Cirebon

Negara Beri Ruang untuk Perayaan Imlek, Pengamat Budaya: Warga Tionghoa Bisa Berekspresi Secara Positif

12
×

Negara Beri Ruang untuk Perayaan Imlek, Pengamat Budaya: Warga Tionghoa Bisa Berekspresi Secara Positif

Share this article
IMG 20260215 WA0023
Foto : Istimewa/GM

CIREBON, GM – Perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar. Ia adalah momentum refleksi, kebersamaan, dan harapan baru. Di dalamnya ada budaya mudik, berkumpulnya keluarga lintas generasi, doa kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur nilai yang sangat selaras dengan budaya Nusantara, khususnya di Kota Cirebon.

Hal ini diungkapkan Pengamat Budaya Tionghoa Cirebon, Hetta Mahendrati Latumeten. Menurutnya, Imlek mengajarkan tentang syukur dan harapan baru, menutup tahun dengan evaluasi, dan membuka tahun dengan tekad.

“Dalam Imlek, ada bakti kepada orang tua dan leluhur, nilai yang juga kuat dalam budaya Jawa dan Sunda. Ada juga kebersamaan keluarga (mudik) atau tradisi pulang kampung yang bukan hanya milik satu etnis, tetapi menjadi budaya nasional. Serta ada semangat berbagi lewat angpao di mana bukan soal materi, tetapi simbol doa dan kebaikan,” ujar Hetta.

Hetta juga memaparkan, sejarah mencatat bahwa interaksi Tiongkok dengan Nusantara telah berlangsung bahkan sebelum kedatangan armada Cheng Ho. Hubungan dagang dan budaya telah lebih dulu terjalin melalui jalur maritim.

“Di Cirebon, sinergi budaya terlihat jelas dalam sejarah Sunan Gunung Jati dan pernikahannya dengan Putri Ong Tien. Perpaduan budaya ini membentuk karakter Cirebon yang terbuka, inklusif, dan kaya warna. Arsitektur Keraton Kasepuhan, ornamen-ornamen naga, keramik Tiongkok, serta kawasan sekitar makam Sunan Gunung Jati menjadi bukti bahwa budaya Tionghoa bukan unsur asing tetapi bagian dari perjalanan sejarah kota ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, Cirebon berdiri di atas fondasi akulturasi. Budaya Tionghoa dan budaya Jawa tidak saling meniadakan, melainkan saling menguatkan.

“Dahulu, perayaan Imlek dan ekspresi budaya Tionghoa dilakukan secara tertutup. Tulisan Mandarin, barongsai, dan ornamen khas Tiongkok sempat dibatasi.Hari ini, negara memberi ruang. Kawasan Pecinan dibentuk dan ditata, tulisan Mandarin diperbolehkan, bangunan dapat direnovasi sesuai karakter budaya sebagai ikon wisata. Ini bukan sekadar izin, ini adalah pengakuan bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa,” katanya.

Baca Juga :  Malam Penyerahan Hadiah Turnamen Pormas Tingkat Kelurahan Kesenden 2025

Keberanian pemerintah daerah, termasuk Wali Kota Cirebon bersama Forkopimda, menurut Hetta, menunjukkan komitmen membangun kota yang damai, sejahtera, dan bersinergi dalam bingkai NKRI.

“Budaya Tionghoa hari ini tidak hanya dijaga oleh komunitasnya sendiri. Banyak masyarakat Jawa dan Sunda turut melestarikan nilai-nilai penghormatan kepada orang tua, sesepuh, dan pendiri bangsa nilai yang juga menjadi roh Imlek.
Semangat ‘hormat pada leluhur, bakti kepada orang tua, dan menjaga persaudaraan’ adalah nilai universal.
Kita belajar bahwa keberanian membangun lebih penting daripada ketakutan masa lalu. Identitas budaya bukan penghalang, melainkan kontribusi bagi Indonesia,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti terkait kawasan Pecinan di Kota Cirebon yang bukan hanya simbol sejarah, tetapi peluang masa depan.

“Bila dikelola serius, bisa menjadi destinasi wisata budaya, menghadirkan festival Imlek dan Cap Go Meh berskala nasional, menggerakkan UMKM, kuliner, pengrajin, dan ekonomi kreatif, juga membuka lapangan kerja bagi generasi muda Cirebon.Sekarang bukan lagi era bersembunyi. Ini adalah era pembuktian.
Komunitas Tionghoa Cirebon tidak perlu ragu, sebab negara hadir. Pemerintah membuka ruang. Saatnya membuktikan bahwa budaya yang dijaga dengan niat baik akan menjadi kekuatan pembangunan,” ujarnya.

Ia pun berpesan untuk masyarakat Cirebon sebagai bagian dari masyarakat Cirebon yang peduli terhadap pelestarian budaya positif.

“Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk berani tampil dan berkontribusi, mendukung kebijakan yang membangun, menjadikan Pecinan sebagai ikon baru kota, menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan Indonesia.Di tahun yang baru, mari kita
Membangun tanpa rasa takut, bersinergi tanpa prasangka, menghormati leluhur dan membangun masa depan.
Cirebon adalah kota sejarah, kota percampuran budaya dan kota toleransi.
Kini saatnya menjadikan warisan budaya sebagai kekuatan ekonomi dan persatuan bangsa,” tutur Hetta. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *