Opini

Media Sosial dan Konten Keislaman Sebagai Alternatif

8
×

Media Sosial dan Konten Keislaman Sebagai Alternatif

Share this article
IMG 20260210 WA0103
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Merawat Indonesia”

PERKEMBANGAN dan fenomena media sosial belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Satu sisi, media sosial bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, namun tak sedikit yang menggunakannya untuk hal-hal yang merusak. Bahkan tak sedikit yang mengisinya dengan berbagai macam kontek buruk. Selain melakukan penipuan dan penyebaran hoaks, juga dalam bentuk caci maki dan saling mencela antar sesama anak bangsa.

Informasi hoaks pun telah menjadi fenomena yang membuat kita mengelus dada, hingga marah. Dampaknya bukan saja menimbulkan permusuhan antar kelompok dan sesama warga tertentu, tapi juga menimbulkan aksi kriminal bahkan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar. Faktanya, konten hoaks pun telah mendapatkan tempat tersendiri di sebagian netizen. Selain karena minim dan lemahnya literasi media, juga karena unsur kesengajaan dalam menebar hoaks.

Hoaks dan Konten Alternatif

Hoaks memang layak dibasmi, namun kita tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum yang berlaku. Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah menghadirkan konten alternatif. Sederhananya, bila kita kerap menyaksikan kabar hoaks mendominasi konten media, terutama media sosial, maka kita mesti melahirkan konten alternatif yang baik atau maslahat, termasuk dalam bentuk tulisan. Strategi dan aksi alternatif adalah solusi.

Di sinilah letak pentingnya gerakan kolektif untuk memperbanyak konten yang maslahat, terutama konten keislaman di media sosal. Aksi kolektif perlu digiatkan kembali di berbagai kalangan. Para penulis dan siapapun perlu berkontribusi dalam menghadirkan tulisan yang bergizi dan konstruktif bagi pencerahan masyarakat, serta dapat menopang upaya memajukan bangsa di masa kini dan masa yang akan datang.

Dalam level tertentu, ini adalah bagian dari dakwah berbasis media sosial atau dakwah media sosial. Menyebarnya konten keislaman dengan kandungan nilai-nilai Islam, yang tentu saja menjadi rahmat bagi semesta alam, dapat menyeimbangkan konten hoaks yang semakin menjadi-jadi. Media sosial tak bisa dicela atau dihina. Kita cukup menghadirkan alternatif fungsi dan konten untuk media sosial. Kita mesti menjadi pencipta konten yang produktif untuk media sosial, termasuk dalam bentuk tulisan.

Baca Juga :  108 Tahun PUI; Penguatan Gerakan Ishlah untuk Indonesia Emas 2045

Dakwah semacam ini terlihat sederhana, tapi cukup memberi dampak bagi transformasi media sosial di masa yang akan datang. Dalam konteks itu, berbagai konten yang mengarah pada hal-hal destruktif perlu dihindari. Bahkan konten yang bersifat mencela, mencaci maki dan menghina ajaran juga umat lain tak perlu diproduksi dan tak perlu disebar. Membiarkan konten destruktif menyebar hanya akan menghambat laju berkembangnya konten positif, termasuk konten keislaman.

Saatnya Berkolaborasi

Forum penulis dan komunitas kepenulisan yang digawangi oleh para penulis muslim perlu melakukan konsolidasi secara berkala. Forum semacam itu dapat dijadikan sebagai momentum evaluasi peran dan aksi konkret selama ini dalam mengokohkan literasi keislaman di media sosial. Bahkan forum semacam itu juga menjadi momentum untuk menyusun strategi dan aksi konkret dalam melawan hoaks dan memproduksi konten keislaman yang terpublikasi di media sosial.

Kita layak bersyukur dan bergembira karena dalam struktur Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025-2030 terdapat Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman (LPBKI). LPBKI sudah ada sejak tahun 2015 silam, hingga saat ini masih eksis. Adanya lembaga ini semakin menambah semangat kita dalam menghadirkan konten alternatif, bukan saja di media massa seperti TV dan surat kabar, tapi juga di media online dan media sosial.

Di sini dibutuhkan kolaborasi semua elemen lintas sektor, termasuk para penulis muda di seluruh Indonesia. Forum atau komunitas penulis dari kalangan santri serta konten kreator juga dapat berperan lebih. LPBKI MUI perlu melakukan berbagai langkah praktis, termasuk mengadakan pertemuan dengan berbagai forum penulis dan penggiat literasi. Kegiatan kolaboratif antar berbagai elemen perlu digiatkan dalam rangka penguatan literasi sekaligus menciptakan konten keislaman alternatif di media sosial. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *