Opini

Muhamad Sandri: Dari Cereng untuk Indonesia

25
×

Muhamad Sandri: Dari Cereng untuk Indonesia

Share this article
IMG 20260905 WA0082
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia”

DI ujung Manggarai Barat, NTT, tepatnya di Cereng, Golo Segang, Sano Nggoang, lahir seorang anak pada 25 Mei 2003. Namanya Muhamad Sandri, S.M. Gelar di belakang namanya bukan sekadar tanda kelulusan. Ia adalah titipan doa, jejak langkah, dan bukti bahwa tanah kecil pun mampu menumbuhkan cita-cita sebesar cakrawala.

Ia anak kedua dari pasangan Bapak Syafrudin dan Ibu Siti Marfa, dua petani di Cereng. Di antara hamparan sawah dan terik matahari, Sandri belajar tentang kesabaran. Ayah dan ibunya tidak mewariskan harta, melainkan warisan yang lebih mahal: integritas, nama baik, dan mimpi yang tidak boleh dipotong pendek.

Kakaknya bernama Ahmad Safri, sarjana yang kini aktif sebagai guru di sekolah Hidayatullah dan dai di Surabaya, Jawa Timur. Dalam rumah sederhana itu, Sandri menemukan sekolah pertama tentang berbagi. Dan dari sosok ayah dan ibu, ia menemukan guru hidup yang paling berpengaruh. Dari keteguhan sang petani, ia belajar bahwa manusia hebat bukan yang tidak pernah jatuh, melainkan yang selalu bangkit dengan kepala tegak.

Langkah awal pendidikan dimulai di MIS Nurul Fikri Leheng. Tahun 2009 ia masuk, dan 2015 ia lulus. Di sana, di antara lantunan ayat dan debu kapur, ia belajar bahwa ilmu tanpa akhlak ibarat perahu tanpa arah.

Tahun 2015, ia melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Cereng. Tiga tahun ia tempuh hingga 2018. Masa SMP mengajarinya tentang disiplin. Bahwa masa depan tidak datang dengan sendirinya, ia harus dijemput dengan kerja dan doa.

Setelah itu, Sandri merantau Mataran, NTB, tepatnya ke Madrasah Aliyah Hidayatullah Mataram. Masuk 2018, lulus 2021. Di kota yang asing, ia berkenalan dengan rindu. Rantau menjadi guru kedua yang lebih keras, tapi juga lebih jujur dalam membentuk karakter.

Baca Juga :  Gempa NTT: Menguji Solidaritas di Tengah Kerentanan

Tahun 2021, Jakarta memanggil. Ia diterima di Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Ahmad Dahlan Jakarta, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen. Empat tahun ia bergulat dengan teori, tugas, dan malam-malam panjang. Pada 2025, ia menyandang gelar Sarjana Manajemen (S.M). Sebuah pencapaian yang ia persembahkan untuk orang tua dan keluarga besar.

Kampus tidak hanya memberinya ruang kelas. Kampus memberinya ruang pengabdian. Di Lembaga Semi Otonom Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik, ia dipercaya sebagai Kepala Sekolah Gerakan. Di Himpunan Mahasiswa Manajemen, ia menjadi Sekretaris Departemen Organisasi.

Di Pimpinan Komisariat IMM ITB Ahmad Dahlan Jakarta, ia mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum. Kepercayaan itu terus bertumbuh hingga ia terpilih sebagai Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat kampus. Di kursi itulah ia belajar arti memimpin: mendengar sebelum memutuskan, merangkul sebelum memerintah.

Perjalanan organisasinya belum selesai. Di Pimpinan Cabang IMM Jakarta Pusat, ia menjadi Ketua Bidang Hukum dan HAM periode 2024-2025. Kini ia melanjutkan sebagai Ketua Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik periode 2026-2027. Ia juga dipercaya sebagai Ketua Koordinator Bidang Pendidikan BEM PTMA Zona III, meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Mengapa ia memilih jalan organisasi? Karena ia percaya, kepemimpinan tidak tumbuh di tempat sunyi. Ia tumbuh di tengah perdebatan, di tengah tanggung jawab, di tengah pertemuan dengan banyak kepala dan hati. Organisasi menjadi bengkel tempat kapasitas dirinya ditempa.

Dampaknya nyata. Organisasi memperluas jejaringnya hingga ke tingkat nasional. Mengasah kemampuannya dalam bernegosiasi dan berkomunikasi. Menjadikannya pribadi yang tidak hanya pintar secara intelektual, tapi juga matang secara sosial.

Selama kuliah, ia menemukan hal yang unik. Ada teman dan senior yang kadang jahil, namun di saat yang sama memeluknya seperti keluarga sendiri. Selama merantau, ia menemukan persahabatan yang tidak bertanya tentang asal usul, hanya bertanya tentang ketulusan.

Baca Juga :  Dana Desa untuk Siapa dan Apa?

Prinsip yang ia jaga selama merantau hanya satu kata: Tanggung Jawab. Nasihat orang tuanya menjadi kompas. Jaga integritas. Jaga nama baik. Perhatikan orang di sekitarmu. Dan bermimpilah besar, karena mimpi kecil tidak akan mengguncang dunia.

Untuk para pelajar dan mahasiswa yang hendak merantau, Sandri menitipkan pesan: jaga diri, kejar kesuksesan, dan bertanggungjawablah. Dunia luar tidak selalu ramah, tetapi ia akan menghormati orang yang datang dengan adab dan kerja keras.

Sosok yang menginspirasi perjalanannya adalah Muhamad Salahudin. Tenaga Ahli Anggota DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Ahmad Yohan. Kakak sepupunya itu adalah seorang pribadi yang tidak pantang menyerah, yang memperjuangkan harapan dengan optimisme. Dari keteladanan itu, Sandri belajar bahwa badai hanya menguji seberapa dalam akar kita menancap.

“Sosok yang menginspirasi selama menempuh pendidikan adalah Bang Muhamad Salahudin. Beliau ialah sosok yang tidak pantang menyerah dalam situasi dan kondisi, memperjuangkan apa yang menjadi harapan dan selalu optimis,” ungkapnya.

Sandri berpegang pada satu kalimat: sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak. Kalimat telah menginspirasinya dalam banyak hal, demi menebar kebaikan dan manfaat bagi sesama.

Setelah meraih gelar sarjana, ia tidak berhenti. Ia melanjutkan studi S2 Program Studi Ilmu Komunikasi. Alasannya jernih: ia ingin menjadi konsultan komunikasi yang membantu para pemangku kebijakan berbicara dengan bahasa yang menyejukkan, bukan melukai. Mimpi terbesarnya adalah untuk Manggarai Barat. Ia bermimpi suatu hari dapat memimpin daerah itu, menata kebijakan agar masyarakatnya hidup makmur dan sejahtera.

Sepak bola dan futsal menjadi caranya me-refresh diri dari padatnya dunia akademik. Pengalaman paling berkesan selama kuliah adalah ketika ia dipercaya menjadi Ketua BEM. Untuk Rektor dan para dosen ITB Ahmad Dahlan Jakarta, ia mengucapkan terima kasih atas setiap ilmu dan teladan.

Baca Juga :  18 Tahun Gerindra; Kompak, Bergerak dan Berdampak

Dari Cereng ke Jakarta, dari anak petani ke sarjana, dari mimpi ke langkah nyata. Muhamad Sandri, S.M. adalah bukti bahwa asal tidak menentukan arah. Yang menentukan adalah keberanian untuk terus berjalan, sambil tidak pernah lupa daratan. (*)

← Back

Thank you for your response. ✨

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *