Opini

Baku Peduli, Karena Kita Bersaudara

10
×

Baku Peduli, Karena Kita Bersaudara

Share this article
IMG 20260818 WA00111
Syamsudin Kadir Penulis Buku "NTT BISA!: Dari Reruntuhan ke Harapan" Foto : Dok Pribadi/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Retuntuhan Ke Hatapan”

SABTU, 15 Agustus 2026. Tanah NTT bergetar. Bukan pertama kali. Tapi ribuan kali, hingga saat ini. Setiap kali gempa mengguncang, ia mengingatkan bahwa kita kecil. Ia juga mengingatkan bahwa kita punya cara untuk menjadi besar: bersama. Ganjar Pranowo namanya. Ia tidak berhenti pada headline TV. Ia ke NTT untuk hadir di setiap titik warga yang mengungsi. Rumah bisa retak. Atap bisa runtuh. Tapi cara kita saling berbagi tidak. Itu pesan yang ia hadirkan.

Pesan Dari Manggarai Barat

Bersama Tri Rismaharini, Sri Rahayu, dan barisan PDI Perjuangan dari pusat sampai ke desa, Mas Ganjar sampai di Golo Sepang, Boleng, Manggarai Barat. Di sana pengungsian tidak dimulai dengan spanduk. Ia dimulai dari asap. Dapur bersama mengepul pelan. Tak ada yang lain, yang ada hanya ikan yang dibeli dari recehan yang dikumpulkan. Tidak ada yang menghitung siapa menyumbang berapa. Hal yang terdengar hanya kalimat sederhana: “In Syaa Allah, ini cukup untuk kita semua, ya!”.

Di sela tali jemuran anak-anak berlari. Tawanya masih pincang, masih membawa sisa takut. Ibu-ibu tua dan ibu hamil duduk melingkar, saling menyangga punggung. Bapak-bapak bergiliran mengangkut air, menambal terpal yang disobek angin. Di sinilah pelajaran lama kembali dibisikkan: warga bantu warga. Luka jadi ringan kalau dipikul ramai-ramai. Harapan jadi cepat tumbuh kalau disiram tiap hari, dengan hal kecil yang konsisten. Pesannya, meski tanah kita berguncang, hati tidak harus ikut runtuh.

Belajar dari Ngada

Dari Manggarai Barat, Mas Ganjar lanjut ke lokasi lain. Di sini perjalanan tak selalu mulus. Sore itu jalan ke Ngada cukup debu tapi penuh doa. Truk bantuan merayap di antara bukit dan jalan panjang. Lalu langkahnya tertahan. Motor diparkir melintang. Kayu berserakan. Wajah-wajah berdiri di depan truk. Bukan wajah marah yang liar. Itu wajah lelah yang sudah terlalu lama menunggu kejelasan. Karena rasa lapar yang sudah tak bisa diajak diam.

Baca Juga :  Selamat Milad Ke-1 “gemamadani.com”

Mas Ganjar tidak naik ke atas bak dan berpidato. Ia turun. Label politisi nasional tak berlaku di sini. Ia pun benar-benar turun tanpa ragu. Dua kaki, jutaan senyum, dan keberanian untuk mendekat. Ia mendengar nama-nama yang belum masuk daftar. Ia mendengar atap yang belum kembali. Ia mendengar perut yang masih lapar. Ia mendengar anak yang tidur di bawah terpal. Kemarahan di sana masuk akal. Menunggu tanpa kepastian adalah luka paling panjang.

Tapi di tengah kekhawaturan itu masih ada jabat tangan. Masih ada senyum kecil di antara perut yang lapar. Orang Ngada tidak menghadang untuk menyakiti siapapun. Mereka menghadang karena takut dilupakan, terutama oleh saudara mereka sendiri yang memang membawa segudang kepedulian dan kedamaian. Karena peduli, kalau tidak disuarakan, bisa hilang di tikungan. Karena kedamaian itu dibangun dari kejujuran dan saling memahami.

Dan di situlah kita belajar lagi tentang sabar. Tentang santun yang bukan pilihan saat keadaan baik saja. Santun itu warisan. Tanah ini mengajari ramah bahkan kepada orang asing. Mengajari gotong royong jauh sebelum kata itu dicetak di buku. Truk tumpangan Mas Ganjar dan rombongan akhirnya jalan lagi. Pelan. Kayu-kayu disingkirkan bersama-sama. Di kaca spion, mereka masih berdiri, melambaikan tangan. Penuh cinta.

Mas Ganjar pulang membawa satu kalimat dari Ngada yang sederhana sekali: “Dalam susah sekalipun, mari kita baku sayang, baku jaga”. Saya percaya pada NTT yang saya kenal.
Bencana boleh merobohkan dinding, tapi tidak merobohkan watak. Hari ini giliran Mas Ganjar yang datang dari jauh untuk membantu, besok mungkin giliran kami yang mesti menolong. Tidak ada yang lebih tinggi saat gempa menguji, yang ada hanya tangan yang saling menggenggam.

Baca Juga :  Analisis Sosial; Pemantik untuk IMM

NTT, tanah tabah. Kau akan berdiri lagi. Karena kita bersaudara. Karena kita saling menjaga. Karena di tengah debu dan luka, kita masih ingat cara berbagi ikan, cara menyingkirkan kayu bersama, cara melambaikan tangan sebelum berpisah. Bumi boleh berguncang. Bahkan rumah kita tokoh dan hancur. Tapi selama kita masih mau saling menatap, mendengar, dan menguatkan, maka masa depan tidak akan pernah kita biarkan ikut roboh dan hancur. NTT pasti bisa bangkit. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *