Opini

Dakwah Media dan Urgensi Literasi Islam

1
×

Dakwah Media dan Urgensi Literasi Islam

Share this article
IMG 20260924 WA0061
Syamsudin Kadir Foto : Dok Pribadi

Oleh: Syamsudin Kadir

Wakil Ketua LPBKI MUI Pusat

ADA satu penyakit yang paling sulit terlihat dalam dakwah di media sosial era ini. Ia tidak berdarah, tidak menimbulkan nyeri, namun tumbuh diam-diam di dalam hati yang merasa telah banyak berjasa di ruang digital. Dan yang paling berbahaya, ia sering datang dengan wajah kebaikan, seperti konten nasihat dan ceramah singkat, sehingga kita tidak menyadarinya sebagai dosa yang halus. Ia membuat kita merasa sedang berdakwah, padahal sedang menumpuk kesombongan di balik layar dan jumlah penonton.

Kita menasihati orang yang lalai tentang salat, misalnya, namun lupa bahwa hati kita sendiri sedang lalai dari Allah ketika menasihati. Kita mengingatkan orang agar tidak merendahkan sesama, tetapi cara kita menegur justru membuat saudara kita merasa rendah dan terhina. Kita berbicara tentang akhlak di atas mimbar yang tinggi, namun kehilangan akhlak ketika berhadapan dengan orang yang berbeda jalan. Padahal, dakwah yang jujur selalu dimulai dari muhasabah diri sebelum menunjuk orang lain.

Dakwah di Media Sosial

Era ini penyakit itu menemukan panggung baru yang sangat luas, bernama media sosial yang riuh dan cepat viral. Dakwah di sana sering kali minus literasi, miskin adab, dan cepat menghakimi hanya dengan satu dua potongan video yang dipenggal. Saling cela, saling hina, dan saling merendahkan sesama seolah menjadi konten yang paling laku dan paling ramai ditonton manusia. Akhirnya, yang besar bukan ilmu, melainkan ego dan keinginan untuk terlihat paling benar.

Hal yang menyedihkan, nihil rasa cinta dan memuliakan sesama dalam riuh perdebatan yang bising itu. Justru yang ada hanya semangat membela kelompok dan pemahaman yang melampaui batas kepatutan dan keadilan yang diajarkan Nabi. Kita lebih sibuk membela panji kelompok daripada membela akhlak Rasulullah yang lembut, pemaaf, dan penuh kasih sayang. Padahal, tanpa kasih, kebenaran yang kita bawa akan kehilangan ruh dan daya sentuhnya.

Umumnya, akar dari kegaduhan itu adalah literasi kita tentang Islam yang masih rapuh dan terburu-buru ingin tampil. Kita ingin terlihat alim sebelum benar-benar berilmu, ingin dihormati sebelum terbiasa menghormati orang lain dengan tulus. Kita membaca Islam hanya dari satu pintu kecil, lalu mengunci semua pintu yang lain dengan kata sesat dan menyimpang yang kejam. Akibatnya, kita mudah marah pada perbedaan, padahal perbedaan itu sering lahir dari keluasan khazanah Islam sendiri.

Baca Juga :  Tiga Keajaiban Istighfar

Urgensi Literasi Islam

Di sinilah pentingnya literasi Islam yang mendalam dan luas menjadi cahaya penuntun yang menenangkan jiwa. Bacalah dan perdalamlah Islam dari berbagai sudut pandang, dari fikih yang beragam, dari sejarah yang panjang, dari tafsir yang kaya warna. Dengan keluasan itu, hati menjadi lapang, lisan menjadi terjaga, dan jiwa menjadi lebih pemaaf kepada sesama yang berbeda. Keluasan ilmu pada akhirnya akan mengajarkan kita rendah hati, bukan tinggi hati.

Orang yang luas bacaannya tidak akan mudah merendahkan pandangan yang berbeda di hadapannya dengan enteng. Ia tidak akan gampang menyesatkan mereka yang berbeda pendapat hanya karena tidak sepaham dengannya dalam satu masalah. Sebab, ia tahu, perbedaan itu sering kali adalah rahmat dan kekayaan khazanah, bukan laknat yang harus dimusuhi dengan kebencian. Ia lebih memilih mencari titik temu daripada memperlebar jurang permusuhan di media sosial.

Literasi yang benar akan melahirkan adab yang benar dan tutur kata yang terjaga dan lembut. Orang yang literat akan memilih diam ketika tidak tahu, dan memilih lembut ketika ia tahu dan mampu menjelaskan dengan baik. Ia tidak menjadikan jempolnya sebagai pedang untuk memenggal kehormatan saudaranya sendiri di kolom komentar yang disaksikan banyak orang. Ia sadar, setiap kata yang tertulis akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Al-Qur’an menegur dengan sangat lembut perasaan suci yang diam-diam tumbuh di balik semangat menasihati itu. Allah berfirman, “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. an-Najm: 32). Ayat ini seakan berbisik pelan ke dalam hati, jangan karena engkau menunjuk kesalahan orang lain, lalu engkau merasa terbebas dari segala kesalahan. Ayat ini mengembalikan kita pada hakikat takwa yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Baca Juga :  Terima Kasih Presiden Prabowo Subianto

Sebab, boleh jadi, orang yang kita tegur karena satu dosa yang tampak di mata, memiliki satu sujud panjang yang tidak pernah kita tahu. Boleh jadi, air mata tobatnya di kesunyian lebih deras daripada banyaknya hafalan dan ceramah kita yang megah dan berapi-api. Kita tidak pernah tahu amal rahasia apa yang ia simpan antara dirinya dengan Rabb-nya yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui. Boleh jadi, justru satu amal rahasianya itulah yang mengantarkannya ke surga Allah.

Boleh jadi pula, orang yang terlihat jauh dari kebaikan, justru beberapa tahun kemudian menjadi jauh lebih dekat kepada Allah. Bukankah hati manusia itu berada di antara dua jemari Ar-Rahman yang mudah dibolak-balikkan sesuai kehendak-Nya yang lembut dan indah? Sejarah telah mencatat, banyak pendosa yang akhir hidupnya mulia karena satu tobat yang jujur dan kembali dengan air mata. Karena itu, jangan pernah menutup pintu hidayah bagi siapa pun dengan lisan kita yang kasar.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan dengan sangat tegas tentang akar penyakit hati ini yang sering tidak disadari para penasihat agama. Beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim). Dan beliau menjelaskan hakikatnya dengan puitis dan jernih, “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim). Hadis ini menjadi cermin yang sangat tajam bagi para pendakwah di zaman media sosial.

Karena itu, jangan pernah menasihati dari menara yang tinggi dan seolah suci tanpa cela dan dosa. Turunlah sebagai seorang saudara yang sama-sama sedang belajar berjalan tertatih menuju Allah dengan kekurangan dan dosa masing-masing. Posisikan diri sejajar, bukan sebagai hakim yang memvonis, melainkan sebagai teman yang menggandeng tangan dengan kasih dan doa tulus. Sebab, nasihat yang lahir dari hati yang sejajar akan lebih mudah masuk ke hati yang mendengarnya.

Ubahlah diksi kita agar tidak menyakiti hati yang sedang berusaha bangkit dan kembali kepada cahaya Allah. Jangan berkata, “Kamu tidak paham agama,” tetapi katakanlah, “Mari kita pelajari bersama, saya pun masih banyak kurangnya dan lalainya.” Jangan berkata, “Kamu memang selalu salah,” tetapi katakanlah, “Saya khawatir kita terjatuh dalam hal ini, mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan.” Dengan diksi yang lembut, dakwah menjadi jembatan kasih sayang, bukan palu yang mematahkan semangat beramal baik.

Baca Juga :  Muhamad Syukur: Meniti Panggung Jakarta

Allah memuji jiwa yang tawadhu sebagai ciri hamba yang dicintai-Nya dan dekat dengan rahmat-Nya yang sangat luas. Allah berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. al-Furqan: 63). Kelembutan dalam berjalan dan berkata adalah mahkota yang tidak terlihat, namun indah dan bercahaya bagi orang yang bertakwa. Inilah akhlak dakwah yang seharusnya hidup di setiap konten dan komentar kita.

Dan janji ketinggian yang sejati justru diberikan kepada mereka yang mau merendah karena Allah semata dengan ikhlas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim). Barang siapa merendahkan hati karena Allah, maka Allah yang akan mengangkat derajatnya dengan cara yang tidak pernah ia duga sebelumnya dalam hidup. Maka, semakin kita merendah, semakin Allah meninggikan nilai dakwah kita di hadapan manusia.

Maka, ingatlah selalu, kita semua sedang menuju Allah dengan membawa kekurangan yang tidak sama beratnya dan dosa yang tidak sama banyaknya. Era ini mungkin kita yang menasihati dengan lisan yang fasih, besok mungkin kitalah yang membutuhkan nasihat itu untuk menegakkan punggung yang hampir tumbang. Ketika Allah memberi kesempatan untuk mengingatkan seseorang, jangan gunakan untuk meninggikan diri, tetapi gunakan untuk merendahkan hati agar nasihat itu menjadi cahaya. Semoga dakwah kita di media sosial menjadi dakwah yang penuh literasi, penuh adab, dan penuh cinta! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *