Oleh: Syamsudin Kadir
Departemen Pendidikan Karakter Majelis Pimpinan Pusat ICMI 2025-2026
PADA medio 1996-2002, saya berkesempatan menjadi santri atau nyantri di Ponpes Nurul Hakim yang berlokasi di Kediri, Lombok Barat, NTB. Kala itu saya mengikuti program umum, dari MTs hingga Madrasah Aliyah, selama enam tahun lamanya. Sebagai lulusan sekolah Katolik, tepatnya Sekolah Dasar Katolik (SDK) di sebuah kampung di Manggarai Barat, NTT, saya merasakan manfaat dari proses pendidikan di Nurul Hakim sejak dulu hingga saat ini.
Setelah lulus kuliah di UIN Bandung dan UI Bunga Bangsa Cirebon, semuanya di Jawa Barat, pada saat yang sama saya juga berkarir dan menikah. Dari 5 anak saya, anak sulung saya yaitu Azka Syakira adalah anak yang begitu antusias untuk melanjutkan pendidikan di tempat saya nyantri dulu. Hanya saja, bila saya di program umum, sementara si sulung memilih Program Pendidikan Khusus Kuliyatul Mu’alimin wal Mu’alimat al-Islamiyyah (PPKh KMMI) Putri, tepatnya di Kampus 2.
Kenangan Saat Liburan
Sejak 12 hingga 29 Maret 2026, Azka Syakira berlibur. Karena jarak dan waktu liburan yang tak terlalu lama, ia tidak sempat berlibur ke Jawa Barat, lebih memilih untuk berlibur di Kota Mataram, seperti beberapa kali momentum liburan sebelumnya. Tepatnya di Kotsan keluarga dari Manggarai Barat, NTT yang letaknya dekat dari Universitas Muhammadiyah Mataram. Namanya Kakak Wiwin Ariati. Terhitung sejak awal di Lombok, ia sudah mengenalnya, juga beberapa adiknya.
Dari beberapa momentum liburan, saya selalu memperhatikan perkembangan Azka Syakira dari berbagai sisi. Seingat saya, saya mencatat dari beberapa aspek berikut ini. Pertama, komunikasi. Azka Syakira kali ini semakin komunikatif bila dibandingkan dengan sebelumnya. Ia sering memulai pembicaraan dan selalu menjawab bila ditanya, baik oleh saya dan bundanya maupun oleh adik-adiknya. Ia terlihat lebih lepas dan benar-benar komunikatif bila dibandingkan beberapa momentum liburan sebelumnya.
Kedua, riang gembira. Kali ini, Azka Syakira juga terlihat lebih riang dan gembira. Dugaan saya, ia sudah semakin memahami lingkungan dan dinamika kehidupan di pondok, sehingga lebih nyaman dan tak canggung lagi. Saat menelpon kami sekeluarga di Jawa Barat, ia begitu ceria dan memperlihatkan dirinya sangat gembira. Saat menelpon atau ditelpon, ia selalu memperlihatkan wajah yang menyenangkan. “Alhamdulillah Azka senang di Nurul Hakim,” akunya suatu ketika.
Ketiga, aktif menyapa. Pada liburan kali ini, Azka Syakira juga lebih aktif menyapa, bahkan ia lebih sering menelpon duluan daripada saya, bunda dan adik-adiknya. Ia selalu bertanya kabar, terutama ke adik-adiknya. Mereka pun kerap bertanya soal hafalan al-Quran yang sama-sama mereka cicil di sela-sela belajar sebagai santri dan pelajar. Termasuk tentang bahasa Arab. Sebagai orangtua, saya dan istri saya tentu sangat senang melihat mereka bisa saling menyapa dengan riangnya.
Keempat, lebih semangat. Azka Syakira juga terlihat lebih semangat dari sebelumnya. Geliat semangatnya terlihat dari saat ia bercerita tentang suasana di pondok dan proses pembelajaran selama setahun lebih ia nyantri. Ia mengaku, mendapatkan dukungan dan motivasi yang tinggi dari para pembina dan ustadzah, terutama Ustadzah Novita Kurratul Aini, juga dari kakak kelas juga teman sebaya atau adik kelas. Baginya, Nurul Hakim benar-benar membuatnya semakin semangat untuk belajar dan mencintai ilmu.
Dalam beberapa kali menelpon si sulung, saya selalu mengingatkan dia tentang pentingnya niat ikhlas dalam mencari ilmu dan menjaga adab pada guru sebagai orangtua dalam ilmu. Saya sering mengingatkan dia sebuah kutipan dalam kitab “Ta’lim al-Muta’alim” karya Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji, dalam pasal “Menghormati Ilmu dan Ahli Ilmu”. Beliau mengatakan, “Orang-orang yang berhasil dalam mencari ilmu, itu karena mereka sangat menghormati serta memuliakan ilmu dan gurunya”.
Ahad 29 Maret 2026 sore, Azka Syakira kembali ke pondok. Menjelang ia ke pondok, saya berpesan padanya: Nak, jaga niat ikhlas hanya karena Allah. Kita memiliki dan milik Allah. Ia adalah Zat yang Berkuasa atas segalanya. Ayah, bunda dan adik-adikmu selalu mendoakan “barokallah” dan berharap lebih giat dalam ibadah baik wajib maupun sunahnya, rajin berdoa, giat belajar, taati para tuan guru juga pembina atau ustadzah, jaga ukhuwah dengan sesama santriwati dan semakin tawadhu juga qona’ah dalam menjalani kehidupan. (*)






