Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”
Alhamdulillah kita sudah memasuki pertengahan Ramadan 1447 H. Shaum Ramadan bagai perjalanan panjang, dari satu tempat ke empat yang sangat jauh berupa tujuan akhir yaitu “tattaqun” (تَتَّقُونَ), “kalian bertaqwa”.
Perjalanan ini mesti berlanjut, karena tujuan kita bukan untuk sampai di akhir Ramadan, tapi menggapai derajat taqwa yang berujung pada keyakinan yang semakin kokoh, amal yang terus bekualitas dan akhlak yang lebih baik. Hal ini sebagai konsekwensi dari kepatuhan kita kepada Allah.
Kata “tattaqun” dalam bahasa Arab adalah kata kerja berbentuk Fi’il Mudhari’, yang menunjukkan perbuatan sedang atau akan terjadi dan berkesinambungan di masa mendatang. Artinya “Kalian bertakwa”, “kalian berlindung”, “kalian menjaga diri”, atau “kalian mematuhi”. Atau berasal dari kata kerja “Ittaqo-Yattaqi” yang berarti berlindung atau menjaga.
Konsep Hijrah
Pada kesempatan kali ini kita mengulas tentang “Ramadan; Momentum Hijrah Menuju Kebaikan”. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 218).
Ayat tersebut berbicara tentang tiga kelompok manusia yang memiliki tempat yang sama di sisi Allah yaitu (1) orang beriman, (2) orang yang berhijrah dan (3) orang yang berjihad di jalan Allah. Tiga kelompok manusia ini memiliki orientasi yang sama yaitu rahmat Allah semata, yaitu kasih sayang Allah ketika di dunia dan di akhirat.
Namun bila orientasi itu dikotori oleh tujuan materi dan duniawi, maka ia mendapatkannya, namun orientasi karena Allah di atas segalanya. Dan, bila kita tahu diri lalu berbenah diri, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Berkaitan dengan niat dan orientasi, kita bisa baca hadits pertama tentang niat, dalam Kitab Arbain Nawawi. Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin al-Khaththab radiallahu ‘anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kembali ke pembahasan awal, yaitu al-Baqarah ayat 218, secara bahasa, iman artinya pembenaran yang berkonsekwensi kepada kepatuhan dan penerimaan. Secara bahasa hijrah artinya meninggalkan sesuatu. Secara syariat, ada 2 makna: Pertama, makna umum yaitu meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, bermakna khusus yaitu hijrahnya seseorang yang secara sadar meninggalkan suatu tempat ke tempat yang lain disebakan oleh alasan syar’i, seperti ia terhambat atau kesulitan menjalankan perintah Allah terutama beribadah seperti shalat 5 waktu dan penegakan ajaran Allah lainnya.
Hal tersebut membutuhkan kesungguhan tingkat tinggi (jihad). Bahkan dalam kontek tertentu, bila sebuah negeri mendapatkan penjajahan, sehingga tidak bsa menjalankan ibadah kepada Allah, maka mereka berhak membela diri, yaitu jihad di jalan Allah dalam bentuk perang atau qital.
Standar Orang Baik
Secara umum, orang baik itu memiliki dua ciri utama, yaitu (1) beriman dan (2) beramal soleh. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. al-Bayyinah: 7)
Al-Bariyyah pada ayat tersebut berarti makhluk, ciptaan, atau manusia. Istilah ini berasal dari kata bara’ (برء) yang bermakna mencipta, menciptakan. Sinonim atau padanan katanya adalah al-Khalqu (الخلق) atau makhluk, kemudian al-Bari’ (البارئ) atau pencipta. Al-Baro’ dan al-Bari’ berasal dari akar kata yang sama. Maknanya, orang beriman dan mengerjakan amal saleh yang terdapat dalam tersebut adalah sebaik-baik makhluk.
Bahkan sahabat Rasulullah ﷺ seperti Abu Hurairah, kemudian sebagian besar ulama lintas generasi, memahami sekaligus menyimpulkan tentang ayat tersebut bahwa orang-orang yang beriman dari kalangan manusia lebih utama daripada para malaikat. Hal ini sangat tepat, karena pada ayat tersebut Allah tidak mengatakan “Khairu an-Nas” (sebaik-baik manusia), tapi “Khairu al-Bariyyah”, sebaik-baik makhluk.
Menurut Wahbah Zuhaili, dalam Kitabnya “at-Tafsir al-Munir”, al-Bariyyah adalah Adam atau Bani Adam. Karena kata tersebut berasal dari kata “Barri” yang berarti tanah lihat. Sehingga perihal ayat tersebut beliau mengatakan, “Sesungguhnya orang-orag beriman kepada Tuhan mereka, kitab-kita-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir serta beamal saleh dengan badan mereka, maka mereka adalah makhluk yang paling utama; baik kondisi maupun tempa kembalinya.”
Hijrah Menuju Kebaikan
Kebaikan yang hendak kita gapai adalah kebaikan menurut Allah. Mengapa? Sebab kadang kita menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untuk kita, sebaliknya ada yang tidak kita sukai tapi justru itu baik bagi kita. Kita banyak tidak tahu, sementara Allah Maha Tahu. Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)
Secara praktis, hijrah menuju kebaikan dapat kita jalani dalam 5 hal praktis yaitu: (1) peningkatan kualitas iman, yang berdampak pada perbaikan spiritual, (2) pembenahan akhlak, yang berdampak pada integritas diri dan sikap moral, (3) giat kepedulian, yang berdampak pada manfaat sosial, (4) keterampilan diri, yang berdampak pada gaya hidup, dan (5) pematangan keilmuan, yang berdampak pada kapasitas intelektual dan kematangan berpikir.
Ramadan adalah momentum sekaligus titik balik bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik (muhajir), yang giat menjalankan perintah Allah dan sungguh-sungguh untuk meninggalkan larangan-Nya dengan orientasi tunggal yaitu mendapat rahmat Allah. Insyaa Allah dengan pemaknaan hijrah semacam itu, kita akan semakin naik kelas menjadi hamba-Nya yang lebih bertakwa sebagaimana orientasi ibadah shaum Ramadan yang kita tunaikan. (*)






