Opini

Ramadan Sebagai Momentum Hijrah Diri

21
×

Ramadan Sebagai Momentum Hijrah Diri

Share this article
IMG 20260301 WA0034
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”

RAMADAN adalah bulan dimana kita umumnya lebih akrab dengan kebaikan dari hari-hari di luar Ramadan. Bagaimana pun, pada Ramadan kita cenderung lebih giat dalam menjalankan berbagai ibadah, baik yang wajib maupun yang sunah. Kita juga lebih giat untuk beramal saleh seperti berinfak dan bersedekah, termasuk untuk menjaga silaturahim pada sesama dan membaca al-Quran, bahkan tak sedikit yang tuntas mengkhatam beberapa kali selama Ramadan.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa Ramadan adalah bulan dimana kita melakukan hijrah menuju kebaikan dan ke jati diri yang lebih baik. Hal itu sangat wajar, sebab perintah shaum memiliki kandungan nilai yang memungkinkan kita menjadi insan mulia yaitu orang bertakwa (QS. al-Baqarah: 183). Kebaikan yang kita lakukan pada Ramadan diharapkan menjadi penyuluh hijrah kita untuk melakukan kebaikan lainnya di luar Ramadan.

Kegembiraan kita menjelang dan ketika masuk pada bulan Ramadan adalah anugerah besar. Kegembiraan semacam itu adalah anugerah sekaligus sinyal kebaikan yang tak bisa dianggap hal biasa. Itu pertanda bahwa Allah mencelupkan hati kita berupa tambahan kualitas iman. Hati yang tertarik pada perintah Allah adalah hati yang dicintai Allah. Dan, itu adalah modal penting bagi kita dalam mengisi Ramadan dengan berbagai amal kebaikan.

Salah satu amal saleh yang memperkokoh semangat kita dalam menjaga kebaikan dan nilai-nilai Ramadan adalah menjadi sahabat al-Quran. Dampaknya besar, dari dunia hingga akhirat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (penolong) bagi sahabat-sahabatnya (orang-orang yang giat membacanya).” (HR. Muslim)

Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah potongan kisah seorang anak usia 3 tahun yang pada usia 4 tahun sukses menghafal al-Quran. Pada 2023 lalu, perbincangan dunia maya diramaikan oleh kabar tentang sosoknya. Namanya Muadz, ia berasal dari Mesir. Bila seorang anak seusia demikian mampu menghafal al-Quran, kita sudah berdecak kagum, lalu bagaimana bila ada anak seusia itu mampu menghafal al-Quran padahal matanya buta atau seorang tuna netra?

Baca Juga :  Fitur Masyarakat Indonesia untuk Peradaban Dunia

Alkisah, pada saat usia 3 tahun Muadz menghampiri ayahnya lalu mengatakan ‘’ayah saya ingin menghafal al-quran’’. Mendengar hal itu ayahnya sangat bergembira, kemudian ayahnya memperbaiki kendaraan mereka, padahal sudah rusak parah. Tak berapa lama diantar anaknya dengan jarak kurang lebih 20 km menuju tempat seorang guru atau syeikh. Setiap Muadz diberikan ayat hafalan baru, sang ayah menuliskannya.

Selama sekira setahun, sang ayah mengantar anaknya ke tempat gurunya untuk menghafal dan menyetor hafalannya. Akhirnya sang anak sukses menghafal al-Quran. Perlu diketahui, sang ayah bukan penghafal al-Quran, karena itulah anaknya dibimbing oleh seorang syeikh yang menghafal al-Quran. Begitulah, bila Allah sudah berkehendak, maka semua bakal terjadi. Termasuk apa yang dialami oleh Muadz. Kita berikhtiar dan berdoa insyaa Allah kita dan anak-anak kita menjadi Muadz baru.

Berita tentang Muadz viral di berbagai media kala itu. Bahkan para jurnalis dari berbagai negara pun silaturahim ke rumah orangtuanya. Ketika anak itu ditanya jika diberikan satu permintaan, apa yang akan diminta olehnya. Ternyata yang ia meminta adalah agar tetap buta sampai meninggal dunia. Ia sangat khawatir bila matanya bisa melihat, nanti ia tak bisa menghafal al-Quran karena matanya dipakai untuk bermaksiat. Masyaa Allah!

Kisah ini menjadi unik dan luar biasa karena Muadz adalah seorang tuna netra, orangtuanya tergolong miskin nan sederhana dan tidak akrab dengan benda mewah seperti TV dan HP mahal. Kita bersyukur ditakdirkan oleh Allah punya mata yang bisa melihat, sehingga kita bisa membaca al-Quran. Kita layak bersyukur karena masih bisa makan dan minum, sehingga bertenaga untuk beribadah. Kita juga memiliki kecukupan benda tertentu sebagai media penunjang aktivitas dan informasi menuju kebaikan.

Baca Juga :  Ramadhan dan Keistimewaannya

Pembelajaran pentingnya, keterbatasan adalah kemuliaan yang dapat kita manfaatkan untuk terus menjadi orang baik dan giat melakukan kebaikan. Muadz dan keluarganya adalah inspirasi bagi kita dalam berhijrah menuju jati diri yang lebih baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah teladan kita dalam segala hal, dari ibadah hingga amal saleh lainnya. Kita rindu, kelak di hari kiamat beliau tersenyum dan mengakui kita sebagai umatnya. Kalau beliau tak mengakui, lalu siapa lagi yang mengakui kita?

Ramadan segera berlalu. Mari manfaatkan hari-hari tersisa untuk hijrah diri. Dari aspek spiritual, mari giat beribadah baik yang wajib maupun yang sunah. Dari aspek moral, mari jaga integritas diri dan jadi teladan kebaikan. Dari aspek intelektual, mari tingkatkan pengetahuan terutama seputar ibadah dan amal saleh, dan perdalam kandungan al-Quran. Lalu, dari aspek sosial, mari lebih aktif berinfak dan bersedekah sekecil apapun itu, termasuk berbagi senyum pada sesama. Semoga di Ramadan tahun depan kita masih bisa merasakan nikmatnya Ramadan lebih dari Ramadan tahun ini! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *