Opini

Jangan Lukai Sepak Bola Mabar!

2
×

Jangan Lukai Sepak Bola Mabar!

Share this article
IMG 20260905 WA0033
Syamsudin Kadir Penulis Buku "Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia"

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia Dari Cereng untuk Dunia”

SEPAK bola mestinya pulang dengan dua suara. Pertama peluit panjang yang menidurkan amarah. Kedua jabat tangan yang membangunkan damai. Di sanalah kita belajar bahwa menang tidak perlu menyombong, dan kalah tidak perlu merendahkan martabat. Karena yang tertinggal bukan skor, melainkan cara kita pulang sebagai manusia. Dan manusia yang baik, pulangnya selalu membawa hormat, bukan dendam.

Tapi Jumat sore, 4 September 2026 di Labuan Bajo, peluit itu berkhianat. Ia tidak menutup laga. Ia membuka luka. Suara yang seharusnya menenangkan, berubah menjadi aba-aba. Dan di atas rumput itu, peradaban kita tersandung. Di saat yang sama, kepercayaan publik ikut roboh bersama tiang gawang. Sejak itu, angin di stadion pun tak lagi berani bersiul. Dan rumput yang biasa jadi saksi tawa, hari itu jadi saksi tangis.

Mari kita duduk sejenak dan menatap fakta. Kamis, 3 September, Komodo United dan Blak Craonk bermain 2×45 menit tanpa gol. Jumat dilanjutkan 2×15 menit. Satu gol lahir. Blak Craonk menang 1-0. Angka selesai di papan skor. Namun hati belum selesai dengan dirinya sendiri. Karena angka bisa dilupakan, tapi luka akan selalu diingat. Yang menang dapat masuk ke babak lanjut, pelatih yang kalah diduga terjerat dendam akut.

Setelah peluit akhir, wasit utama Ferdinandus Adi Sudirman, Afred, dipukul. Pelatih Komodo United, Novri, disebut masuk mengejarnya ke tengah lapangan. Wajah Afred terluka, rahang kiri membengkak. Ini nyata, kita saksikan secara terbuka. Ia dibawa ke RS Siloam Labuan Bajo, lalu divisum di Puskesmas Labuan Bajo bersama Polres Manggarai Barat dan keluarga. Hari itu, yang patah bukan hanya tulang, tapi juga wibawa.

Baca Juga :  Hakikat dan Inspirasi Dari Tradisi Mudik

Ini bukan sekadar keributan pinggir lapangan. Ini tamparan di muka hukum. Ini ludah di atas moralitas olahraga kita di Manggarai Barat, NTT. Jika penjaga keadilan di lapangan saja tidak selamat, lalu ke mana kita menitipkan percaya? Hari ini wasit yang dipukul, besok siapa yang berani berdiri di tengah? Jika tengah lapangan saja tidak aman, di mana lagi kita bisa percaya?

Saya menangis. Bukan karena lemah. Tapi karena saya tumbuh bersama bola. Saya tahu bau rumput setelah hujan. Saya tahu nikmatnya berlari sampai napas habis, lalu pulang dengan bahu saling menepuk. Saat MTs, 1997, klub saya juara di NTB. Saat Aliyah, saya mengharumkan nama NTB di Pospenas I 2001 Jawa Barat. Dan di setiap keringat dulu, ada janji bahwa kita akan saling menjaga.

Sepak bola adalah guru yang tidak banyak bicara. Ia mengajar: marah boleh, tapi jangan memukul. Ia mengajar: kalah itu sekolah, bukan aib. Ia mengajar: kita berbeda tim, tapi satu kemanusiaan. Karena itu ketika ada tangan yang berani melukai sepak bola, dada ini sesak. Geram. Sakit. Ia merobek pelajaran paling dasar yang diajarkan lapangan: hormat. Padahal guru terbaik kita selama ini hanyalah sebuah bola dan garis putih.

Peristiwa ini merobek mimpi kita di Mabar. Kita sedang merajut perlahan. Kita ingin bola menghidupi, bukan melukai. Kita ingin lapangan menjadi rumah, bukan arena dendam. Tapi mimpi itu sepertinya seketika jadi retak. Bukan karena gol. Melainkan karena kepalan yang mengalahkan pelukan. Dan retakan itu akan terus melebar jika kita pura-pura tidak melihat. Mimpi yang retak, kalau tidak dijahit, akan jadi jurang.

Ingat, sepak bola adalah pesta. Ia pengikat saudara. Ia penumbuh kompetisi yang jujur. Ia laboratorium kecil tempat kita belajar satu kata penting: sportivitas. Maka kekerasan harus kita tolak bersama. Diam adalah izin. Membiarkan adalah memelihara. Dan membiarkan satu kali, akan mengundang seribu kali berikutnya. Pesta yang ternoda darah, tak akan ada lagi yang mau datang.

Baca Juga :  Dari Pendidikan Keluarga untuk Generasi Kuat

Tengoklah Bandung. Di sana bola bukan hanya ditendang. Bola dirawat. Ekosistemnya dijaga. Skill yang diadu, bukan otot yang diumbar. Penonton datang, UMKM tumbuh, jalanan hidup. Sepak bola memberi makan banyak meja, bukan hanya menambah papan skor. Karena ketika stadion aman, kota ikut bernapas lebih lega. Di sana bola menumbuhkan rezeki, bukan menumbuhkan luka.

Saya pernah merasakan itu. Dulu saya jualan kaos. Sederhana, tapi dari situ saya belajar. Bola bisa menghidupi. Dari sorakan di tribun, lahir rezeki di dapur. Dari 22 orang berlari, ratusan orang ikut berputar roda ekonominya. Karena sesungguhnya, setiap gol juga meneteskan berkah ke warung kecil di pinggir jalan juga stadion. Karena gol bukan hanya angka, ia juga nasi di atas meja orang. Lauk di dapur yang mesti terus tersedia.

Labuan Bajo pun bisa. Sangat bisa. Syaratnya hanya satu, tapi mendesak: buat turnamen yang membuat orang merasa aman pulang. Buat stadion yang membuat ibu berani mengantar anaknya. Jika wasit tidak aman, maka siapa yang mau jadi saksi? Jika lapangan tidak damai, maka siapa yang mau duduk menonton? Karena sepak bola sejati lahir bukan dari teriakan, tapi dari rasa tenang di dada, bahkan saat lampu stadion padam.

Ini bukan soal bola yang menggelinding. Ini soal hati yang harus bulat. Jika ingin naik kelas, mari mulai dari dasar: hormati wasit, hargai lawan, jaga lapangan seperti menjaga rumah. Karena yang menang bukan yang paling keras soraknya, tapi yang paling bersih jejaknya. Sampai suatu hari nanti, anak cucu kita mewarisi lapangan, bukan luka. Jika tidak, kita hanya akan gagah di spanduk, tapi kosong di perbuatan. Dan peluit terakhir akan terus menjadi pertanda dibukanya banjir tangis. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *