Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Merawat Indonesia”
ADA baiknya kita baca dan renungi berkali-kali firman Allah dalam al-Quran surat at-Tahriim ayat 6 berikut ini, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Pertanyaannya, anak kita sudah dididik seperti apa sehingga kelak pada usia seperti usia Presiden Prabowo Subianto saat ini kualitasnya lebih dari Presiden Prabowo Subianto dan sudah layak memimpin Indonesia? Apakah aqidah atau iman, ibadah dan bacaan al-Quran anak-anak kita sudah benar? Apakah kita sudah jadi orangtua yang layak dicontoh oleh anak-anak kita dalam ibadah dan akhlak baik sehari-hari?
Kita kadang lebih sibuk mencela pemimpin di level negara tapi kita sendiri tidak mampu memimpin rumah tangga. Kita habis-habisan mencela pemimpin negara tapi kita tidak mampu memimpin anak-anak kita sendiri. Sebagai orangtua tak sedikit diantara kita yang meninggalkan shalat lima waktu, tidak kenal shalat sunah dan belum bisa membaca al-Quran dengan benar. Bahkan belum paham arti dan maksud bacaan shalat.
Kita lebih pandai menghina pemimpin negara kita tapi sebagai kepala keluarga kita malas menjalankan perintah Allah seperti shalat lima waktu, shaum Ramadan dan sebagainya. Kita berharap dengan gegap gempita punya pemimpin hebat di level negara tapi kualitas kita sebagai pemimpin keluarga sangat jauh bahkan di bawah rata-rata. Kita menghina pemimpin level negara, padahal kita tidak becus memimpin rumah tangga. Bahkan anak kita enggan mencontoh kepada kita sendiri.
Itulah biang utama mengapa kualitas pemimpin bangsa kita tak jauh dari kualitas kita, baik sebagai orangtua bagi anak-anak kita maupun sebagai warga negara. Bagaimana kualitas kita begitulah pemimpin yang kita dapatkan. Bagaimana cara kita menjalankan peran sebagai pendidik utama dan pertama keluarga maka begitulah pemimpin yang akan kita peroleh. Pemimpin di level negara adalah cermin diri kita sendiri sebagai warga negara juga orangtua bagi anak-anak kita.
Bila kita sebagai orangtua tidak peduli anak kita bisa baca al-Quran atau tidak, maka jangan pernah berharap pemerintah peduli pada kita. Sering-seringlah mengarahkan telunjuk kita kepada diri kita sendiri. Tak sedikit orangtua yang sibuk bermain hp dan tidak peduli untuk memastikan bacaan shalat anaknya benar dan sesuai dengan dalil yang benar dan dicontohkan oleh Rasulullah. Kita pun sering tidak mau tahu iman dan akhlak anak kita sendiri.
Bila anak kita di rantauan, sebagai orangtua kita tidak pernah bertanya tentang ibadah anak kita. Kita tidak peduli anak kita paham agama atau tidak. Bagaimana mau bertanya tentang ibadah anak, diri sendiri saja meninggalkan kewajiban utama. Lagi-lagi, penentu utama terbentuknya moral dan integritas bangsa ini adalah para orangtua di rumah. Kita tidak saja bertanggungjawab atas kebutuhan materi anak kita tapi juga akhlak dan spiritual anak kita.
Bila kita merasa partai politik gagal melahirkan pemimpin berkualitas, maka itu mestinya jadi cambuk bagi kita untuk lebih giat dalam mendidik anak di rumah sebagai calon pemimpin bangsa selanjutnya. Didik anak-anak kita jadi pemimpin hebat sejak dini. Perkuat imannya dengan mengenalkan rukun iman dan maksud dari setiap rukun iman. Ajarkan rukun Islam dan apa saja maksud dan seperti apa pelaksanannya dalam kehidupan nyata. Didik mereka jadi anak yang jujur, telaten dan disiplin juga berakhlak mulia.
Kita kerap mengkritik pemerintah agar efesien anggaran dan serupanya. Sekarang, silahkan bertanya balik pada organisasi dimana kita terlibat. Bila organisasinya mendapat jatah Dana Hibah dan proyek dari pemerintah, apakah pertanggungjawabannya terbuka dan diketahui oleh semua pengurus dan anggota, atau menguap entah ke mana? Kita kerap brisik tentang korupsi pejabat negara, tapi kita makan Dana Hibah dengan laporan palsu.
Kita kerap berpidato agar mendapat pemimpin yang berkualitas, tapi kita gagal menjadi warga negara yang berkualitas. Kita hanya kritis bila itu bertentangan dengan kepentingan kita, bukan karena agenda mendasar untuk perbaikan bangsa ke arah yang lebih baik. Kita kerap kritis karena tidak mendapatkan jatah anggaran dan proyek. Tapi bila sudah mendapat jatah, kita berdiam seribu bahasa. Kita pun kerap malas bercermin diri. Padahal pemimpin negara kita adalah cermin dari diri kita sendiri.
Mari baca dan renungi hadits ini, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Pemimpin negara dalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut”. (HR. Bukhari). (*)





