Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh
KEHIDUPAN dunia adalah satu rute perjalanan yang penuh tantangan dan dinamika. Kita kadang dipaksa untuk takluk dan seakan-akan tak mampu merangkak lagi, walau sekadar untuk mengatakan “Aku optimis bisa!” Berbagai keadaan menggiring kita untuk mengikuti ritme realitas kehidupan dan dinamika sosial yang kesepian nilai-nilai luhur dan nyaris tak bersahabat lagi. Kita pun benar-benar berhadapan dengan tantangan yang sangat berat.
Menyaksikan pemberitaan berbagai media, kita selalu dijejali dengan oleh peristiwa kezaliman yang merajalela, bencana alam yang menimpa berkali-kali banyak lokasi dan praktik korupsi para pejabat dengan jumlah fantastis. Di samping itu, tindakan kriminal masih terjadi di banyak tempat, kasus penyalahgunaan narkoba semakin menjadi-jadi dan kasus pembunuhan yang menimpa mereka yang tak bersalah masih terjadi di banyak tempat.
Bahkan, mereka yang mengajak pada kebenaran dan berupaya mencegah berbagai bentuk kemungkaran seperti kezaliman, korupsi dan perusakan terhadap alam kerap mendapat ancaman dan teror yang membahayakan kehidupan dan kariernya. Kebenaran dimanipulasi secara nyata agar dianggap sebagai kesalahan. Mereka yang zalim dan gemar maksiat dipuji dan dicitrakan sebagai tokoh dan pahlawan penting yang layak ditiru.
Fenomena semacam itu sejatinya bukan terjadi hanya era ini, tapi sudah terjadi dan dialami oleh para utusan Allah era lampau. Nabi Musa hidup di era Fir’aun yang sangat zalim dan otoriter. Fir’aun adalah simbol penguasa atau elite oligarki. Nabi Isa hidup dan berhadapan dengan para pagan yang anti pada perintah Allah. Bahkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hidup di tengah umat manusia jahiliyah: musyrik, angkuh dan semena-mena.
Lalu, apakah Nabi Musa, Nabi Isa dan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarikan diri dan mundur dari jalan perjuangan yang mereka pilih? Tentu tidak sama sekali. Mereka tidak pernah memilih jalan lain selain jalan kebenaran sebagaimana yang Allah perintahkan kepada mereka. Mereka pejuang kebenaran sejati. Mereka teladan dalam segala hal, terutama teladan kesabaran. Mereka adalah lelaki penyabar.
Nabi Ayub, Nabi Yunus, dan Nabi Zakaria diuji dengan berbagai macam bentuk ujian, yang bila dilihat secara sepintas, sepertinya kita tak bakal mampu melalui ujian seperti yang mereka alami dan lalui. Tapi ketiga sosok hebat itu mampu bertahan dan melalui semuanya dengan sukses. Modal penting yang mereka miliki adalah berdoa, menjaga niat ikhlas kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Dan tentu saja modal yang tak kalah pentingnya adalah kesabaran.
Hidup di tengah realitas sosial yang dipenuhi berbagai masalah pelik dan perjalanan hidup yang tertatih-tatih bukanlah alasan untuk menghilangkan jejak dan berhenti menjalankan peran penting sebagai hamba Allah dan pelanjut peran para utusan Allah itu. Menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran pasti berhadapan dengan penolakan dan perlawanan. Jalan kebenaran terbentang luas, ia adalah rute yang tak sunyi dari ujian.
Bila menelisik lebih mendalam jurus jitu yang dimiliki oleh para utusan Allah dalam menghadapi berbagai ujian hidup, penyakit sosial dan dinamika kemanusiaan, kita menemukan fakta bahwa mereka memiliki kesabaran tingkat tinggi. Secara khusus berkaitan dengan ini, kita bisa membaca sejarah perjalanan hidup Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saat menyebar Islam dengan damai, beliau mengalami berbagai celaan hinaan dan fitnah. Bahkan beliau diusir dari tanah airnya sendiri.
Pertanyaannya, apakah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti berjuang? Jawabannya tidak! Beliau justru bertambah yakin bahwa apa yang diperjuangkan adalah benar. Beliau bahkan mendapat dukungan dari berbagai kalangan kala itu. Allah pun menguatkan dan menghibur sosok lelaki paling mulia itu. “Bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik!” (QS. al-Muzamil: 10)
Allah juga meneguhkan beliau dengan satu penegasan bahwa Allah sendiri yang akan bertindak atas apa yang dilakukan oleh para pendusta dan kaum yang kerap berbuat zalim. Allah berfirman, “Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap para pendusta yang memiliki segala kenikmatan hidup dan berilah mereka penangguhan sementara.” (QS. al-Muzamil: 11). Maknanya, kita harus berikhtiar dengan berbagai cara. Sungguh, Allah pasti bersama dengan setiap jerih payah kita.
Sabar dalam Islam dapat diartikan sebagai ridha, tenang, teguh, dan yakin. Dengan demikian, sabar bukan berarti berdiam diri, tapi istiqomah pada kebenaran. Allah berfirman, “Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.” (QS. an-Nahl: 127)
Dalam Islam, sabar adalah beramal penuh keyakinan bahwa ketaatan itu memberi manfaat, maslahat dan pasti berdampak abadi. Sabar juga disebut sebagai penolong agama dalam menundukkan nafsu dan kemalasan. Sabar adalah sebab mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Allah berfirman, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. al-Baqarah: 45). Jadi, sabar itu satu paket dengan shalat sebagai modal kita dalam meniti kehidupan ini.
Menjadi hamba yang bersabar adalah pilihan berat, tapi mesti dipilih secara sadar melalui proses belajar secara terus menerus. Melatih diri agar (1) sabar dalam menghadapi musibah atau bencana, (2) sabar dalam menjalankan ketaatan pada ajaran Islam, dan (3) sabar dalam menghindari kemaksiatan serta berhadapan dengan berbagai ujian hidup termasuk kezaliman adalah satu kesatuan proses panjang yang hanya akan berakhir saat kita kelak melalui ajal kematian. (*)






