Opini

Pak Yusuf Gafur; Optimisme untuk Pemuda dan Olahraga Mabar

83
×

Pak Yusuf Gafur; Optimisme untuk Pemuda dan Olahraga Mabar

Share this article
IMG 20260203 WA0094
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Selamat Datang Di Manggarai Barat”

EKSISTENSI pemuda di Manggarai Barat (Mabar), NTT dari waktu ke waktu cukup membanggakan. Tak sedikit pemuda yang mengambil bagian dalam pembangun daerah di sektor pemerintahan dan partai politik. Di samping itu, ada juga pemuda yang aktif dan bergerak di bidang organisasi kepemudaan dan organsiasi keagamaan dengan berbagai kegiatan edukasi dan sosial kemasyarakatan yang layak diacungi jempol.

Bahkan tak sedikit pemuda yang memilih berprofesi sebagai guru, dosen dan pengusaha. Walaupun jumlahnya masih sedikit, tapi kita layak memberi apresiasi. Sebagian mereka ada juga yang aktif di berbagai organsiasi yang berkaitan dengan pariwisata, budaya dan transportasi. Selain itu, ada juga yang aktif di sektor ekonomi kreatif, industri rumahan (home industry) dan UMKM, bahkan pedagang, petani dan nelayan.

Hal lain, geliat olahraga di Manggarai Barat selama beberapa tahun terakhir cukup menggembirakan. Kompetesi berbagai macam olahraga berlangsung di beberapa kesempatan seperti momentum Natal, Paska, Tahun Bau, Idul Fitri, Idhul Adha, Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, dan sebagainya.

Kegiatan olahraga berlangsung di beberapa titik kawasan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah atau dinas terkait, maupun oleh organisasi kepemudaan dan keagamaan, bahkan kolaborasi antar berbagai komunitas dan wilayah. Olahraga yang cukup menarik dan kerap dipertandingkan adalah sepak bola dan bola voly. Belakangan, kalangan pelajar dan pemuda juga geliat dalam mengembangkan olahraga bola futsal.

Catatan Kaki dan Tantangan

Hanya saja, kita tentu memiliki catatan kaki perihal eksistensi pemuda Mabar. Kita harus akui secara jujur bahwa (1) masih ada pemuda Mabar yang belum memiliki profesi tertentu. Tantangan besarnya adalah (2) lapangan kerja yang belum menjangkau semua pemuda, (3) keterampilan dan pengalaman kerja yang belum merata, serta (4) modal usaha yang tidak terbuka lebar sebagaimana yang umumnya terjadi di kota-kota besar.

Baca Juga :  Islam Menjawab Fenomena Konsumerisme

Pada aspek olahraga, kita mesti akui bahwa geliat olahraga di Mabar masih membutuhkan penguatan dari berbagai sisi. Misalnya, (1) fasilitas yang belum memadai seperti lapangan sepak bola, lapangan voly, dan lapangan futsal yang lebih representatif. Selain itu, (2) anggaran daerah juga belum menjangkau secara merata rencana sekaligus kebutuhan pengembangan olahraga.

Aspek lain yang tak kalah pentingnya adalah (3) masih belum optimalnya edukasi masyarakat di sektor olahraga, (4) pendidikan dan pelatihan bibit generasi dari usia dini masih perlu penguatan dan pembinaan berkelanjutan, serta (5) pengembangan dan penguatan kelembagaan, baik di sektor pemerintah maupun swasta atau komunitas yang perlu ditindaklanjut dalam aksi nyata.

Jalan Keluar

Bila menelisik berbagai fakta dan tantangan di atas, maka pemerintah daerah dan elemen masyarakat lintas latar belakang perlu memperhatikan beberapa hal penting. Sehingga eksistensi pemuda semakin diperhitungkan dan olahraga semakin geliat. Harapannya, mampu menopang agenda pembanguan untuk memajukan Mabar.

Pertama, penguatan kelembagaan. Dalam hal pembinaan pemuda dan agenda memajukan olahraga daerah, maka Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga terutama Bidang Pemuda dan Olahraga memiliki peran dan tanggung jawab besar. Pejabat terkait mesti memiliki kepekaan, kepedulian dan langkah jitu dalam rangka pembinaan pemuda dan olahraga daerah. Aparat terkait menjadi motor penentu yang menggerakkan pemuda dan olahraga daerah.

Kedua, kejelasan anggaran. Kata kunci yang tidak bisa dianggap remeh adalah anggaran. Pembinaan pemuda dan olahraga butuh anggaran besar. Dalam rangka itu, Kepala Daerah dan DPRD Mabar perlu mensiasati dari sisi kebijakan dan penganggaran dengan melibatkan elemen terkait, terutama pengusaha dan komunitas olahraga di Mabar, bahkan tokoh nasional.

Ketiga, ketersediaan fasilitas. Pembinaan pemuda dan olahraga pasti membutuhkan fasilitas yang memadai. Dalam konteks itu, fasilitas pengembangan minat-bakat dan keterampilan mest tersedia. Balai Latihan Kerja (BLK) dan gedung fasilitasi pengembangan sekaligus penguatan keterampilan menjadi keniscayaan.

Baca Juga :  Racun Media dan Urgensi Literasi Qur'ani

Begitu juga lapangan sepak bola, futsal dan vola voly perlu dilakukan pembenahan, terutama dari sisi elemen dan kualitasnya. Bahkan perlu fasilitas baru dengan sarana-prasarana yang relevan dengan kebutuhan. Adanya fasilitas semacam itu memungkinkan kalangan muda Mabar mendapatkan edukasi dan penguatan yang lebih memadai. Bila maju olahraga dan pemudanya, maka maju daerahnya!

Kolaborasi dan Optimisme

Pada dasarnya pemuda Mabar memiliki potensi yang dapat menunjang program daerah. Hal ini terutama, karena tak sedikit yang berpengalaman di lembaga pendidikan tinggi, termasuk akses media dalam membaca dan mendalami berbagai hal seputar kepemudaan. Baik lapangan kerja dan jenis usaha maupun peluang lainnya.

Namun demikian, mereka butuh (1) penguatan keterampilan, (2) akses modal usaha dan (3) lapangan kerja. Di sinilah letak pentingnya kolaborasi berbagai pihak. Pemda Mabar, pengusaha dan organisasi kepemudaan di Mabar perlu duduk bersama untuk merumuskan semuanya. Dunia perbankan juga mesti terlibat, terutama dalam dalam akses permodalan. Club sepak bola, club bola voly dan club bola futsal perlu diajak bicara, sehingga geliat olahraga daerah, semakin menggembirakan.

Bila memperhatikan fenomena sepak bola, bola voly dan bola futsal di beberapa kota seperti Bandung, Surabaya dan Jakarta, dapat dikatakan tiga olahraga tersebut benar-benar menjadi magnet tersendiri. Bukan saja sebagai olahraga, tapi juga sebagai magnet ekonomi kreatif dan UMKM warga.

Tak sedikit kalangan muda yang menjadi pengusaha dan aktif di sektor ekonomi kreatif yang berkaitan dengan tiga olahraga tersebut. Bahkan mereka juga bisa membuka lapangan kerja untuk kalangan muda. Kemampuan untuk mengkoneksikan pemuda dalam kegiatan olahraga dan ekonomi kreatif membutuhkan otak waras, langkah baru dan aksi gila.

Lalu, bagaimana dengan Mabar? Itulah pekerjaan besar Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, terutama Bidang Pemuda dan Olahraga Mabar kini dan ke depan. Berbagai hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah, terutama bagi Bidang Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga. Tapi, tantangan tersebut sejatinya membuka peluang besar bagi upaya memajukan daerah di sektor kepemudaan dan olahraga. Lagi-lagi, di sini membutuhkan otak waras, langkah baru dan aksi gila.

Baca Juga :  Hukum Bisa Direkayasa, Tapi Alam Tak Pernah Bohong

Berkaitan dengan hal tersebut, kita mendapat angin segar ketika Yusuf Gafur, S.Pd. didaulat sebagai Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Mabar. Sosok asli Kampung Lando, Desa Golo Manting, Kecamatan Sano Nggoang ini dilantik sebagai Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Mabar, pada Selasa 3 Februari 2026.

Yusuf Gafur adalah sosok yang memiliki perhatian dan kepedulian pada isu kepemudaan dan olahraga. Ia juga akrab dengan kalangan muda Mabar lintas latar organsiasi. Mandat baru ini menjadi tangga uji ril bagi sosok yang mudah senyum ini. Dalam dugaan saya—kelahiran Cereng, Desa Golo Sengang, Kecamatan Sano Nggoang pada 8 Agustus 1983 silam—yang sangat terbatas, ia adalah sosok otak waras, punya langkah baru dan siap menjalankan aksi-aksi gila.

Pengalamannya mungkin belum seberapa di bidang pemuda dan olahraga, tapi kemampuan komunikasi dan jaringannya yang cukup luas sangat memungkinkan dirinya mampu menjadi sosok yang membuat kita semakin optimis pada pemberdayaan pemuda dan memajukan olahraga di Mabar ke depan. Bila maju pemuda dan olahraganya, maka besar kemungkinan maju daerahnya. Akhirnya, selamat bertugas Pak Yusuf Gafur! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *