Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia
DI ujung Oktober, ketika angin mulai membawa bisik musim, seorang anak laki-laki lahir di Cereng, 23 Oktober 1993. Namanya kelak dikenal: Walimin Bombang, akrab disapa Ustadz Walimin.
Cereng bukan sekadar nama tempat di akta. Ia adalah rahim pertama yang memeluk, tanah yang mengajari bahwa hidup dimulai dari kesederhanaan, dari lumpur yang kelak menjadi pijakan untuk melangkah jauh.
Ia bukan lahir dari istana. Ayahnya, Bapak Selamat Muhammad, dan ibunya, Ibu Siti Nurfatina, adalah petani. Tangan mereka kasar oleh cangkul, tapi lembut ketika mendoakan anak di sepertiga malam.
Dari sawah orangtuanya, Ustadz Walimin belajar dua hal paling dasar: sabar menunggu hujan, dan tawakal saat panen belum tentu datang. Profesi “petani” bukan label kemiskinan di rumah itu. Ia adalah sekolah pertama tentang kerja, tentang keringat yang halal.
Ustadz Walimin adalah anak pertama. Di pundaknya sejak kecil sudah ada tanggung jawab yang tak diucapkan. Ia memiliki empat adik yang menjadi teman seperjalanan. Mereka adalah Ambran Saiful, Darmoyo Nusarto, Faisal Taseng, dan Halil Yusro.
Lima nama, lima arah, tapi satu akar. Sebagai sulung, Ustadz Walimin belajar lebih dulu tentang memberi contoh. Tentang bagaimana menjadi kakak bukan karena usia, tapi karena sikap.
Jika ditanya siapa sosok yang paling berpengaruh, jawabannya tidak bertele-tele: kedua orangtua. Bukan karena mereka berpidato. Tapi karena mereka hidup. Hidup yang mengajarkan bahwa kehormatan tidak diukur dari jabatan, melainkan dari istiqamah. Dari seorang ibu yang menanak nasi dan seorang ayah yang pulang membawa rezeki, Ustadz Walimin mewarisi watak: kerja diam-diam, hasil bicara.
Tahun 2000, ia melangkahkan kaki ke MIS Leheng. Di bangku kayu itulah huruf hijaiyah dan abjad bertemu. Ia lulus dari sana dengan bekal yang tidak terlihat di rapor: adab.
Sekolah dasar bukan hanya tentang membaca. Bagi Ustadz Walimin kecil, itu adalah tempat pertama ia memahami bahwa ilmu adalah amanah.
Masa remaja ditempa di SMP Al-Bayan, lulus 2009. Kemudian berlanjut ke SMA Al-Bayan Hidayatullah Makassar, lulus 2012. Al-Bayan bukan hanya gedung. Ia adalah kawah. Di sana, disiplin bertemu dengan ruh dakwah. Di sana, Ustadz Walimin belajar bahwa seorang penuntut ilmu tidak boleh hanya pintar, tapi juga harus bermanfaat.
2012, ia masuk Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar. Dua tahun di sana, 2012–2014, menjadi masa karantina jiwa. Menghafal, mengkaji, dan ditempa oleh kesederhanaan santri.
Perjalanan akademiknya berlanjut dan berbuah pada tahun 2020, saat ia menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dari Universitas Indonesia Timur Makassar. Dari ma’had ke kampus, dari tasbih ke skripsi, ia berjalan di dua kaki: iman dan ilmu.
Kuliah tidak membuatnya duduk di pojok. Ia memilih turun ke barisan. Misalnya, 2012–2014 menjadi Ketua Ikatan Keluarga Besar Matawae Makassar, 2014–2016 menjadi Sekretaris Wilayah Syabab Hidayatullah Sulawesi Selatan, 2016–2020 menjadi Sekretaris DPD Hidayatullah Maros, 2021–2025: Humas DPW Hidayatullah Gorontalo, 2026–2030 menjadi Bendahara Wilayah DPW Hidayatullah Gorontalo, dan 2026–2028 menadi Kadiv Operasional LAZNAS BMH Perwakilan Gorontalo.
Jabatan berganti, kota berpindah dari Makassar ke Maros, lalu ke Gorontalo. Tapi satu benang merahnya sama: melayani.
Orang bertanya, mengapa sibuk berorganisasi? Jawabannya satu kalimat yang ia jadikan kompas: “Quu Anfusakum Wa Ahliykum Naaro”, Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Qur’an surat at-Tahriim ayat 6).
Baginya, dakwah tidak bisa sendiri. Hanya jama’ah yang bisa menjaga, mengingatkan, dan menopang. Organisasi bukan panggung. Ia adalah perahu. Dan ia memilih menjadi pendayung.
Apa dampaknya bagi dirinya? Banyak. Berorganisasi mengajarinya membaca manusia. Memahami kepemimpinan klasik dan modern dalam Islam. Mengasah kompetensi, dan yang lebih penting: menumbuhkan kultur positif.
Dari rapat yang alot ia belajar musyawarah. Dari tanggung jawab ia belajar amanah. Dari kritik ia belajar tawadhu. Potensinya tidak meledak, ia ditempa, seperti besi yang dipukul berkali-kali agar menjadi tajam.
Ia bukan lahir dari kemewahan, melainkan dari tanah yang mengajarkan cara bertahan. Hidup di rantau baginya bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah madrasah panjang yang menenun jiwa. Di tanah orang, ia menemukan banyak hal yang tak diajarkan di buku.
Kuliner menjadi bahasa baru, cara orang menyapa menjadi cermin adab, dan budaya menjadi jendela untuk memahami bahwa dunia jauh lebih luas dari kampung halaman. Rantau mengajarinya bahwa perbedaan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipeluk dengan hormat.
Prinsip hidupnya sederhana, namun kokoh seperti batu karang. Ia percaya, kepercayaan lahir dari integritas, bukan dari kepiawaian merangkai kata. Ia menjaga disiplin pada uang, karena dalam sunyinya rantau, orang pertama yang menolong bukanlah manusia, melainkan dompet yang tertata. Baginya, kemandirian dimulai dari mampu menahan diri.
Dari rumah, ia membawa tiga bekal yang tak pernah pudar: jaga ibadah, sabar dan kerja keras, serta jaga integritas. Nasehat itu datang dalam berbagai rupa dan cerita setiap kali ia melangkah. Seiring waktu ia sadar, keempatnya adalah poros. Jika ibadah lurus, hati tenang. Jika sabar dan kerja keras menyala, jalan terbuka. Jika integritas dijaga, nama tetap bersih meski badai datang.
Kepada pelajar dan mahasiswa yang hendak merantau, ia menitipkan pesan dalam bahasa tanahnya: “Apa niak neka botang wa tana, kukut tu’u, tenteng ndeng sangge gerak tana”.
Dan syair Arab yang ia genggam: “Jika kamu berjalan, jangan terlalu sering menoleh.” Maksudnya satu: melangkahlah dengan fokus. Rantau menuntut keberanian menatap depan, bukan menoleh ke belakang yang bisa membuat langkah goyah.
Ia tidak menunjuk satu nama sebagai inspirasi. Ia tumbuh di era ketika gelar sarjana mulai jamak di kampungnya, era generasi cereng. Nama-nama itu, meski tak disebut satu per satu, menjadi deretan lentera yang diam-diam ia ikuti cahayanya.
Untuk S2, ia belum tergesa. Baginya, gelar lanjutan bukan kebutuhan primer. Saat ini ia memilih menata ekonomi keluarga terlebih dahulu. S2 akan ia jemput ketika fondasi rumah sudah mapan.
Mimpi terbaiknya untuk Manggarai Barat pun sederhana dan dalam: agar kultur ilmiah dan kultur Islamiyah terus menyala di dada setiap generasi. Ia belum bicara rencana besar, hanya berharap api itu tidak padam.
Satu kalimat ia simpan di dada dan ia ulang-ulang saat lelah: “Biasakan kebenaran, karena tidak semua kebiasaan itu benar.” Kalimat itu menjadi saringan, membedakan mana tradisi yang layak diteruskan dan mana yang harus ditinggalkan.
Hidupnya pernah diuji sangat awal. Di kelas 2 SD, ia harus menelan pil pahit: ibunya terkena stroke setelah melahirkan adik keempat. Dua tahun dirawat di Werang. Ia tinggal bersama tanta, mengurus adik-adik. Tahun 2003 ibunya pulang, dan ia mengambil alih peran. Sepulang sekolah ia memasak, menimba air, memandikan ibu, bahkan membopong beliau dari tempat tidur ke tempat hajat. Sekolah kadang harus ia korbankan.
Tahun 2005, sangat bersejarah. Kehadiran “mama kedua”, mengembalikan kehangatan rumah. Tahun 2006, ia diamanahi merantau jauh ke Makassar. “Di sana Om Abdul Ganir menyambut saya, dan membawa saya ke Hidayatullah Makassar,” kenangnya. Dari sanalah sayapnya mulai direntangkan.
Masa kuliah adalah pertarungan. Di satu sisi ada semangat menuntut ilmu, di sisi lain ada ekonomi yang tipis. Ia bertahan dengan kerja serabutan: menjadi tukang cuci motor, kuli bangunan, hingga petugas pengantar galon antara 2012 sampai 2014. Setiap tetes keringat adalah uang kuliah, setiap lelah adalah doa agar bisa terus belajar.
Ia tidak mengaku hobi bola. Sepak bola dan futsal hanya ia sukai sebatas manusia pada umumnya, untuk melepas penat, bukan untuk dikejar sebagai cita-cita.
Gelar sarjana yang ia raih bukan miliknya seorang. Itu hadiah untuk orangtuanya, dan menjadi tanggung jawab moral bagi adik-adiknya. Ia ingin menjadi bukti nyata dari nasihat: bahwa anak kampung pun bisa, dan bahwa adik-adiknya harus bisa lebih baik lagi.
Kepada para rektor dan dosen, ia menunduk: “Terima kasih untuk semua ilmu yang disemai. Teruslah menjadi pelopor kebaikan.”
Kepada orangtuanya, air matanya jatuh pelan: “Terima kasih untuk doa yang tak terdengar olehku, untuk pengorbanan materi dan air mata harapan. Insya Allah saya akan menebar manfaat, karena ada investasi amal jariyah orangtuaku dalam diri saya yang harus terus mengalir.”
Ia adalah anak rantau. Tidak berisik, tapi berjalan. Tidak banyak bicara, tapi menjaga. Dan dari setiap luka serta kerja kerasnya, ia belajar satu hal: bahwa hidup, pada akhirnya, adalah tentang menjaga api kecil agar tetap menyala: di dalam diri, di keluarga, dan di kampung halaman serta di medan dakwah yang lebih luas.
Di tengah aktivitas dakwah, Allah titipkan tempat pulang. Istrinya bernama Imha Alwiah Insani, perempuan Bugis asal Bone, alumni STIS Hidayatullah Balikpapan. Dari tanah yang berbeda, mereka menyatukan visi.
Lalu lahir dua cahaya: Muhammad Afnan Hanafi dan Aisyah Humairoh. Dua nama yang menjadi pengingat baru: bahwa semua perjuangan di luar rumah, pada akhirnya harus pulang untuk dijaga di dalam rumah.
Ustadz Walimin meniti jalan panjang. Dari Cereng ke Makassar, dari Maros ke Gorontalo. Dari anak petani menjadi dai, suami dan ayah, serta dari sulung lima bersaudara menjadi pengurus umat.
Ia tidak mencari nama besar. Ia hanya ingin menjadi mata air kecil di tengah dahaga. Mengalir, memberi minum, lalu pergi tanpa menuntut disebut. Karena ia percaya: gelar di depan nama boleh S.Pd., tapi gelar di hadapan Allah yang paling ia kejar adalah “hamba yang bermanfaat.” (*)






