Oleh: Syamsudin Kadir
Departemen Pendidikan Karakter Majelis Pengurus Pusat Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI)
EKSISTENSI lembaga pendidikan Islam selama beberapa dekade terakhir cukup menggembirakan kita semua. Berbagai perbaikan dan kemajuan berlangsung di berbagai lini. Prestasi lembaga, guru dan siswa juga cukup menambah optimisme kita tentang berbagai peran dan kontribusi lembaga pendidikan Islam bagi penyebaran nilai-nilai Islam dan kemajuan pendidikan secara nasional.
Salah satu tema penting yang perlu mendapat perhatian serius lembaga pendidikan Islam, terutama sekolah dan madrasah yaitu manajemen keunggulan di era digital. Dengan kata lain, eksistensi dan urgensi lembaga pendidikan Islam serta pengembangan nilai-nilai keislaman perlu ditopang oleh keunggulan terutama pada aspek teknologi dan digitalisasi. Lemah pada aspek ini bakal tertinggal dan digilas zaman.
Diantara ciri lembaga pendidikan unggul yaitu, pertama, memiliki budaya akademik yang kuat. Kedua, memiliki kurikulum yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga, memiliki komunitas sekolah yang selalu menciptakan cara-cara atau teknik belajar untuk belajar yang inovatif. Keempat, berorientasi pada pengembangan hard knowledge dan soft knowledge secara seimbang.
Kelima, proses belajar untuk mengembangkan potensi siswa secara holistik. Potensi yang dikembangkan bukan saja seputar aspek pengetahuan dan wawasan kekinian, tapi juga moral dan keterampilan hidup. Keenam, mengembangkan proses pengembangkan kemampuan dan kompetensi berkomunikasi siswa secara global. Kemampuan siswa termasuk dalam hal komunikasi mesti mendapatkan topangan dan dukungan.
Menghadirkan lembaga pendidikan yang unggul sangat ditentukan oleh kemampuan para gurunya dalam mengajar, terutama dalam menggunakan metode pembelajaran. Guru dan sekolah mesti melakukan adaptasi pembelajaran yang relevan, sehingga tidak kagetan dengan tantangan pembelajaran. Guru mesti terus belajar dan mampu menemukan pola dalam menghadirkan pembelajaran yang efektif, kreatif dan inovatif.
Model pembelajaran terkini yang bisa diadaptasi dan dielaborasi di lembaga pendidikan dan guru diantaranya Discovery Learning, Inquiry Learning, Problem Basic Learning, Project Basic Learning, Production Based Training Production, Teaching Factory, Model Bleanded Learning dan sebagainya. Setiap sekolah dan guru bisa memilih diantara metode tersebut sesuai dengan kondisi, relevansi dan kemampuannya.
Mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul sangat terkait dengan pertanyaan mendasar: apa saja ciri-ciri peserta didik dan manusia unggul? Ciri peserta didik dan manusia unggul di era ini yaitu yang adaptif pada (1) media dan dunia yang semakin tanpa batas, (2) kemajuan pengetahuan dan teknologi dan seni, (3) kesadaran akan hak dan kewajiban asasinya sebagai manusia, (4) pola bekerjasama dan berkompetensi dengan berbagai kalangan dan lintas sektor, (5) perilaku atau akhlak mulia.
Mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul ditentukan juga tenaga pendidik yang unggul. Kepala Sekolah adalah penentu sekaligus penanggungjawab utama dalam mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul. Kepala Sekolah yang unggul, dicirikan oleh dua hal yaitu (1) transformatif dan (2) networking. Kepala Sekolah mesti memiliki spiritualitas, moral yang tinggi dan keteladanan yang baik. Itulah yang membuat lembaga pendidikan Islam makin menarik dan diminati.
Hal lain, bila ingin mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul, maka para gurunya juga mesti memiliki keunggulan tersendiri. Diantara indikasi sekaligus kompetensi unggulnya yaitu (1) memiliki karya ilmiah yang terpublikasi. Memiliki karya tulis saja tidak cukup. Karena itu, karya ilmiahnya mesti dipublikasi oleh institusi yang layak. Hal ini bisa juga dalam bentuk buku yang diterbitkan, sehingga bisa dibaca oleh banyak orang.
Kemudian, ((2) memiliki karya inovatif. Misalnya, sang guru mampu menemukan metode belajar yang relevan dan memudahkan peserta didik dalam mendalami dan memahami materi pelajaran. Kemampuan berinovasi guru akan memudahkan dirinya dalam menjalankan tugas mengajar, sehingga peserta didik pun akan mudah mengikuti proses pembelajaran. Tanpa karya inovatif, guru bakal ketinggalan zaman dan ditinggal oleh siswanya.
Pendidikan merupakan pilar strategis membangun peradaban bangsa dan negara di tengah persaingan dan perubahan sosial yang dahsyat. Karenanya lembaga pendidikan Islam seperti sekolah dan madrasah, harus mampu memperkokoh kembali karakter siswanya sehingga menjadi manusia Indonesia yang kuat (1) nilai-nilai spiritualitasnya, (2) daya intelektual, dan (3) orientasi tindakannya sebagaimana yang ditanamkan oleh pendidikan agama dan budaya luhur bangsa.
Pendidikan karakter yang diintegrasikan dengan penguatan nalar-intelektual dan orientasi tindakan positif-konstruktif menjadi niscaya menuju daya saing bangsa Indonesia menghadapi perubahan lingkungan dan tantangan multidimensional saat ini dan ke depan. Lembaga pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Lembaga pendidikan Islam, baik sekolah maupun madrasah, harus mampu melahirkan lulusan atau generasi yang cerdas, berpikir rasional, objektif, berorientasi ke masa depan, beretos kerja tinggi, hemat, produktif, dan mampu menyingkap segala rahasia alam untuk menjadi bangsa pemenang. Bukan menjadi lulusan atau generasi yang manja, mudah mengeluh, mudah menyerah, dan tidak gigih dalam meraih prestasi terbaik.
Sekolah dan madrasah tidak boleh menghasilkan manusia-manusia sekadarnya saja, mesti menjadi generasi inovator yang mengubah nasib bangsa dan negaranya menjadi pemenang bukan pecundang. Indonesia harus cerdas secara spiritual, intelektual dan moral sosial. Bahwa bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang memiliki keyakinan dan karakter kuat untuk maju, berpikir dan bekerja produktif, berpikir rasional dan objektif, dan memiliki visi masa depan yang jelas.
Indonesia ke depan jika ingin meraih kemajuan dan keunggulan memerlukan generasi bangsa yang memiliki karakteristik dan mentalitas kuat dengan sifat-sifat utama seperti jujur, amanah, terpercaya, disiplin, tanggungjawab, mandiri, kuat pendirian, toleran, harmoni, suka bekerjasama, peduli sesama, dan mentalitas terpuji lainnya. Lembaga pendidikan Islam perlu memastikan siswanya memiliki sifat utama tersebut.
Sebaliknya, lembaga pendidikan Islam perlu memastikan siswanya mengenal keburukan dari berbagai sifat buruk seperti manja alias cengeng, malas, curang, ajimumpung, korup, menerabas, menipu, membohong, ingkar janji, tipu menipu, serba boleh, seenak maunya, serakah, sombong, angkuh, bakhil, dan sifat-sifat menyimpang lainnya yang dapat merugikan diri sendiri dan kehidupan bersama.
Bila seluruh elemen bangsa mampu bekerjasama atau berkolaborasi, maka kita optimis bahwa lembaga pendidikan Islam terutama sekolah dan madrasah yang unggul itu sangat mungkin diwujudkan. Itulah modal utama dalam mewujudkan generasi unggul bangsa yang akan melanjutkan estafeta kepemimpinan dan sejarah bangsa, termasuk menjelang era Indonesia Emas 2045. Bangkit pendidikan Islam, lanjutkan kontribusi terbaik bagi keberlanjutan sejarah Indonesia. (*)






