Opini

Meraih Ampunan dan Keberkahan dengan Perbanyak Syukur

4
×

Meraih Ampunan dan Keberkahan dengan Perbanyak Syukur

Share this article
IMG 20260219 WA0117
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”

KAMIS 19 Februari 2026, ratusan jamaah dari kalangan tua, muda dan anak-anak memenuhi masjid Maslicha yang berada di Kompleks Perumnas Bumi Arumsari, Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Bapak Suherman didaulat menjadi imam shalat tarawih kali ini. Walaupun digoda oleh gerimis, pelaksanaan shalat tarawih tetap berlangsung aman, nyaman dan penuh khidmat.

Ada pun yang mendapat kesempatan untuk menyampaikan kuliah tujuh menit atau kultum kali ini adalah Bapak H. Suwaryo, SE., MM. selaku Ketua DKM Maslicha. Pada kesempatan sosial ini pengisi kultum menyampaikan materi yang berjudul “Selamat Datang Ramadan; Gerbang Ampunan dan Berkah”. Mengawali, Ketua DKM mengingatkan bahwa ampunan dan keberkahan dari Allah akan kita peroleh bila kita mampu mengisi Ramadan dengan menjaga ibadah yang diperintahkan dan banyak bersyukur.

Beliau menegaskan, betapa besar nikmat yang Allah berikan kepada kita selama ini. Termasuk nikmat untuk kembali bersua dengan Ramadan. Menurut beliau, tak sedikit diantara keluarga, tetangga dan kolega kita yang dulu masih bersama kita di bulan Ramadan, kini sudah tak bisa bersama kita lagi. Ini adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk banyak bersyukur karena masih diberi waktu untuk meningkatkan kualitas diri hingga kelak mengalami derajat takwa.

Betapa banyak nikmat Allah yang kita peroleh selama ini. Nikmat keimanan, keislaman dan nikmat hidup sehat. Di samping begitu banyak nikmat lainnya, baik kita sadari maupun tidak kita sadari. Bila kita hendak menghitungnya, maka kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah berfirman, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. an-Nahl: 18)

Baca Juga :  Eksistensi MUI: Refleksi dan Rekomendasi

Allah pun telah berjanji bakal menambah nikmat-Nya kepada kita bila kita giat bersyukur. Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7). Ini satu jaminan yang jelas dan tegas dari Allah secara langsung, perihal balasan bagi haba-Nya yang giat bersyukur.

Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, syukur harus dijalani oleh hati, lisan dan anggota badan. Bersyukur dengan hati maknanya kita mesti meyakini bahwa seluruh nikmat yang kita peroleh berasal dari Allah, bukan selain-Nya. Bersyukur dengan lisan maknanya kita pertegas keyakinan kita dengan ucapan seperti dengan memuji Allah atas seluruh nikmat yang Ia anugerahkan kepada kita. Dan bersyukur dengan anggota badan dapat kita jalankan dengan menjalankan berbagai ibadah kepada Allah.

Bersyukur adalah aktivitas orang yang mulia. Allah berfirman, “Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang kaya/mulia) dengan sebagian yang lain (orang-orang miskin/lemah), supaya (orang-orang yang kaya/mulia itu) berkata, “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?” (Allah berfirman), “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?”” (QS. al-An’am: 53)

Karena itu, lisan kita mesti perbanyak memuji Allah dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Kita diperintahkan untuk mengagungkan Allah dengan memuji-Nya tanpa melakukan perbuatan syirik atau menyekutukan-Nya. Allah berfirman, “Dan katakanlah, “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya.””. (QS. al-Isra’: 111)

Perintah untuk bersyukur bukanlah perintah hanya untuk umat Islam yang hidup di era ini saja, tapi juga sudah diperintahkan pada umat sebelumnya. Allah berfirman, “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Baca Juga :  Fornas VIII 2025: Dari NTB untuk Indonesia dan Dunia

Kesungguhan kita untuk bersyukur dan selalu bersyukur kepada Allah pemicu bagi hadirnya ampunan dan keberkahan dari Allah. Bersyukur adalah aktivitas hamba yang merasa kecil di hadapan- Nya dan merasa dirinya penuh dosa. Ampunan bakal kita dapatkan bila menjauhkan diri dari berbagai macam kemusyrikan. Ramadan adalah momentum terbaik untuk terus memohon ampun kepada Allah atas kelalaian kita, termasuk lalai untuk bersyukur kepada- Nya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *