Opini

Ngopi Teras: Tanpa-Mu Aku Rapuh

41
×

Ngopi Teras: Tanpa-Mu Aku Rapuh

Share this article
IMG 20260405 WA0018
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Jaga Lisanmu, Tangisi Dosamu”

DUNIA adalah medan amal, tempat kita menyemai kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan yang abadi kelak. Namun, dengan segala bentuk ujian, ditambah dengan berbagai aktivitas yang melelahkan, umumnya membuat langkah kita kerap tersendat, hati galau dan hidup terasa tak bermakna. Bahkan tak sedikit yang kehilangan jejak untuk meniti rangkaian kebaikan, terlempar dari panggung amal baik, lalu terjebak pada amal buruk.

Dinamika dan fenomena semacam itu terjadi di berbagai tempat dan kota seperti Bandung, Jakarta, Yogjakarta, Surbaya, Medan, Makasar, Mataram dan sebagainya, termasuk di Kota Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Betul bahwa lelah itu manusiawi saja, sebab kita tercipta demikian. Namun, bila dibiarkan tanpa kendali, maka kita bakal jadi sosok yang mengalah, bahkan kehilangan pegangan. Bila demikian, kita bakal menjadi sosok yang rapuh dan terus terjatuh, hingga menjauh dari jalan petunjuk-Nya.

Karena itu, mengikuti berbagai kegiatan positif atau kebaikan adalah langkah jitu dan mesti menjadi prioritas kita. Bila setiap hari fisik kita butuh makanan dan minuman, maka jiwa kita sejatinya membutuhkan pembenahan melalui proses apa yang saya sebut sebagai “re-connect”, sambung kembali. Bila salah melangkah, hati galau dan tujuan tak terarah, maka kita mesti lebih giat melakukan proses “re-connect”. Kita mesti berupaya menyambungkan diri kita pada lingkungan dan komunitas kebaikan, sehingga tetap dalam kebaikan atau kembali pada jalan kebaikan.

Saya sangat bersyukur, haru dan bangga dengan apa yang dilakukan oleh komunitas Sahabat al-Quran dan Remaja Masjid Al-Falah Wae Mata, di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT pada Ahad 4 April 2026 malam. “Ngobrol Perkara Iman Di Teras Masjid” (Ngopi Teras), begitu naman kegitannya. Pada acara yang berlangsung di halaman Masjid Nurul Falah dan bertema “Tanpa-Mu Aku Rapuh” ini menghadirkan salah satu tokoh pendidikan, dai dan ulama muda Manggarai Barat, juga sahabat baik saya Ustadz Mohamad Yasin, S.Pd.

Baca Juga :  NTB Sukses Menjadi Tuan Rumah Fornas VIII 2025

Alhamdulillah saya mendapatkan beberapa detik potongan cuplikan apa yang disampaikan oleh alumni Pondok Pesantren Nurul Hakim Lombok (1996-2002) dan STAI Luqmanul Hakim Surabaya kelahiran Cereng, Golo Sengang, Sano Nggoang tersebut. Ustadz Yasin, demikian saya akrab menyapanya, membaca sebuah riwayat atau hadits qudsi yang menyebutkan bahwa Allah berfirman, “Siapa saja yang tidak rela menerima ketetapan-Ku (takdir-Ku) dan tidak sabar menghadapi ujian-ujian-Ku kepada dirinya, silahkan dia mencari Tuhan selain Aku.” (HR. ath-Thabrani dan Ibnu ‘Asakir)

Bila kita telaah dari sisi kualitas dan kesahihan, hadits tersebut sanadnya lemah, karena di dalamnya ada rawi bernama Said bin Ziyad dan Faid bin Ziyad. Dalam pandangan para ulama hadits, keduanya adalah rawi yang sangat lemah. Walau demikian, matan atau isinya tidak bertentangan dengan ayat al-Qur’an dan hadits sahih.

Bahkan riwayat tersebut memiliki pesan yang sama dengan riwayat lain, misalnya, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim) “Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad). Maknanya, kita mesti menerima apapun ketentuan-Nya dan jangan cengeng!

Sembari gembira, saya sekadar mengairmasi apa yang disampaikan oleh Ustadz Yasin pada forum asyik tersebut. Dalam buku saya yang berjudul “Ketika Allah Memilihmu” (terbit Maret 2025), saya pernah menyinggung, bahwa Allah menguji kita dengan berbagai macam cobaan, dan kita tidak dapat lari dari cobaan atau ujian yang Allah timpakan pada diri kita. Allah tetapkan seseorang menjadi perempuan atau laki-laki, maka dia tidak bisa menolak ketetapan ini. Intinya, kita harus menerima ketentuan Allah sekalipun hati kita tidak menyukainya.

Baca Juga :  Satu Senja, Satu Tekad: Alumni KMMI 2024 Menguatkan Langkah Menuju Ramadhan

Di dunia ini, nasib manusia bermacam-macam, ada yang baik dan ada yang nestapa. Kondisi yang kita hadapi harus diterima dengan penuh kesabaran. Sebab kalau kita tidak sabar, lalu ke mana kita menggugat? Siapa yang Allah takdirkan belum diberikan jodoh, misalnya, lalu dia tidak terima, ke mana dia akan menuntut? Orang yang Allah takdirkan sakit keras, dia tidak terima, lalu ke mana dia mengadukan nasibnya? Sungguh, Allah berkuasa mengatur nasib kita, baik yang kita sukai maupun tidak kita sukai.

Bahkan ajal kematian kita masing-masing hanya Allah yang menetapkan. Ia adalah jalan sekaligus takdir yang tak bisa dimajukan atau diundurkan. Allah berfirman, “Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Munafiqun: 11). Dalam ayat lain Allah ingatkan, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. an-Nisa’: 78)

Lalu, apabila kita membenci kematian, ke mana lagi kita hendak mencari perlindungan selain kepada Allah? Bukankah segala upaya melarikan diri dari takdir Allah hanyalah sia-sia? Bila kita tidak ridha bertuhan pada Allah, karena mengalami cobaan-cobaan dari Allah, ke mana lagi kita mencari Tuhan? Apakah kita dapat melarikan diri dari Allah, Tuhan yang menentukan perjalanan hidup kita yang sesungguhnya?

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” begitu firman Allah dalma surat al-Baqarah ayat 155. Intinya, tidak ada ujian dan cobaan yang datang kepada kita melainkan Allah telah mempersiapkan semuanya. Ia memberi ujian dan cobaan kepada kita sesuai dengan kemampuan kita.

Baca Juga :  Khidmat HMI Untuk Indonesia

Kuncinya adalah kembali (ar-ruju’) dan bersama dengan Allah (al-ma’iyah). Kita melakukan “re-connect” dengan Allah sesuai kandungan kalimat “istirjaa” atau pernyataan kembali kepada Allah dalam al-Qur’an. Allah mengingatkan kita, “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS. al-Baqarah: 156).

Ya, kita memang hanya milik Allah, karena itu, kita mesti kembalikan semuanya kepada Allah. Mengapa demikian? Sebab kata Allah, “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah: 157). Jadi, teruslah mengikuti kegiatan komunitas seperti Ngopi Teras, lakukan proses pembenahan diri dan mendekatlah kepada Allah. Sungguh, tanpa Allah kita bakal rapuh, bahkan bisa jadi kita kehabisan momentum untuk mengumpulkan bekal menuju jalan pulang: ajal kematian. Yuk “never give up, keep fight!” dan ucapkan ini dengan tulus: Faghfirlanaa Yaa Ilahanaa! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *