Opini

Peradaban Islam dan Tradisi Baca Kita

32
×

Peradaban Islam dan Tradisi Baca Kita

Share this article
IMG 20260105 WA0001 1
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syansudin Kadir

Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh

ISLAM adalah agama yang sangat akrab dengan tradisi keilmuan: baca, tulis dan diskusi termasuk penelitian. Dalam al-Qur’an Allah berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. al-Alaq: 1-5)

Iqra’ atau perintah membaca adalah kata pertama dari wahyu pertama yang dierima oleh Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kata ini demikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam wahyu pertama. Perintah membaca tentu bukan saja ditujukan kepada Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wasallam, tapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah umat manusia. Sebab realiasasi perintah tersebut nerupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Perintah membaca dalam al-Qur’an, tidak terbatas hanya membaca teks tapi juga konteks. Kata iqra’ juga mencakup tradisi menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya yang dikaitkan dengan kata-kata “dengan (menyebut) nama Tuhanmu”. Hal ini bukan saja menuntut si pembaca membaca dengan ikhlas, tapi juga memilih bacaan yang tidak mengantarnya pada hal-hal yang bertentangan dengan syariat “Allah”.

Fakta Peradaban Islam

Bila kita menelisik pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islan dari masa ke masa, dapat kita katakan bahwa hal tersebut terjadi karena kesungguhan para sahabat dan ulama atau generasi selanjutnya mampu menjalankan perintah “iqra’” dalam tataran praktis dan menyeluruh.

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah para pencinta ilmu. Mereka adalah generasi terbaik manusia yang pernah ada di muka bumi ini. Mereka dikenal sangat giat dalam mendalami berbagai ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Mereka adalah generasi yang haus ilmu dan amal. Mereka adalah teladan para generasi setelahnya hingga kita saat ini.

Baca Juga :  Fornas VIII 2025: Dari NTB untuk Indonesia dan Dunia

Lebih khusus, sekitar seribuan tahun yang lalu, tepatnya pada masa kejayaan Dinasti Abbasiyah (750-946 M/132-334 H), sebuah peradaban penting tampil di muka bumi dengan pesona yang mengagumkan. Peradaban yang berpusat di Kota Bagdad itu kemudian sering dikenali sebagai the Golden Age atau era keemasan peradaban Islam.

Peradaban tersebut adalah peradaban ilmu, dimana berbagai aktivitas intelektual dengan sangat menonjol mewarnai kehidupan masyarakat, kalangan bangsawan dan penguasa era itu. Menurut catatan sejarawan Dr. Ahmad Syalabi, berkembangnya peradaban ilmu ini antara lain ditandai dengan menggeliatnya gerakan penulisan buku (harakat al-tasnif), serta menjamurnya gerakan penerjemahan (harakat al-tarjamah) secara masif.

Berbagai mata ilmu berkembang sangat pesat karena geliatnya tradisi baca, di samping tradisi lanjutannya yaitu penulisan, penelaahan, penelitian, menghimpun dan sebagainya. Sehingga tercipta karya-karya lintas disiplin ilmu seperti kitab hadits, kitab tafsir, kitab fiqih, kitab siyasah, kitab muamalah, kitab bahasa, kitab kedokteran, dan berbagai macam tema keilmuan yang dapat kita baca sampai saat ini.

Tradisi Baca Kita

Kita mesti akui secara jujur bahwa kita dapat mengenal, memahami dan mengamalkan ajaran Islam karena jasa besar para ulama dari dulu hingga saat ini. Mereka telah melakukan lakon sejarah yang sangat monumental, yang awalnya adalah giat membangun tradisi baca. Tradisi ini tentu menghendaki adanya tradisi lanjutan seperti penulisan, penelaahan, penelitian, menghimpun dan sebagainya. Tapi lagi-lagi, awalnya adalah ‘iqra, menjalankan perintah “bacalah!”.

Pertanyaan pentingnya, lalu bagaimana dengan tradisi baca kita saat ini? Kita sejatinya masih dapat melanjutkan tradisi para pendahulu itu di era kita dan era selanjutnya oleh generasi setelah kita. Tugas kita adalah mengikuti langkah dan jejak para pendahulu, termasuk dengan mengkaji dan mendalami karya mereka lintas latar sekaligus tema keilmuan, lalu melakukan proses adaptasi di tengah tantangan dan situasi kekinian umat Islam. Kita dapat melakoni hal semacam itu ketika kita memiliki tradisi baca yang kuat. Lagi-lagi, kuncinya adalah terjaganya tradisi baca.

Baca Juga :  Dampak Ganda Ramadan; Dari Takwa Hingga Keberdayaan Sosial

Manfaat Tradisi Baca

Tradisi baca yang kita bangun akan memperoleh daya dorong yang kuat bila kita memahami apa saja manfaat tradisi baca itu sendiri. Diantara manfaat membaca yaitu, pertama, menambah wawasan dan meluaskan cakrawala. Para tokoh besar dalam sejarah umat manusia, termasuk sejarah bangsa kita adalah pembaca yang sangat aktif.

Mengapa demikian? Karena mereka paham betul bahwa dengan membaca wawasan dan cakrawala mereka semakin luas. HOS. Cokroaminoto, Bung Karno, Kiai Haji Agus Salim, Bung Hatta, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Pak Mohamad Natsir, Ustadz Ahmad Hasan, KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, KH. Wahid Hasyim, Buya Hamka, dan tokoh lainnya adalah pembaca aktif.

Generasi berikutnya termasuk generasi belakangan ini juga adalah pembaca yang aktif. Misalnya, Presiden BJ. Habibie, Presiden Abdurahman Wahid alias Gusdur, Prof. M. Amin Rais, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden Prabowo Subianto, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Haedar Nashir, Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi, Dr. Adian Husaini, Pak Ahmad Syaikhu, Ustadz Anis Matta, Anies Baswedan, Pak Dahlan Iskan, Bang Fahri Hamzah, Bang Fadly Zon, dan tokoh-tokoh lainnya.

Kedua, menemukan jawaban dari setiap pertanyaan. Kita tentu ingin mendalami sesuatu, baik yang berkaitan dengan kebutuhan hidup kita maupun kehidupan orang lain. Dengan membaca berbagai sumber bacaan, maka kita akan menemukan penjelasan tentang apa yang hendak kita dalami. Termasuk mendapat jawaban dalam beragam perspektif. Kita dapat mengambil inspirasi dari pengalaman banyak orang, termasuk melalui buku karya mereka.

Ketiga, menambah perspektif tentang berbagai hal. Dengan membaca, maka kita akan menemukan perspektif baru tentang apapun, baik sedang kita tekuni maupun sesuatu yang belum kita tekuni. Menambahnya perspektif sangat memungkinkan kita untuk memahami sesuatu dari sudut dan radar pemahaman yang lebih luas, sehingga kita tidak kaku dalam bersikap atau tidak sempit dalam berpikir.

Baca Juga :  Trik Menulis Buku

Keempat, menambah ide atau gagasan. Pada setiap sumber bacaan yang kita baca tentu terdapat ide atau gagasan tertentu. Semakin giat kita membaca maka semakin terbuka lebar peluang bagi kita untuk mendapatkan ide atau gagasan segar yang bisa digunakan dalam meniti karier, kehidupan dan memahami realitas sosial.

Membangun tradisi baca memang butuh proses panjang. Kita butuh berjuang dan berkorban banyak hal, sehingga kita benar-benar memiliki rasa cinta yang mendalam dan giat dalam menjaga tradisi baca kita. Niat baik, tekad dan kesungguhan dari dalam diri mesti dijaga dan terus dikokohkan. Sebab sebesar apapun motivasi dari luar diri kita, tetap saja kuncinya adalah motivasi dari diri kita sendiri.

Ingat, peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh tradisi baca yang kuat. Kita tentu sangat ingin menjadi bagian dari barisan pejuang yang mampu menghadirkan peradaban islami di seluruh penjuru bumi, terutama di Indonesia. Kunci utamanya adalah tradisi baca kita, di samping tradisi menulis dan tradisi lainnya seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Insyaa Allah setiap niat, tekad dan tradisi baik, termasuk tradisi baca yang kita giatkan, akan mendapat kekuatan dan keberkahan dari Allah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *