Opini

Shaum 6 Hari Syawal dan Rahmat Allah untuk Para Pendosa

10
×

Shaum 6 Hari Syawal dan Rahmat Allah untuk Para Pendosa

Share this article
IMG 20260304 WA00242

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Jaga Lisanmu, Tangisi Dosamu!”

MANUSIA adalah tempatnya salah (al-khotho’) dan lupa (an-nisyan). Bahkan manusia adalah makhluk yang dilumuri banyak dosa (aksaru adz-zdunub). Namun, kita beruntung sebab Sebagai Pecinta sejati, Allah selalu membuka jalan ampunan bagi hamba-Nya yang bertaubat. Allah berfirman, “Katakanlah (Muhammad), Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53)

Para ulama tafsir, salah satunya seperti Ibnu Katsir, mengkategorikan Surat az-Zumar ayat 53 sebagai ayat yang memberikan harapan paling besar bagi siapapun yang berlumuran dosa, bahwa pintu ampunan masih terbuka, dengan syarat bertaubat dan mohon ampun kepada Allah selama ajal kematian belum tiba. Hal ini dipertegas juga oleh surat az-Zumar ayat 54. Allah berfirman, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. az-Zumar: 54)

Para ulama pun, umumnya menjelaskan bahwa Surat az-Zumar ayat 53-54 memiliki kaitan dengan hadits tentang shaum sunah 6 hari di bulan Syawal. Bahwa Allah menyediakan jenis ibadah yang memungkinkan siapapun yang berlumuran dosa, bila menjalankannya maka dosanya bakal diampuni. Dalam sebuah riwayat yang sangat mashur di kalangan umat Islam diungkapkan sebagai berikut: “Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa shaum Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka itu setara dengan shaum sepanjang tahun’.”
(HR. Muslim)

Selama ini ibadah sunah sering dimaknai sebagai ibadah yang bila dijalankan akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Pemaknaan seperti ini kerap membuat kita meremehkan ibadah sunah. Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan ibadah sunah sebagai ibadah yang bila dilaksanakan akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan akan kehilangan pahala. Berkaitan dengan ini, dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman, “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Baca Juga :  Shaum Ramadan Mulai 1 Ramadan, Bukan 1 Syawal!

Bila kita rinci, diantara keterkaitan az-Zumar ayat 53-54 dan hadits tersebut, yakni, pertama, adanya pintu ampunan yang luas setelah Ramadan. Salah satu ulama generasi tabi’in, Hasan al-Basri, menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan bagi mereka yang banyak berbuat dosa agar segera bertobat dan tidak berputus asa. Setelah bulan Ramadan berlalu, shaum 6 hari di bulan Syawal menjadi salah satu “jalan” atau wasilah yang disyariatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk merawat tobat dan mendapatkan ampunan Allah secara berkelanjutan.

Kedua, bukti cinta Allah dalam bentuk pengampunan dosa. Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah mengampuni seluruh dosa bagi mereka yang mau kembali. Ini sebagai bukti bahwa Allah sangat mencintai para hamba-Nya. Bahkan dalam kondisi dilumuri dosa, Allah masih membuka pintu ampunan. Sementara hadits shaum 6 hari Syawal adalah bentuk rahmat Allah yang selaras dengan penegasan surat az-Zumar ayat 53-54.

Ketiga, amalan apik sebagai penutup dosa. Para ulama menafsirkan bahwa meskipun seseorang telah berbuat zalim terhadap diri sendiri, termasuk dosa syirik, Allah membuka kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki diri. Shaum Syawal dapat menjadi penutup kekurangan saat shaum Ramadan, sehingga hamba tersebut benar-benar bersih dari dosa seperti baru dilahirkan, sejalan dengan makna ayat “Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”.

Keempat, larangan berputus asa dari rahmat Allah sekaligus perintah untuk optimis pada ampunan-Nya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan ulama lainnya menjelaskan, salah satu bentuk putus asa adalah memiliki banyak dosa tapi merasa tidak mungkin diampuni oleh Allah. Surat az-Zumar ayat 53-54 dan hadits shaum Syawal memotivasi kita agar tidak berputus asa, melainkan lebih aktif mengejar ampunan Allah melalui ibadah ringan namun berbalas pahala setahun penuh.

Baca Juga :  Strategi PPP Menuju Senayan 2029

Sungguh, Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kita pun dibuka jalan untuk bertaubat dan memohon ampunan pada-Nya. Termasuk menjalankan ibadah yang dapat menutupi atau menghapus dosa-dosa kita. Surat az-Zumar ayat 53-54 adalah jaminan luasnya ampunan Allah bagi para pendosa, siapapun itu. Sementara shaum 6 hari Syawal adalah sarana nyata yang disyariatkan untuk mendapatkan ampunan tersebut. Ini adalah peluang dan kesempatan sangat berharga bagi kita.

Kita sangat bersyukur karena Allah tidak membuka dosa dan aib kita kepada siapapun. Allah tidak ingin mempermalukan kita adalah wujud kasih sayang Allah kepada kita. Karena itu, kita mestinya bukan saja menjalankan shaum sunah 6 hari Syawal, tapi juga menjaga nilai-nilai Ramadan yang sudah kita peroleh selama Ramadan, agar kita menggapai derajat takwa yang makin tinggi. Insyaa Allah dengan begitu kita mendapat rahmat dari Allah, baik di dunia berupa hidayah dan iman maupun di akhirat berupa ampunan dan surga-Nya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *