Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Muhammadiyah: Ide, Narasi dan Karya”
PENDIDIKAN keluarga merupakan salah satu lembaga pendidikan utama dan pertama dalam kehidupan umat manusia, terutama dalam kehidupan keluarga muslim. Kesuksesan pendidikan keluarga akan berdampak pada ketenangan hidup sebuah keluarga. Bahkan dengan proses pendidikan yang berhasil akan berdampak pada peran sosial keluarga pada lingkungan atau masyarakat luas.
Hal tersebut merupakan salah satu pesan pada Kajian Keluarga Sakinah yang diadakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada Jumat 22 Mei 2026. Acara yang berlangsung di Masjid Mujahidin Muhammadiyah Sumber dan dihadiri 60-an jamaah tersebut mengangkat tema “Generasi Penyumbat” dengan narasumber Ustadz Ahmad Mapparumpa, S.Ag., M.Pd., Ketua Dewan Pakar Majelis Tablig PDM Kabupaten Cirebon.
Keluarga yang tersumbat dari kebaikan hingga sakinah umumnya ditentukan oleh dua sosok penting, yaitu suami dan istri sebelum kelak keduanya menjadi orangtua untuk anak-anak mereka. Karena itu, pembenahan pada dua sosok ini menjadi penting dan relevan untuk diperdalam. Bukan saja dalam rangka membentuk karakter unggul pasangan suami dan istri, tapi juga menyiapkan diri mereka sebagai orangtua bagi anak-anak mereka.
Menurut Ustadz Ahmad, elemen penting dalam pendidikan keluarga sehingga melahirkan keluarga sakinah, yaitu, pertama, hadirnya orangtua. Sebelum menjadi menjadi orangtua, mereka mesti menjadi sosok suami dan istri yang ideal. Bukan saja dalam hal ibadah dan pengetahuan, tapi juga dalam hal akhlak dan keteladanan. Jadi, sebelum menjadi orangtua yang baik, maka kita mesti menjadi pasangan suami-istri yang baik.
Kedua, menjadi teladan yang baik. Orangtua yang baik mesti menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Dengan demikian, sosok orang tua baik seorang ayah maupun seorang ibu, mesti mampu menjadi teladan, termasuk menjadi pendidik teladan dan nyaman bagi anak-anaknya. Cara yang paling sederhana menurut Ustadz Ahmad, anak laki-laki itu paling suka ditepuk punggungnya, sementara anak perempuan suka dielus punggungnya.
Ketiga, menjaga komunikasi yang baik. Keluarga yang baik sehingga sakinah dalam hidupnya adalah keluarga yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Menurut Ustadz Ahamad, bila kita menginginkan keluarga sakinah, maka mesti menjaga komunikasi. Komunikasi dalam rumah tangga mesti lembut sehingga menenangkan dan nyaman bagi semua. Suara yang meninggi diupayakan untuk dikurangi, bahkan dihilangkan.
Keempat, saling memahami. Keluarga yang baik adalah keluarga yang saling memahami. Suami perlu lebih sering mendengar, biar istri merasa didengar dan dipahami. Istri mesti lebih sering bertanya pada sang suami, biar suami merasa dimiliki. Menurut Ustadz Ahmad, ketika istri masih ngomel maka itu pertanda masih ia normal. Sebab istri itu umumnya ingin dipahami, karena itu suami mesti lebih peka.
Kelima, membimbing anak secara bersama-sama. Di sinilah pentingnya hidup bersama, bukan sekadar sama-sama. Salah atau hal sederhana, misalnya, makan bersama. Orangtua dan anak biasanya makan bersama. Sebab kebersamaan dalam hal sederhana seperti ini akan menjadi kenangan terindah dan membentuk suasana rumah tangga semakin akrab dan yang tak kalah pentingnya cinta tumbuh kembang dalam rumah tangga.
Keenam, nikmati kebahagiaan. Sala satu kebahagiaan bagi pasangan suami-istri adalah ketika ditakdirkan punya keturunan atau mendapatkan amanah memiliki anak. Anak yang soleh-solehah adalah dambaan kita semua. Namun demikian, kita mesti pahami bahwa dunia anak itu adalah dunia yang bebas dan akrab dengan permainan. Karena itu, pendidikan di rumah mesti menyesuaikan dengan usia dan potensi mereka.
Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah dan selalu belajar sehingga menjadi orangtua yang layak diteladani dan menyenangkan bagi anak-anak kita. Kewajiban kita adalah mendidik mereka sehingga jadi generasi uang kuat. Allah berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. an-Nisa’: 9). (*)






