Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Problem Solver: Beginilah KDM Memimpin”
GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) selalu punya cara untuk membuat publik berhenti sejenak dan ikut berpikir. Setiap langkahnya, sekecil apa pun, pasti jadi bahan obrolan. Sejak dilantik pada 20 Februari 2025, tiga bulan kepemimpinannya di Jawa Barat memang penuh kejutan yang sengaja dibuat berbeda. Ia tidak datang dengan pola lama yang kaku dan berjarak. KDM memilih turun langsung, menyapa, mendengar, bahkan menegur dengan bahasa yang membumi.
Motivator, host dan penulis produktif Helmy Yahya menyebutnya sebagai “diferensiasi”. Cara berpakaian, cara menyapa warga, hingga cara menyikapi masalah, kata adik Tanthowi Yahya itu, semua terasa tidak seperti biasa. Dan, mungkin memang itu yang dibutuhkan oleh Jawa Barat: seorang pemimpin yang berani tampil beda agar pesannya sampai. Orang jadi penasaran, lalu mendengarkan, lalu ikut membicarakan. Dari situlah ruang dialog terbuka, bukan hanya soal kebijakan, tapi juga soal nilai dan sikap. Diferensiasi adalah cara memastikan pesan kebaikan tidak tenggelam oleh kebisingan.
Setelah program pembinaan di barak untuk pelajar yang sudah kelewat batas, belakangan muncul langkah baru KDM yang mendapat respon pro-kontra di tengah masyarakat. Bukan saja di Jawa Barat, tapi juga secara nasional. Tertanggal 23 Mei 2025, keluar Surat Edaran Nomor 51/PA.03/DISDIK tentang Penerapan Jam Malam Bagi Peserta Didik untuk Mewujudkan Generasi Panca Waluya Jawa Barat Istimewa. Isinya tegas dan lugas, mengatur kapan pelajar boleh berada di luar rumah. Sehingga malam dimanfaatkan sebagai waktu untuk belajar dan berkumpul bersama keluarga.
Isinya sederhana. Mulai 1 Juni 2025, pelajar tingkat dasar hingga menengah, termasuk pendidikan khusus, diminta berada di dalam rumah pada pukul 21.00 WIB sampai 04.00 WIB. Bukan untuk mengurung, tapi untuk melindungi. Latar belakangnya bisa kita rasakan bersama. Tawuran, perampokan, perkelahian antar pelajar paling sering terjadi saat malam larut. Data di lapangan menunjukkan jam rawan ada di kisaran 23.00 hingga 02.00 WIB, dan ironisnya lokasinya sering ditentukan lewat grup media sosial.
Ketegasan KDM terdengar keras saat ia bicara di acara ‘Abdi Nagri Nganjang ka Warga’ di Subang, 28 Mei 2025. “Kalau ada anak Jawa Barat yang berkelahi, dibacok, dirampok di jalan saat jam malam, Pemprov tidak akan membantu pembiayaannya.” Baik sebagai pelaku maupun korban, tetap dianggap lalai karena berada di luar pada waktu yang sudah ditentukan. Ini sebuah penegasan agar setiap elemen masyarakat tidak memaafkan tindakan kriminal hanya karena pelakunya dianggap dibawah umur.
Mendengarnya mungkin tidak nyaman. Tapi di balik kalimat itu ada bentuk cinta yang tegas. Seorang orang tua tidak akan diam saat anaknya terus-menerus keluar malam tanpa arah. Negara pun begitu, ia harus hadir bukan hanya saat musibah terjadi, tapi juga saat mencegahnya. Kita tahu anak-anak sekarang bergerak cepat. Janji ketemu, kesepakatan lokasi, semuanya bisa terjadi dalam hitungan menit di dunia maya. Karena itu pagarnya harus jelas. Pukul 21.00 adalah batas agar langkah kaki menoleh pulang, bukan mencari keramaian yang tidak perlu.
Tentu ada ruang pengecualian. Pelajar yang ikut kegiatan sekolah resmi, kegiatan keagamaan, atau kegiatan sosial di lingkungannya tetap boleh, asal sepengetahuan orang tua. Begitu juga yang sedang bersama orang tua, dalam keadaan darurat, atau bencana. Aturan tidak menutup pintu, ia hanya memberi arah. Sehingga memberi kejelasan dan dampak yang baik bagi semua: Anak, orangtua, masyarakat dan bangsa serta penentu kebijakan.
Agar tidak berhenti di atas kertas, KDM memerintahkan bupati dan wali kota untuk mengoordinasikan ini sampai ke tingkat kecamatan, kelurahan, desa, dan sekolah. Dinas Pendidikan provinsi diminta mengawal jenjang menengah dan pendidikan khusus. Koordinasi juga dilakukan dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama. Semua harus bergerak bersama. Ini butuh kerja kolaboratif, ungkap KDM saat diwawancara berbagai media.
Orang menyebutnya “Gubernur Konten” karena tiap geraknya terekam dan dibicarakan. Tapi di balik konten itu ada niat yang serius. Ia sedang membangun pagar moral sebelum pagar fisik jebol. Ia sedang menyelamatkan waktu malam anak-anak agar kembali menjadi waktu istirahat, belajar, dan berkumpul dengan keluarga. Bila tidak ada kepedulian dan aturan yang membingkainya, maka kejadian di luar kewajaran akan terus terjadi. Dan, yang rugi bukan saja anak-anak tapi juga orangtua dan masyarakat sekitar.
Kita sedang berjalan menuju Indonesia Emas 2045. Seratus tahun Indonesia merdeka hanya akan bermakna jika generasi hari ini disiapkan lahir batinnya. Moral, mental, kecakapan, dan rasa aman harus ditumbuhkan sejak sekarang. Menghindarkan mereka dari onar adalah bagian dari investasi besar itu. Maka kita mesti berterima kasih kepada KDM karena berani mengambil keputusan tak populer demi masa depan yang lebih tenang. Ingat, rumah harus kembali menjadi tempat paling aman untuk pulang bagi anak-anak kita. (*)






