Opini

Waras dan Sehat Bermedia Sosial

21
×

Waras dan Sehat Bermedia Sosial

Share this article
IMG 20260120 WA0077
Foto : Illustrasi/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh

KINI kita berada di era media. Era dimana media muncul dalam beragam wajah. Hari-hari kita adalah hari bersama media. Dari detik ke detik kita akrab dengan media, bahkan menjadi konsumen paling aktif yang menikmati informasi media. Dalam batasan tertentu, kita juga menjadi produsen yang paling aktif menciptakan konten media, terutama di akun media sosial kita masing-masing. Nyaris tak ada hari yang kita lewati kecuali bersama media, terutama media sosial.

Lalu faktanya, pada era ini kebenaran nyaris tertutup oleh berbagai informasi palsu dan hoaks. Bahkan pada sisi tertentu, kita kesulitan mendapatkan informasi yang utuh: antar yang benar dan yang salah. Bukan itu saja, di lain sisi, kita juga kerap kesulitan untuk tampil menghadirkan konten yang bermutu, atau minimal tidak terjerat toxic di media sosial yaitu hoaks, celaan dan hinaan yang merajalela. Jangan jadi penonton, kita perlu terlibat: berbenah dan bertransformasi

Jalan Keluar

Pada era ini, (1) kita mesti berkomitmen untuk menjadikan akun media sosial kita sebagai corong kebaikan. (2) Namun demikian, kita perlu hati-hati, sehingga tidak terjebak pada pujian ini itu, yang dalam banyak kasus justru membuat kita terlena dan lupa pada misi utama bermedia sosial yaitu amar maruf nahi mungkar, di samping berbagi inspirasi. (3) Bila misi kita semulia itu, maka niat kita mestinya adalah Lillah, bukan selain itu.

Lalu, (4) kita harus menyadari bahwa respon berupa komentar, like dan bagikan yang dijalani oleh pembaca adalah bonus lain dari setiap unggahan atau konten yang kita share di akun media sosial kita seperti Facebook dan serupanya. (5) Tapi perlu diingat, itu bukan hal utama. Hal yang utama tetaplah substansi dan kualitas dari konten kita. (6) Hal lain tentu saja manfaat dan dampak baiknya. Karena itu, tak perlu gelisah, cukup Lillah saja dan lakukan yang terbaik.

Baca Juga :  Jadilah Pencipta Konten Media Online!

Sebagai orang yang meniti jalan keimanan (al-Islam), (7) kita hanya ingin setiap akun media sosial kita terisi oleh hal-hal yang bermanfaat dan maslahat bagi siapapun. (8) Pada saat kita menyampaikan kebenaran dan mengajak pembaca agar menitinya, bukan berarti kita lebih atau sok benar. Sebab sejatinya kita sedang belajar sembari mengajak orang lain agar meniti jalan kebenaran. Itulah indikasi bahwa kita waras dan sehat dalam bermedia sosial.

Selain itu, (9) kita ingin agar setiap apa yang kita sampaikan menyentuh dan bermanfaat bagi siapapun, sehingga mendorong siapapun untuk berada di jalan kebenaran dan giat berbuat baik. (10) Atas dasar itu, di era media yang semakin kompetitif dan diserbu oleh berbagai informasi yang sebagian besar masih “abu-abu” ini, kita dituntut untuk lebih giat dalam memproduksi konten yang bermanfaat. Kita tidak perlu memproduksi berita bohong atau hoaks, celaan dan hinaan pada siapapun.

Ingat, (11) betapa ruginya kita bila akun media sosial yang kita miliki justru diisi oleh hal-hal yang menjauhkan kita dari Allah dan merusak keharmonisan masyarakat bahkan bangsa kita. (12) Jadilah produser konten positif, yaitu yang benar dan baik. Jangan pernah tergoda untuk mengisi akun media sosial kita untuk hal-hal yang tak bermutu. Setiap detik yang kita lalui mesti bermutu. Maka akun media sosial kita pun mesti bermutu. Sehingga kita terlihat waras dan semakin sehat dalam bermedia sosial.

Dalam rangka itu, (13) kita harus jeli dan telaten dalam merespon berbagai informasi apapun. Jangan mudah menelan, kita harus melakukan berbagai koreksi secara mendalam. Sehingga berbagai informasi yang kita peroleh tidak serta merta kita terima begitu saja, lalu turut menyebarkannya ke mana-mana. (14) Koreksi dan pembacaan yang mendalam perlu kita lakukan sebelum menyebar apapun di akun media sosial kita atau yang dibagikan ke banyak pembaca.

Baca Juga :  Eksistensi MUI: Refleksi dan Rekomendasi

Sungguh, (15) kita punya tanggung jawab untuk mengecek dan memastikan informasi yang kita peroleh valid dan pantas dishare ke mana-mana. Bila secara sadar kita meyakini sesuatu itu tak pantas dishare, maka kita tak perlu melakukannya. (16) Kita mesti berani menahan diri dari kebiasaan untuk menyebar hal-hal yang justru menimbulkan keonaran dan keburukan di tengah kehidupan masyarakat dan bangsa kita. (17) Kita mesti berani melawan kemungkaran dari diri kita sendiri. Itulah yang membuat kita semakin waras dan sehat dalam bermedia sosial. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *