Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku Selamat Datang Di Manggarai Barat
JAGAT maya dan pemberitaan media tiba-tiba dihebohkan oleh kejadian menyedihkan. Kali ini berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam berbagai media diberitakan, YBR (Yohanes, 10) adalah siswa kelas IV SDN Rutowaja, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT. Ia ditemukan dalam kondisi meningal dan terikat seutas tali di dahan pohon cengkeh yang tak jauh dari gubuk neneknya yang berusia sekira 80 tahun. Insiden itu terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026 sekitar pukul 11.00 WITA atau pukul 10.00 WIB.
Malam sebelum kejadian, YBR meminta uang kepada ibunya (Maria Goreti Te’a, 47 tahun) untuk membeli buku tulis dan pena. Namun, permintaan YBR tidak bisa disanggupi ibunya karena kondisi ekonomi mereka sekeluarga yang sangat sulit. Ibu YBR harus menanggung kebutuhan hidup lima orang anaknya. Sementara itu, ia sudah berpisah dengan suaminya sejak 2016, 10 tahun lalu. Siapapun tak sanggup menahan sedih. Air mata kita mengalir begitu saja, tanda iba bahkan melawan.
Meninggalnya YBR menyisakan kesedihan dan berbagai macam renungan sebagai ikutannya. Terutama setelah ditemukan surat pesan yang ia tujukan kepada ibunya. Berikut isi surat YBR kepada ibunya: “Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti). Mama Galo Zee (Mama pelit sekali). Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis). Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee). Molo Mama (Selamat tinggal mama).
Mamanya YBR adalah manusia biasa. Kita tak pantas menyalahkan sang ibu yang telah melahirkan lima orang anak itu. Ia pahlawan sejati seperti juga neneknya YBR. YBR pun tentu tidak sedang menyalahkan sang ibu. Ia sedang menggugat nurani kita yang kerap mati untuk sekadar menyapa tetangga, menanya kabar teman dan menengok kolega kita. Ia sedang mempertanyakan peran para pejabat di berbagai levelnya dan komisaris BUMN juga BUMD yang digaji besar dan mendapat fasilitas aduhai tapi ada saja yang tuna adab juga miskin kepedulian.
YBR dan Nasib Anak Indonesia
Sebetulnya sudah banyak kasus seperti ini di NTT dan berbagai daerah di seluruh Indonesia. Hanya saja banyak yang tidak viral. Kini kasus YBR menyebar cepat bahkan viral karena dampak media, terutama media sosial. Itulah dampak positif adanya media sosial. Informasi yang kerap terhambat bahkan mungkin dibungkam dapat ditebar lewat akun pribadi atau akun media sosial orang terdekat, juga bisikan dari mulut ke mulut sehingga menyebar begitu cepat di jagat maya.
Berkaitan dengan hal ini, saya teringat saat masih menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) era ’90-an, tepatnya tahun 1990-1996. Saat SD, saya terbiasa berjalan kaki, walau jarak sekolah cukup jauh dari rumah. Sekitar 1 km. Jauh, bukan? Anak kecil usia SD tentu jarak semacam itu termasuk jauh. Kadang ke sekolah hanya mengenakan kaos, bukan seragam. Sebab seragam hanya satu pasang: merah-putih. Saya dan kawan-kawan lalui dengan riang gembira. Belakangan seperti menjadi hal biasa saja.
Anak atau murid yang berasal dari kampung tetangga lebih jauh lagi perjalanannya menuju sekolah. Ada yang berangkat ke sekolah sejak jam 5 pagi sampai sekolah jam 6 atau jam 7. Ada juga yang membutuhkan waktu 1 jam lebih untuk sampai ke sekolah. Dan itu lewat hutan yang berisi pohon besar. Ular dan berbagai macam binatang berbahaya tentu menjadi sumber bencana yang mungkin saja menyudahi setiap proses perjalanan menuju sekolah kala itu. Bahkan nyawa bisa melayang!
Dari rumah ke sekolah menempuh jalan setapak. Tak ada jalan beraspal. Tak ada listrik. Tak ada mobil atau angkutan umum. Itu bagai mimpi entah kapan semuanya jadi kenyataan. Walau akhirnya sejak Oktober 2020 lalu sudah mulai tersentuh listrik. Itu pun masih kerap mati hidup. Untuk air PDAM dan jalan beraspal, entahlah, kapan itu tiba? Berat membayangkan situasinya. Tentu tak perlu mengundang Belanda untuk kembali menjajah kami, bukan?
Sesampainya di sekolah, tak sedikit yang tetap menerima dengan tulus hukuman dari guru. Tak ada maaf bagi yang terlambat. Jam 7 pagi mesti sudah di sekolah untuk mengikuti apel Senin atau baris berbaris di hari selainnya. Bagi yang terlambat mesti berdiri depan sekolah atau di lapangan sekolah selama puluhan menit. Angkat kaki satu, tangan melebar seperti burung yang mengepak saat terbang dan melihat matahari. Atau membersihkan kebun sekolah, ambil air di kali dan sebagainya.
Ruangan di sekolah hanya ada 4. Itu pun 2 ruang sudah tak layak, 2 ruang lagi jadi (1) perpustakaan sekaligus kantor guru dan (2) ruang belajar utama. Itupun atap pakai sink zaman kuno yang sudah tak layak. Selain berlubang, bunyinya juga kerap mengganggu bila dihantam angin sepoi. Kalau angin kencang, tentu hasilnya lebih gila. Kalau hujan tetap sekolah, tapi tidak bisa menulis, sebab ruangan kelas kena hujan. Tapi guru tetap mendidik kami agar jadi generasi kokoh, disiplin dan tidak cengeng.
Lagi-lagi, apakah kami manja? Sama sekali tidak. Kami tetap jalani proses itu selama sekian dekade. Jalani semuanya dengan tekun, giat dan penuh semangat. Dan mungkin nyaris tak ada lagi keluh. Karena keluh sudah tak berdampak dan tak didengar. Guru tetap kami anggap guru. Bahkan masih kami kenang hingga kini. Tak lupa pada nama dan sepak terjang mereka. Mereka sangat berjasa. Mereka pahlawan selamanya. Bukan pahlawan lima tahunan atau bonus politik.
Betul, saat ini telah banyak perubahan, tapi masih ada sebagian tempat yang mengalami hal yang sama. Ada kali besar yang kami lewati sering menghadang, jalan bebatuan yang membahayakan dan fasilitas yang belum memadai juga ada. Lagi-lagi, ingin sekali bersuara lebih kencang dari yang sudah-sudah. Seperti suara saat kami menyapa monyet hutan yang bersahabat dan sesekali menghibur kami. Kami hanya bisa berdoa: Ya Tuhan, Engkau Maha Tahu tentang isi hati nurani kami. Tentang suara hati anak-anak NTT, anak-anak Indonesia!
Lagi-lagi, tak ada yang menangis, mengalah dan manja. Realitas yang terlihat sudah dianggap hal biasa saja. Sempat iba dan hati merasa sedih. Tapi nyaris tak bisa apa-apa lagi. Karena sudah bosan bersuara. Kadang monyet hutan pun sudah bosan mendengar ketika kami sempat mengeluh panjang. Mungkin mereka lebih empati pada saudara mereka di tempat lain yang hutannya dijarah demi syahwat kaum dajal. Toh faktanya, suara nurani yang tulus tak didengar lagi. Semua tuli atau pura-pura tuli? Entahlah…
Orangtua kami, bagaimana? Bayar pajak rajin. Mengikuti pemilu seperti pilpres, pileg dan pilkada aktif. Begitu juga di berbagai hajat para pejabat, selalu rajin dan hadir. Bahkan kerap meninggalkan pekerjaan di sawah dan kebun untuk kebutuhan kehidupan sekian pekan dan bulan demi mengikuti pesta politik, demi meng-iya-kan setiap kemauan mereka yang kerap berbusa janji manis. “Jembatan, jalan, fasilitas sekolah, bantuan sosial dan semuanya bakal kami selesaikan segera,” janji manis itu kerap menggema menjelang pesta politik lima tahunan.
Kami tahu para pejabat di berbagai levelnya menikmati gaji besar dan fasilitas mewah senilai puluhan dan ratusan juta bahkan miliyaran rupiah; sementara orangtua kami yang (1) jadi petani tadah hujan masih dengan penghasilan tak seberapa, (2) guru honorer dengan honor Rp 100.000-150.000 per bulan dan (3) bantuan beragam wajah justru jadi bancakan mereka yang punya akses sekaligus hubungan tertentu. Menyaksikan koruptor terkutuk tapi tak malu pun membuat hati kami marah, namun tak bisa apa-apa.
Peristiwa meninggalnya YBR yang meninggalkan pesan heroik dengan diksi yang singkat dan sederhana adalah suara nurani nan lembut anak-anak NTT bahkan anak-anak Indonesia pada umumnya. Isi suratnya mewakili nurani anak-anak NTT dan Indonesia di berbagai pelosok. Jutaan janji telah kami dengar. Tapi tetap saja kondisinya begitu. Sungguh, kami tak butuh uluran tangan dan viral. Karena kami punya Tuhan yang cinta kasih-Nya tak terbatas. Biar pengadilan Tuhan kelak yang menyelesaikan semuanya! (*)






