Opini

Mari Berdo’a Kepada Allah!

49
×

Mari Berdo’a Kepada Allah!

Share this article
IMG 20260103 WA0041
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh

APAKAH kita termasuk orang yang selalu merasa bahwa kita sudah gagal dan kalah dalam setiap bentuk usaha dan pertandingan hidup yang kita lalui?

Lalu, apakah kita pernah bertanya kepada diri kita apa saja penyebab perasaan tersebut muncul lebih dominan, bahkan menjadi satu jenis penyakit akut yang mematikan tekad dan kesungguhan kita dalam mewujudkan apapun usaha dan impian kita?

Sadarilah bahwa manusia hanya memiliki kemampuan untuk membuat cita-cita, mengemas impian, menyusun strategi atau langkah, menulis rencana teknis dan melakukan teknis aplikasinya. Selebihnya, ada kekuatan lain yang mengendalikan, ya semuanya ada dalam kendali dan kuasa Sang Kuasa, Allah.

Do’a dan Kekuatannya

Berkaitan dengan hal tersebut, sebetulnya ada satu kekuatan yang menjadi titik tolak yang sangat menentukan kesuksesan seseorang dalam kehidupan ini, yaitu kekuatan do’a, ya berdo’a kepada Allah.

Coba perhatikan sejarah kesuksesan orang-orang sukses, atau para pejuang di masa lalu. Di samping segala kesungguhan dan pengorbanan dalam menggapai kesuksesan dan kemenangan yang mereka raih, ternyata mereka memiliki satu modal utama yang lagi-lagi sangat dahsyat pengaruhnya bagi kesuksesan mereka, yaitu do’a.

Apa itu do’a? Do’a adalah kata-kata yang baik. Ketika kita mengucapkannya, sesungguhnya itu bermakan kita telah melepaskannya dari mulut kita agar ia berjalan menuju langit. Jika kata itu memiliki wacana penyangga yang kuat, ia akan segera melampaui cakrawala, menembus angkasa dan mencapai puncak.

“Ya Allah, jika pasukan binasa, tidak akan pernah ada lagi di bumi ini yang akan menyembah-Mu, selamanya.” Begitulah do’a yang terus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantunkan sebelum dimulainya Perang Badar, sehingga selendang beliau terjatuh, sampai-sampai sahabatnya, Abu Bakar, datang menghampirinya dan mengatakan: “Cukuplah, ya Rasulullah. Allah pasti akan menolongmu.!”

Baca Juga :  Menghapus Dosa dengan Beristighfar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Do’a adalah senjata orang beriman, tiang agama dan cahaya langit dan bumi. (HR. Hakim, dari Ali bin Abi Thalib)

Do’a akan mempertemukan dua kehendak sekaligus: kehendak Allah dan kehendak manusia. Itulah kekuatan dahsyat, rahim yang selalu melahirkan semua peristiwa kehidupan sepanjang sejarah umat manusia.

Apa yang dilakukan oleh nabi Yunus ketika beliau tertelan dan terimpit dalam perut ikan paus? Dari manakah beliau dapat mengharapkan cahaya untuk sekadar menerangi gelap dalam perut ikan besar? Dari manakah beliau menemukan kembali harapan hidupnya?

Sesungguhnya, gelap, kesedihan, kegundahan dan keputusasaan dalam jiwanya jauh lebih gelap dari gelap yang menyelimutinya dalam perut ikan itu. Tetapi dengarlah do’anya, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Qs. al-Anbiya’: 87)

Lalu dengarlah jawaban Allah pada surat yang sama dalam ayat selanjutnya, “Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Qs. al-Anbiya’: 88)

Sungguh itu sebuah gambaran agung. Begitu mudahnya Allah memperlihatkan kuasa-Nya kepada kita. Sekali lagi, ini tentang do’a. Ketika seorang sahabatnya selalu langsung meninggalkan masjid setelah shalat tanpa do’a (setelah shalat), Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menegurnya dengan pernyataan, “Apakah kamu sama sekali tidak punya kebutuhan kepada Allah?” Sahabat itu pun terperanjat dan mulai memahami arti do’a. Maka, ia pun terus berdo’a. “Bahkan”, katanya di kemudian hari, “garam pun kuminta kepada Allah.”

Baca Juga :  Transformasi PKB di Usia ke-27: Antara Tantangan Destruktif dan Kepemimpinan Konstruktif

Maka, berdo’a adalah wujud keberdayaan diri. Bahwa kita adalah manusia yang memiliki kekuatan: kekuatan dari kekuatan Allah. Karena itu, berdoa’alah kepada-Nya. Sungguh, Allah pasti mengabulkan permohonan hamba-Nya.
Adalah sangat bijak ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Do’a adalah ibadah. (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi, hadits hasan shahih).

Ini pengingat bahwa ketika kita berdoa maka kita sedang menghadap kepada-Nya. Kita adalah ciptaan Allah. Kita adalah milik-Nya. Selamanya, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Selamanya, kita hanyalah seorang makhluk yang tidak berdaya. Selamanya, kita butuh kepada Allah.

Karena itu, datanglah kita bersimpuh di haribaan-Nya, dengan dorongan rasa butuh yang sangat kepada-Nya, rasa harap yang kuat akan rahmat-Nya, dan rasa takut yang dalam akan kemungkinan tertolak dari wilayah rahmat-Nya serta terdampar dalam wilayah siksa-Nya.

Jadi, kebutuhanlah yang mendorong kita melangkahkan kaki ke haribaan Allah. Datang dengan menyerahkan segenap jiwa dan raga kita kepada-Nya. Sesungguhnya, rasa butuh yang sangat itulah yang terwakili dengan sempurna saat kita berdoa.

Saat kita duduk bersimpuh dengan khusyuk, menghadap kiblat, menengadahkan wajah dan jiwa ke langit, lalu melantunkan puji-pujian untuk-Nya, berdoa untuk utusan-Nya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian memohonkan segala sesuatu kepada-Nya.

Ingat, tidak ada yang dapat mewakili dan mengungkapkan perasaan butuh, seperti tampilan seorang hamba yang sedang berdoa dengan penuh haru-biru. Doa adalah senjata orang beriman. Dengan senjata itu, kita membangun perisai diri dari segenap musibah. Dan, doa dapat menciptakan kekuatan dalam diri manusia hingga membentuk energi yang menggerakkan segenap raga untuk bertindak: melakukan kebaikan dan mengajak sebanyak mungkin manusia agar melakukan kebaikan.

Sungguh indah ungkapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ketika mengingatkan kita umatnya, “Do’a seorang hamba selalu akan terkabul, selama ia tidak berdo’a untuk sebuah dosa, memutuskan tali silaturahim, dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *