak lulusan berijazah. Kampus dituntut melahirkan generasi yang adaptif, kompetitif, dan mampu memberi kontribusi nyata, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi daerah dan bangsa.

Sayangnya, realitas sering berjalan tidak seiring dengan harapan tersebut. Peluang kerja formal semakin terbatas, sementara jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat setiap tahun. Pembatasan rekrutmen aparatur negara, penataan administrasi, serta restrukturisasi tenaga honorer di berbagai daerah menambah tekanan bagi lulusan baru. Kegelisahan pun muncul, tidak hanya di kalangan mahasiswa, tetapi juga keluarga dan masyarakat yang mempertanyakan arah dan masa depan pendidikan tinggi.

Dalam situasi seperti ini, cara pandang kita terhadap kampus perlu diubah secara mendasar. Selama ini, kampus kerap dipersepsikan secara sempit sebagai “pabrik sarjana”, tempat mencetak ijazah dan status sosial. Bahkan, tidak jarang pemerintah daerah melihat kampus hanya sebagai mesin produksi sumber daya manusia, tanpa menyadari bahwa kampus sejatinya adalah mesin perputaran ekonomi lokal yang bekerja setiap hari.

Perbedaan itu mudah dilihat. Kota yang tidak memiliki kampus cenderung sepi, denyut ekonominya tidak stabil. Sebaliknya, kota yang memiliki kampus hampir selalu hidup. Warung kopi ramai, usaha-usaha laundry penuh, percetakan bekerja tanpa henti, kos-kosan terisi, ojek daring sibuk. Uang berputar setiap hari, bukan dari pabrik besar, melainkan dari aktivitas mahasiswa.

Baca Juga :  Demi Judi Online, Berani Korupsi Uang PDAM Kota Cirebon!

Namun, itu baru lapisan ekonomi paling dasar. Lapisan yang lebih besar justru lahir dari aktivitas akademik dan kemahasiswaan. Seminar ilmiah, konferensi nasional, workshop, forum riset, kompetisi mahasiswa, hingga pelatihan profesional adalah agenda rutin kampus yang memiliki daya tarik lintas daerah. Aktivitas inilah yang menjadikan kampus berpotensi besar sebagai pusat MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) daerah.

Setiap kegiatan kampus mendatangkan orang dari luar kota. Mereka menginap di hotel lokal, makan di restoran setempat, menggunakan transportasi lokal, dan membeli produk UMKM. Ekonomi bergerak tanpa proyek raksasa dan tanpa beban utang pembangunan. Ironisnya, potensi ini sering luput dari perhatian pemerintah daerah yang masih terpaku pada pembangunan fisik semata.

Padahal, langkahnya relatif sederhana. Pemerintah daerah cukup mengorkestrasi kampus-kampus yang ada. Jika setiap fakultas menyelenggarakan satu kegiatan akademik besar dalam setahun dan dijadwalkan secara bergilir, maka sepanjang tahun kota akan hidup oleh agenda intelektual. Aktivitas tumbuh, ekonomi berputar, dan lapangan kerja terbuka.

Dalam ekosistem ini, mahasiswa dan pemuda memegang peran kunci. Mereka bukan sekadar peserta, melainkan motor penggerak utama. Mahasiswa terlibat sebagai panitia, pengelola acara, penghubung dengan UMKM, hingga penggerak media dan publikasi. Di ruang inilah mahasiswa belajar kepemimpinan, manajemen, komunikasi, dan kewirausahaan, kompetensi penting yang tidak sepenuhnya diperoleh di ruang kuliah.

Bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS), peluang ini justru semakin terbuka. Keberadaan lembaga swasta dan yayasan pendidikan masih menyediakan ruang pengabdian dan pengembangan karier. Dunia usaha dan sektor swasta dapat menjadi mitra strategis kampus dalam meningkatkan kompetensi profesional mahasiswa, sekaligus membuka akses kerja yang lebih luas.

Karena itu, kampus perlu memulai dengan penguatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). UKM bukan sekadar pelengkap aktivitas kampus, melainkan wahana strategis untuk membentuk karakter, kreativitas, jejaring, dan kesiapan kerja mahasiswa. Melalui UKM, mahasiswa belajar berpikir kritis, bekerja dalam tim, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Baca Juga :  Presiden Prabowo memang Negarawan

Jika UKM diperkuat dan dikoneksikan dengan sektor swasta serta agenda kampus yang produktif, maka kampus tidak hanya melahirkan lulusan pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang. Kampus menjadi pusat ilmu, pusat aktivitas, pusat keramaian, sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Sudah saatnya kampus diposisikan secara utuh: bukan hanya sebagai ruang belajar, tetapi sebagai jantung kehidupan intelektual, sosial, dan ekonomi. Daerah yang ingin ekonominya bergerak tidak cukup hanya membangun jalan dan jembatan. Ia harus membangun aktivitas, dan kampus adalah pusat aktivitas paling strategis.

Ketika kampus hidup, mahasiswa bergerak, dan pemuda diberi ruang berkreasi, uang tidak mengalir keluar daerah. Ia berputar di dalam kota, membuka lapangan kerja, dan menguatkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Sekali lagi, kampus bukan hanya tempat kuliah. Ia adalah jantung peradaban kecil sebuah daerah, dan jika dikelola dengan visi yang tepat, ia bisa menjadi mesin ekonomi yang kuat, murah, dan berkelanjutan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *