Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”
MANUSIA adalah makhluk yang tidak pernah luput dari salah dan dosa. Bahkan dapat dikatakan tidak ada satu orang manusia pun di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun kesalahan itu. Mulai dari Nabi Adam ‘alaihissalam hingga anak cucu dan keturunannya sampai saat sekarang, manusia akan tetap menjadi tempatnya salah dan lupa (al-insan makanul khatha’ wan nisyan). Singkatnya, kita adalah pendosa.
Namun demikian, manusia memiliki potensi imam, akal dan hati, sehingga punya peluang untuk memperbaiki diri. Bahkan dalam Islam, sebaik-baik manusia adalah mereka yang mau dan berani bertaubat kepada Allah. Pendosa yang baik adalah pendosa yang bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat (HR. At-Tirmidzi).
Istighfar Menuju Taubat
Salah satu amal menuju taubat adalah memohon ampun kepada Allah, beristighfar kepada Zat Yang Maha Pengampun. Walau pun terlihat ringan dari berbagai macam amal zikir, namun dampaknya sangat besar. Umumnya, istighfar adalah amalan yang sering kita kerjakan setelah menunaikan shalat fardhu. Tapi tak sedikit juga yang melakukannya di luar itu, seperti menjelang shalat subuh.
Allah berfirman, “Dan pada akhir malam, mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. adz-Dzariyat: 18). Pada surat lain, Allah berfirman, “(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.” (QS. Ali ‘Imran: 17). Dan masih banyak ayat serupa yang dapat kita baca dan perdalam dari al-Quran.
Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat 17 surat Ali ‘Imran tersebut menerangkan sifat orang bertakwa, antara lain orang-orang yang berinfak, dan orang yang beristighfar di waktu sahur. Ayat ini, kata Imam Ibnu Katsir, mengisyaratkan keutamaan beristighfar di waktu sahur atau menjelang waktu shalat subuh. Sementara di dalam tafsir al-Qurthubi, dijelaskan bahwa yang mereka pinta adalah agar Allah menutupi aib dan kesalahannya.
Teladan dan Keutamaan Beristighfar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam menjalankan istighfar. Beliau adalah satu-satunya manusia yang namanya selalu kita sebut, bahkan saat shalat. Seluruh ucapan, tindakan dan sikapnya adalah keteladanan. Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa dalam sehari beliau beristighfar lebih dari 70 kali. Seperti dalam hadits, “Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Diantara keutamaan beristighfar, pertama, dianugerahi anak, harta dan kebun sekaligus sungai yang subur. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah dalam al-Quran surat Nuh ayat 10-12, “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
Kedua, membuka pintu dan melancarkan rezeki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang melazimkan (membiasakan) membaca istighfar, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesusahan, dan solusi dari setiap kesempitan, dan memberikan kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Ketiga, mendapat ampunan dari Allah. Salah ulama terkenal di bidang fiqih, Sayyid Sabiq dalam bukunya “Fiqih Sunnah”, mengatakan Anas bin Malik meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, sungguh selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu dan aku tidak peduli (seberapa besar dosamu).”
Bahkan dalam lanjutan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan lanjutan firman Allah dalam hadits qudsi tersebut, “Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian kamu memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni (dosa-dosa)mu dan Aku tidak peduli (seberapa besar dosamu).”
Bahkan masih pada hadits dengan riwayat yang sama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan menyebut lanjutan firman Allah dalam hadits qudsi tersebut, “Wahai anak Adam, sungguh jika kamu datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi, kemudian kamu menemui-Ku sedang kamu tidak mempersekutukan-Ku dengan apapun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.'”
Hal ini menjadi penegas bahwa sebesar apapun dosa kita, Allah bakal mengampuni kita. Kuncinya adalah kita rutin beristighfar. Kita harus berkomitmen untuk memohon ampunan kepada-Nya. Kita mesti menanamkan dalam hati bahwa kita tidak bakal mengulangi dosa yang kita perbuat. Kita berupaya dengan sungguh untuk bertaubat kepada Allah. Sehingga berbagai dosa yang kita lakukan mendapatkan ampunan Allah, bahkan Allah menerima taubat kita. Insyaa Allah dosa kita benar-benar terhapus. (*)






