Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Problem Solver: Beginilah KDM Memimpin”
NAMA itu kini lengkap dengan dua huruf di belakangnya: Amran Saiful, S.H, Sarjana Hukum (S1). Bagi sebagian orang itu hanya gelar. Bagi Amran, itu adalah hadiah terbaik. Hadiah untuk ayah dan ibunya, Bapak Muhamad Selamat dan Ibu Siti Nurfatina, dua petani di Cereng yang puluhan tahun membanting tulang di sawah. Lewat gelar itu, Amran ingin bilang bahwa lelah orangtua di sawah dan lelah dirinya dalam belajar itu kunci sukses dan tidak akan pernah sia-sia.
Akar yang Menumbuhkan
Amran Saiful lahir di Cereng, Golo Sengang, Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT, 3 Oktober 1997. Ia anak kedua dari lima bersaudara. Mereka adalah Walimin Bombang, S.Pd; Darmoyo Nusarto, S.H; Amran Saiful, S.H; Faisal Taseng; dan Kholil Yusra. Sosok yang terakhir ini beda ibu, dari ibu kedua bernama Ibu Hanus. Walaupun berbeda ibu, mereka adalah keluarga yang harmonis, aktif di berbagai organisasi dan akrab dengan nilai-nilai keislaman serta menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.
Keluarganya sederhana. Sejak kecil Amran dididik dengan satu kalimat yang sampai hari ini menjadi kompas hidupnya. “Nak, ayah ingin kamu jauh lebih baik dari yang bapak dapatkan.” Ayahnya tidak memiliki banyak materi, bahkan mungkin terbatas. Tapi dari keterbatasan itulah lahir motivasi yang paling kuat. Karena itu pula, sosok yang paling menginspirasi Amran selama menempuh pendidikan adalah bapaknya sendiri, juga ibunya
Pendidikan dan Jalan Panjang di Rantauan
Pendidikan membawa Amran jauh dari rumah. Ia memulai di MI Nurul Fikri Leheng tahun 2008 dan lulus 2013. Melanjut ke SMP Salafiah Darul Falah Pagutan Mataram tahun 2014 sampai 2016. Kemudian ke SMA Hidayatullah Towuti, Luwu Timur tahun 2017 sampai 2019. Perjuangannya berlanjut di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Fakultas Agama Islam, Program Studi Hukum Keluarga. Ia menyelesaikan studi sarjananya pada tahun 2026.
Hidup di rantau mengajarinya dua hal sekaligus. Semangatnya tinggi, tapi kondisi ekonomi sering tidak seimbang. Ada masa-masa dompet tipis. Ada juga cerita yang kini bisa ditertawakan, seperti ketika bensin habis di jalan, terjebak macet, lalu terlambat masuk kelas hingga tidak diizinkan masuk oleh dosen. Namun ada satu hal yang tidak bisa ditertawakan. Saat ayah dan ibunya sakit dan ia tidak bisa selalu berada di samping mereka. Dari sanalah Amran belajar bahwa waktu bersama keluarga adalah rezeki paling besar yang harus dijaga sebaik-baikny
Kelas, Organisasi dan Tempaan Diri
Selama kuliah, Amran tidak hanya duduk di bangku kuliah. Ia aktif di IKM-MAGRIB Makassar dan HPPM-MAGRIB Makassar. Ia pernah menjadi pengurus harian, dan pernah dipercaya memimpin sebagai Ketua Umum HPPM-MAGRIB Makassar. Alasan awalnya sederhana: ingin memperluas jaringan pertemanan. Tapi yang ia dapat jauh lebih besar. Organisasi membentuk kedisiplinan, melatihnya berdiskusi, berorganisasi, dan bertanggung jawab. Itu adalah sekolah kedua yang tidak tertulis di silabus.
Selama merantau, ada satu prinsip yang ia pegang teguh: menjaga sopan santun. Baginya, setinggi apa pun pendidikan, adab tetap harus di atas segalanya. Karena adab yang membuat orang mau mendengar, bukan sekadar pengalaman sekolah dan gelar yang disandang. Ia percaya, tutur kata yang lembut bisa membuka pintu yang terkunci. Dan rezeki paling berkah datang saat kita tetap rendah hati di tanah oran
Menikah, Mengajar, dan Cita-cita
Pada 23 November 2025, Amran menikah dengan Saufanti Satria, S.Pd. Keputusan menikah sebelum wisuda bukan tanpa alasan. Ia ingin segera beribadah kepada Allah SWT, mengamalkan sunnah Rasulullah SAW, dan menjaga diri dari fitnah serta zina. “Ingin beribadah kepada Allah SWT dan mengamalkan Sunnah Rasulullah SAW serta terhindar dari fitnah dan zina,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Saat ini Amran mengajar di SMP Muhammadiyah Leworeng. Ia tidak mengklaim dirinya sudah sempurna. Mengajar adalah bentuk kepeduliannya pada dunia pendidikan. Ia percaya, satu anak yang dibimbing dengan sungguh-sungguh bisa mengubah masa depan satu kampung. Setelah meraih gelar sarjana, langkah berikutnya sudah disiapkan: melanjutkan S2. Dan gelar S.H yang disandangnya hari ini, ia persembahkan sepenuhnya untuk kedua orang tuanya.
Untuk kampung halamannya, Cereng juga Manggarai Barat, di NTT, Amran punya harapan sederhana: masyarakatnya belajar untuk bijaksana. Bijaksana dalam mengambil keputusan, dalam memimpin, dan dalam memperlakukan sesama. Bijaksana menjaga tanah dan laut agar anak cucu tetap punya warisan yang lestari. Bijaksana mengutamakan gotong royong di atas kepentingan pribadi. Bijaksana mewariskan adat dengan hati, bukan dengan paksaa
Pegangan dan Prinsip Hidup
Ada satu kalimat yang selalu ia jadikan pegangan: “Tak semua proses harus diprotes. Karena kesuksesan tidak butuh protes, tapi proses.” Kalimat itu mengingatkannya untuk tetap tenang saat jalan terasa panjang. Mengajarkannya untuk bekerja diam-diam, bukan berisik di depan. Karena ia percaya, hasil tidak akan mengkhianati usaha yang konsisten. Dan pada akhirnya, proses itulah yang membentuk orang seperti apa ia nantinya.
Untuk para pelajar dan mahasiswa yang sedang berjuang di tanah rantau, ia berpesan: “Jangan melihat siapa mereka. Katakan saja: inilah aku, dan aku akan jauh lebih baik dari mereka.” Jangan bandingkan langkah kita dengan langkah orang lain, karena medan juang kita berbeda. Fokuslah menanam, menyiram, dan merawat diri kita setiap hari. Suatu saat nanti, hasil dan kenyataan yang akan menjawab semua keraguan itu.
Kepada Bapak Rektor dan para dosen UMI Makassar, Amran menyampaikan terima kasih. Ia siap mengamalkan ilmu yang telah diberikan. Kepada orang tua, ia hanya meminta satu hal: doa. Karena tanpa doa itu, ia yakin ia bukan siapa-siapa. Doa yang ia minta bukan untuk jadi hebat, tapi untuk tetap rendah hati saat diberi amanah. Doa agar setiap ilmu yang ia dapat bisa bermanfaat untuk Manggarai Barat dan sesama. Doa agar ia selalu ingat, dari mana ia berasal dan untuk siapa ia berjuang.
Di sela kesibukan, Amran masih menyalurkan hobinya bermain bola sepak dan futsal. Baginya itu bukan sekadar hobi. Itu cara merawat tubuh agar fisik tetap sehat, sehingga kuat dalam beribadah dan pikiran tetap jernih untuk terus belajar. Lewat lapangan, ia belajar kerja sama, disiplin, dan sportivitas. Karena bagi Amran, sehat itu investasi. Kalau tubuh kuat, mimpi besar pun sanggup dikejar. Itulah yang membuatnya bertambah hebat.
Amran adalah sosok generasi muda Cereng yang paling sering menelpon atau berkomunikasi dengan saya. Kami berkomunikasi puluhan menit hingga berjam-jam, membahas banyak hal, mulai dari topik serius sampai candaan lucu yang spontan. Setiap kali dia menelpon pasti ada cerita baru, ada yang membuat saya merenung, ada juga yang membuat saya tertawa. Gayanya santai, tapi isi obrolannya berbobot, hingga tidak membosankan. Bagi saya, Amran bukan cuma teman diskusi, tapi juga adik usil yang membuat hari-hari di tanah rantauan terasa lebih hidup dan makin bermakna.
Perjalanan Amran Saiful belumlah selesai. Dari Cereng ke Makassar. Atau mungkin ke kota lain, nantinya. Dari bangku MI sampai ruang sidang skripsi, lalu wisuda. Dari anak seorang petani sampai menyandang gelar sarjana hukum. Semua dilalui lewat proses, kesabaran, dan syukur. Dan proses itu, insyaAllah, akan terus ia jalani. Dari Imran kita belajar hal penting: meraih impian itu butuh kerja keras, kesabaran dan kesungguhan. Pengalamannya yang panjang dan penuh tantangan, layak dijadikan sebagai motivasi dan inspirasi. Barakallahu fiik my brother, spirit to your success. (*)






