Opini

Karena Kita Bersaudara

6
×

Karena Kita Bersaudara

Share this article
IMG 20260817 WA0042
Syamsudin Kadir Penulis Buku dan Relawan NTT Bisa! Foto : Dok Pribadi/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku dan Relawan NTT Bisa!

NUSA Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) itu bersaudara. Bukan karena sama-sama berawalan N, tapi karena tanahnya sama-sama ditempa angin, laut, dan doa. Dari Flores sampai Lombok, dari Sumba sampai Sumbawa, kita tumbuh dengan cara yang sama: menunduk saat ombak tinggi, lalu berdiri lagi saat langit cerah. Luka di satu pulau rasanya sampai ke pulau lain, karena kita memang dipisahkan selat, tapi diikat oleh darah yang sama-sama melekat.

Saat gempa datang, tanah bergeser bukan hanya di bawah kaki kita. Ia mengguncang iman, mengguncang rumah, mengguncang keyakinan bahwa besok kita akan baik-baik saja. Di detik seperti itu gelar provinsi tidak ada artinya, yang ada hanya tangan yang terus terulur. Dalam berbagai kesempatan, orang Kupang, Sumba dan Flores kirim logistik ke Lombok dan Sumbawa. Orang Mataram mendoakan kebaikan untuk Bima, Sumbawa membantu Dompu. Dan begitu seterusnya.

Di reruntuhan, kita belajar bahwa menolong bukan pilihan, itu panggilan, karena kita saudara: sama-sama ciptaan Sang Pencipta. Secara spiritual, bencana mengingatkan kita, siapa kita sebenarnya. Kita sadar bahwa kita bukan pemilik tanah ini. Kita hanya dititipkan sesaat.

Gempa meruntuhkan tembok bangunan, dinding gubuk dan lapak jualan, bahkan juga meruntuhkan ego kita. Ia memaksa kita sujud, lalu bangkit bersama dalam bingkai sepenanggungan. Dalam setiap jeritan di tenda pengungsian ada ayat yang sama: bahwa manusia kuat bukan karena sendiri, tapi karena ada orang lain yang menopang. Dan di timur Indonesia, penopang itu bernama persaudaraan.

Karena itu mari saling bantu, tanpa batas dan jeda. Tidak selalu menunggu ada bencana baru bergerak. Kirim doa saat tenang, kirim tenaga saat genting. Jaga bahasa, jaga adat, jaga cerita satu sama lain. Kita satu darah, satu bangsa, dan satu harap. Jika NTT kuat, NTB ikut tegak. Jika NTT sembuh, NTB ikut lega. Karena di ujung timur negeri ini, Tuhan sedang menuliskan pelajaran penting: bahwa yang membuat kita besar bukan seberapa tinggi kita berdiri sendiri, tapi seberapa erat kita saling meneguhkan, mengukuhkan dan menguatkan

Baca Juga :  Jangan Korupsi Bantuan Gempa NTT!

Terima Kasih NTB

Ahad, 16 Agustus 2026. Di halaman kantor BPBD NTB, barisan Tim Solidaritas diberangkatkan. Bukan dengan upacara megah, tapi dengan mata berkaca dan suara yang ditahan. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, berdiri di depan mereka. Kalimatnya sederhana, tapi menembus hati terdalam: “Satu jam setelah kejadian, saya langsung komunikasi dengan Gubernur NTT dan menyampaikan bahwa mereka tidak sendiri.”

Satu jam. Tidak ada rapat panjang, tidak ada menunggu arahan berlapis. Hanya satu panggilan tetangga ke tetangga. NTB bicara bukan dari buku manual kebencanaan. NTB bicara dari ingatan 2018. Dari tanah yang retak, rumah yang runtuh, dan malam-malam yang dingin di tenda pengungsian. Di tengah tangisan si bayi yang menanti ASI kala sang bunda telah tiada, dan ah kita sedih bila mengingat masa itu lalu menyebut semuanya dalam serpihan sederhana ini.

“Tahun 2018 kita menghadapi gempa luar biasa di NTB. Kita adalah salah satu daerah yang paling tahu rasanya menghadapi situasi berat seperti itu. Kita paling paham bagaimana pentingnya dan kuatnya solidaritas dari saudara-saudara kita, baik tingkat nasional maupun internasional,” ujar Gubernur Iqbal saat memberikan sambutan pelepasan tim kemanusiaan di kantor BPBD NTB, Ahad, 16 Agustus 2026.

Kita akui bahwa NTB adalah salah satu daerah yang paling tahu rasanya menghadapi situasi berat seperti yang kita alami sekarang. NTB paling paham bagaimana pentingnya dan kuatnya solidaritas dari berbagai daerah kala itu. Bahkan tak sedikit dari dunia internasional yang turut membantu. Mereka tahu apa yang mesti dilakukan kala saudara mengalami hal serupa.

Semua itu mendakan bahwa kita masih punya rasa cinta dan peduli. Ini bukan sekadar empati, tapi juga memori tubuh dan nurani. Orang yang pernah kehausan paling tahu rasanya diberi seteguk air. Orang yang pernah kehilangan paling tahu rasanya dijemput pertama kali. Karena itu NTB ingin jadi yang pertama hadir. Bukan karena ingin paling depan di berita dan obrolan netizen. Tapi karena tahu persis sakit luka dan cerita duka saat bencana datang.

Baca Juga :  Khidmat HMI Untuk Indonesia

Hal yang membuat keberangkatan ini berbeda: kecepatannya. Kurang dari 24 jam sejak instruksi, tim dan bantuan sudah siap berangkat. Gubernur Iqbal menyebutnya secara jujur dan apa adanya. “Ini bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menguji kesiapsiagaan kita,” ucapnya dengan nada sedih namun penuh semangat.

Dari NTB kita belajar dua hal Pertama, kesediaa logistik dan koordinasi BPBD. Apakah sistem darurat benar-benar bekerja saat lampu kuning menyala. Kedua, yang lebih penting, adalah ketulusan dan kesiapsiagaan hati. Mampukah kita mengalahkan birokrasi, ego sektoral, dan rasa “nanti saja” demi membantu saudara di seberang yang dilanda bencana, bahkan kehilangan nyawa?

NTB menjawab dengan aksi dan langkah pasti. Dan jawaban itu akan jadi catatan sejarah yang mahal dan selalu terkenang. Karena bencana tidak pernah memberi waktu latihan. “Saya sampaikan dengan air mata sedih, saya layak peduli saudara di seberang,” seakan-akan Gubernur Iqbal mengatakan demikian untuk saudaranya, ya kita di NTT yang sedang berduka.

Di titik ini politik dan batasan administrasi berhenti, sebab di sini kemanusiaan yang bicara. Air mata seorang pemimpin bukan kelemahannya. Itu tanda bahwa pemimpin dan kebijakannya masih punya nyawa juga nadi. Bahwa angka korban bukan sekadar data erita di layar TV dan media berita, tapi juga nama, keluarga, dan tetangga, bahkan duka saudara sepenanggungan.

Menjadi tetangga terdekat berarti tanggung jawab moral yang tidak bisa ditunda. Bertindak sekarang juga, bukan nanti. Karena ini soal nyawa saudara se-Nusa Tenggara, bukan sekadar tetangga biasa. Ini tentang emosi darah, bukan sekadar bangsa. NTT tidak berjuang sendiri, karena ada NTB sebagai saudara yang mengetuk pintu pertama. Itu pesan yang tertoreh jelas dalam batin kita.

Baca Juga :  Mengenang Pua Abdul Tahami

Bencana selalu meninggalkan dua hal: kerusakan dan cermin. Kerusakan di NTT hari ini mengingatkan kita bahwa Indonesia Timur rawan dan butuh jejaring tanggap yang cepat dalam skala jangka panjang. Cermin dari NTB mengingatkan kita bahwa pengalaman pahit bisa disulap jadi kapasitas menolong pada sesama tanpa ragu dan jeda. Luka 2018 di NTB tidak disembuhkan dengan dilupakan. Luka itu disembuhkan dengan menyembuhkan luka saudara sendiri di NTT pada tahun 2026 ini.

Solidaritas bukan lagi slogan. Karena tidak cukup di kata-kata yang terhampar di berita sekian hari, pekan dan bulan bahkan tahunan. Sebagaimana cinta, solidaritas adalah keputusan dalam satu jam pertama. Solidaritas adalah kemampuan menyiapkan tim dalam 24 jam. Solidaritas adalah berani hadir sebelum diminta, karena kita tahu rasanya menunggu itu melelahkan, bahkan bisa menimbulkan luka hati yang menganga.

Sebagaimana harap kita pada kita di NTT, kita juga berharap agar NTB tak mengalami bencana serupa lagi. Bila pun terjadi, tentu saudara kita di NTB yang butuh gerak cepat dari kita dari NTT, begitu juga sebaliknya. Kita pun menyadari bahwa harus ada tetangga atau saudara yang ingat rasanya membantu, lalu datang lebih dulu. Karena pada akhirnya, kawasan ini berdiri bukan karena kuat sendiri-sendiri. Tapi karena ada yang mau mengatakan secara jujur: “Kamu tidak sendiri saudara. Kami ada, kami datang.”

NTB dan NTT adalah saudara satu nadi juga satu rasa dalam banyak hal. Dari NTT kita layak sampaikan: Terima kasih atas doa dan dukungan tulus saudara-saudara kami dari NTB. Semoga bantuan dan solidaritas dari NTB ini jadi penguat, meringankan beban, dan mengingatkan kita: di saat susah, kita punya saudara. Di saat duka, kebersamaan Nusa Tenggara jadi bukti bahwa kita selamanya adalah saudara juga serasa. Bahkan kita juga merupakan ciptaan Tuhan yang sama: Allah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *