Opini

Sinergi Tarbiyah Sekolah dan Keluarga Dalam Memacu Produktifitas Gen Z

18
×

Sinergi Tarbiyah Sekolah dan Keluarga Dalam Memacu Produktifitas Gen Z

Share this article
IMG 20260620 WA0027
Malaika Aurora Mahasiswi Prodi Manjemen Pendidikan Islam IAI Nurul Hakim Lombok. Foto : Istimewa/GM

Oleh: Malaika Aurora

Mahasiswi Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAI Nurul Hakim Lombok

PENDIDIKAN yang sukses tidak hanya diukur dari proses namun juga mampu menghasilkan output yang nyata, di mana output merupakan hasil nyata yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung maupun dimasa depan (Salim et al., 2026). Pengelolaan pendidikan di rumah paling berpengaruh terhadap pola pikir dan pola sikap siswa.

Orang tua tidak hanya berperan sebagai pemenuhan materi namun juga sebagai sumber pendidikan (Aulia et al., 2024). Fenomena ketergantungan pada teknologi saat ini menjadi pemicu terbesar rusaknya produktivitas, fokus jangka Panjang, kemampuan berfikir kritis, dan interaksi sosial Gen Z (Agusmansyah et al., 2025).

Faktor terkuat yang mempengaruhi kepribadian anak yang tidak produktif adalah kesenjangan pola asuh keluarga dengan pola asuh tarbiyah sekolah, dimana orangtua seringkali gagal dalam memahami cara mendidik anak dengan sehat dan tepat menjadi penyebab utama rendahnya produktivitas anak (Putri, 2025). Usaha meningkatkan produktivitas siswa dengan sinergi sekolah dan keluarga sudah dibahas sebelumnya dalam literatur akademik oleh Derilo (2024) yang menganalisis dampak sinergi keluarga-sekolah pada capaian akademik Gen Z.

Melihat celah yang ada pada ulasan tersebut, pada tulisan ini penulis menawarkan solusi dengan konsep “Manajemen Parenting Berbasis Output” dalam sistem tarbiyah Islamiyah yang berfokus pada pembentukan produktivitas dan kepribadian mulia yang terukur dan memiliki hasil nyata pada Gen Z dengan perbedaan pola asuh tradisional yang kurang efektif untuk era digital saat ini.

Tulisan ini secara spesifik memfokuskan kajian pada siswa Gen Z di rentang usia 14-18 tahun (jenjang SMP dan SMA). Merujuk pada definisi Pew Research Center, Gen Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997-2012. Artinya, saat ini Gen Z berusia 14-29 tahun. Namun kelompok usia 14-18 tahun dipilih karena pada fase ini anak secara psikologis masih sangat membutuhkan pendampingan serta panduan disiplin yang intensif dari orang tua dan guru.

Baca Juga :  MUI Sebagai Rumah Umat Islam Indonesia

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis lebih dalam mengenai strategi kolaborasi sekolah dan keluarga untuk meningkatkan produktivitas dan kepribadian mulia Gen Z dengan output yang terukur, tidak hanya secara akademik tapi juga interaksi sosial dan spiritua

Dekontruksi Masalah Produktifitas Gen Z secara Holistik

Perkembangan pesat teknologi menjadi tantangan terbesar Gen Z dalam menciptakan produktivitas. Rusaknya produktivitas sama dengan rusaknya manajemen diri Gen Z, sehingga menyebabkan hilangnya motivasi belajar serta hilangnya arah makna hidup.

Hidup tanpa manajemen diri yang baik dapat menjerumuskan seseorang dalam kesia-siaan yang dibungkus kenyamanan (Mumtaz, 2026). Salah satunya adalah faktor Smartphone yang perlahan merusak produktivitas Gen Z hingga terbentuklah anak yang tidak bisa fokus pada hal yang lebih bermakna, namun hal itu bisa dicegah dengan perilaku demokratis dari pendidik dalam membimbing mereka bagaimana manajemen penggunaan teknologi secara positif (Alam et al., 2025).

Kualitas intelektual dan karakter siswa sangat dipengaruhi oleh produktivitas, di mana rusaknya produktivitas juga disebabkan oleh fenomena doomscrolling karna tidak adanya pengontrolan secara nyata yang dilakukan oleh sekolah dan keluarga sehingga terbentuklah anak yang emosional, konsentrasi menurun, dan kecemasan berlebih (Kadir et al., 2026). Produktivitas tidak bisa dinilai dari prestasi akademik semata, sedang implementasinya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat tidak di ukur secara matang.

Produktivitas harus dilihat secara menyeluruh baik dari aspek kognitif bagaimana anak memahami makna dan tau arah hidupnya, dan juga aspek karakter bagaimana anak berinteraksi dengan masyarakat dan Tuhannya (Saimun, 2025), dimana semua itu harus memiliki hasil yang nyata (output) bukan sekedar angka diatas kertas.

Rekontruksi Manajemen Parenting Berbasis Output dalam Bingkai Tarbiyah Islamiyah

Untuk mencapai produktivitas Gen Z perlu adanya pembaharuan dari manajemen parenting tradisional yang berfokus pada kontrol dan input saja menuju manajemen parenting dengan output nyata. Oleh karena itu, rekonstruksi yang diberikan mencakup tiga indikator manajemen parenting yang berfokus pada output, yaitu (1) produktivitas spiritual (konsistensi dalam beribadah dan menghafal), (2) produktivitas akademik (kemampuan literasi dan keterampilan digital), serta (3) produktivitas sosial (partisipasi dalam keluarga dan komunitas).

Baca Juga :  Kampus, Mahasiswa dan Mesin Ekonomi Daerah

Tiga indikator tersebut disusun berdasarkan kerangka empat pilar pendidikan Islam, yang terdiri dari ruhiyah, aqliyah, jasadiyah, dan ijtimaiyah (Maksudin et al., 2025). Model ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas Gen Z dalam aspek spiritual, akademik, dan sosial berdasarkan prinsip-prinsip tarbiyah Islamiyah

Implementasi Sinergi Holistik antara Sekolah dan Keluarga

Penerapan model ini dilakukan melalui kebiasaan mendokumentasikan kegiatan produktif siswa oleh orang tua dan institusi pendidikan (Widya Ningrum et al., 2025). Dokumentasi ini adalah buku catatan harian yang diisi siswa, diverifikasi orang tua, dan dikumpulkan ke guru setiap Senin, berisi jadwal kegiatan produktif siswa mencakup ibadah, belajar, penggunaan ponsel, aktivitas positif, dan pembentukan karakter.

Orang tua memverifikasi kegiatan dengan memberi tanda centang di malam hari, siswa mencentang setiap selesai melakukan satu aktivitas, kemudian wali kelas mengevaluasi output mingguan dari buku kontrol setiap hari senin. Orang tua dan wali murid dilatih lewat pertemuan pekanan di sekolah. Pertemuan ini membahas cara mengelola pengasuhan anak sesuai ajaran Islam.

Dalam forum ini, orang tua belajar cara membimbing dan memastikan anak melakukan kegiatan dengan benar. Mencatat kegiatan harian secara teratur terbukti ampuh meningkatkan hasil kerja dan menurunkan rasa tertekan. Hal ini dievaluasi melalui program digital untuk knowledge workers (Chow et al., 2023).

Penting untuk dicatat bahwa model ini dirancang khusus untuk kelompok usia 14-18 tahun. Pendekatan buku kontrol ini tidak diterapkan pada mahasiswa (usia 19 tahun ke atas) karena mereka telah memasuki fase dewasa muda. Memberikan kontrol ketat atau buku verifikasi kepada mahasiswa dewasa justru berisiko kontraproduktif, di mana mereka akan merasa dikekang atau tidak dipercaya, yang mana hal ini sangat berbeda dengan kebutuhan perkembangan siswa usia 14-18 tahun yang masih memerlukan bimbingan terstruktur.

Baca Juga :  Mengenang Kakek Tercinta, Bapak Ngempo

Di sini, manajemen pengasuhan yang fokus pada output, sesuai ajaran Islam, sangatlah krusial. Tujuannya adalah membimbing Gen Z, khususnya pada rentang usia 14-18 tahun, agar produktif dalam hal spiritual, akademis, dan sosial. Pelaksanaan model ini menggunakan buku kontrol output dan kerja sama rutin antara sekolah dan keluarga. Membiasakan aktivitas produktif yang dipantau orang tua bisa meminimalkan dampak buruk teknologi dan memperkuat kepribadian siswa.

Untuk sekolah, penting untuk punya petunjuk teknis cara mengisi buku kontrol dan pelatihan singkat untuk orang tua supaya verifikasi jadi lancar. Buat orang tua, rajin mendampingi dan memberi masukan tiap hari itu penting agar cara ini berhasil. Untuk penulis lainnya atau penelitian dan pegiat pendidikan, cara ini bisa dicoba di lapangan untuk melihat seberapa efektifnya dalam meningkatkan produktivitas Gen Z nanti. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *