Opini

Saatnya Bermitra dengan Media!

9
×

Saatnya Bermitra dengan Media!

Share this article
IMG 20260716 WA0027
Syamsudin Kadir Penulis Buku Penggiat Literasi Islam Foto : Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku dan Penggiat Literasi Islam

KITA sedang berada di era media, satu era dimana media bukan sekadar alat perantara atau sarana yang digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi, atau gagasan dari sumber kepada penerima; tapi juga sebagai wujud eksistensi dan upaya wujudkan peradaban baru. Nyaris tak ada detik yang kita lalui tanpa bertatapan atau bersapaan dengan media. Itu pertanda bahwa secara eksistensial kita sejatinya sahabat atau mitra utama media.

Pada praktiknya, media memiliki fungsi dan bentuk spesifik. Media massa, misalnya, ia adalah sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Media seperti televisi, radio, koran, majalah, dan internet atau media online memiliki peran yang sama yaitu perantara pesan, informasi dan gagasan. Tiga elemen ini merupakan subtansi isi media. Termasuk platform media sosial yang belakangan ini semakin menjamur.

Dalam konteks kekinian, kita termasuk elemen muslim, lembaga pendidikan Islam dan sebagainya bermitra dengan media semakin relevan. Kita tidak lagi terjebak pada pola hubungan yang berhadap-hadapan: “Kami” dan “Media”. Era keterbukaan mengupayakan hubungan kolaboratif yang lebih produktif. Baik itu media nasional atau pun lokal; media daring atau media komunitas, semuanya memiliki peran yang sama sebagai mitra publik atau masyarakat luas yang mestinya tidak tergoda menggandakan keresahan.

Dalam rangka penguatan literasi dan konten keislaman, bermitra dengan media bukan sekadar pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar agar (1) eksistensi elemen terutama lembaga keislaman tetap tumbuh, (2) pesan atau konten keislaman yang disampaikan tersalurkan dengan baik, dan (3) menimbulkan kepercayaan sekaligus saling percaya antar sesama. Dengan demikian, terjaganya kemitraan dalam rangka kolaborasi dan mencari titik temu menjadi niscaya, bahkan semakin mendesak untuk dibangun.

Baca Juga :  Satu Abad NU; Refleksi dan Agenda Abad Kedua

Lebih spesifik, bermitra dengan media memiliki urgensi tersendiri. Pertama, menjadi bagian dari percakapan publik. Bermitra dengan media dapat membantu konten media seperti berita, juga gagasan tokoh, program lembaga, atau produk tertentu dari umat Islam menjadi bahasan utama masyarakat luas. Di samping itu, dapat membuat eksistensi lembaga makin terjaga, juga membangun pengaruh dan peran aktif dalam isu-isu publik tanpa menepikan nilai, standar dan prinsip Islam.

Kedua, menghadapi persaingan yang semakin ketat. Bila kita bermitra dengan media, apa yang kita sampaikan tersebar lebih luas dan mendapat respon yang luas juga. Isu yang kita angkat pun semakin dikenal dan menjadi perbincangan masyarakat luas. Jika kita tidak berkolaborasi dengan media, maka pesan kontra dari isu konstruktif yang kita perjuangkan bakal lebih cepat didengar publik. Intinya, konten keislaman bakal diburu masyarakat bila kita bermitra dengan media.

Ketiga, membangun kepercayaan. Membangun kepercayaan di tengah masyarakat itu butuh perjuangan panjang. Termasuk penguatan literasi dan penyebaran konten keislaman. Dalam banyak hal, masyarakat lebih percaya liputan berita independen dibanding promosi mandiri. Kecuali tokoh yang punya nama dan pengaruh besar. Keberadaan media berperan sebagai perantara yang menguatkan kredibilitas pesan yang kita sampaikan. Hal ini menjadi relevan lagi karena kita hidup di tengah maraknya berita bohong dan keraguan publik karena terpapar hoax.

Keempat, memperluas daya jangkau. Kita mesti akui secara jujur bahwa media memiliki jangkauan yang sangat luas yang mustahil kita bangun dan lakukan sendirian dalam waktu singkat. Adanya media dapat menyentuh kelompok masyarakat yang sulit dijangkau saluran media mandiri kita yang terbatas. Bahkan adanya media profesional maka pesan tersebar lebih luas dan hadir tepat pada saat dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan sifat berita media: aktual, faktual dan akuntabel.

Baca Juga :  MUI Sebagai Rumah Umat Islam Indonesia

Kelima, mengantisipasi hal-hal darurat secara lebih cepat. Misalnya, lembaga tertentu diberitakan sebagai penampung atau melakukan kegiatan kejahatan tertentu. Bila faktanya lain, tentu ini merupakan tuduhan sempurna. Adanya hubungan yang sudah terjalin membuat kita dan kalangan media bisa memberikan klarifikasi (tabayyun) seketika. Kita dan kalangan media juga bisa mencegah penyebaran berita keliru yang bisa merusak nama baik. Kita dalam waktu yang cepat juga bisa mencegah hoax yang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Ala kuli hal, bermitra dengan media dapat memudahkan kita dalam berbagai informasi dan konten berita. Bila hubungan kemitraan berkualitas, maka media bakal dengan mudah menyiarkan informasi atau kegiatan secara gratis dan berulang-ulang. Liputan media seperti wawancara tokoh, kegiatan lembaga dan serial tertentu dapat diliput media. Di sinilah pentingnya bermitra dan berkolaborasi dengan media. Itulah pulalah yang membuat media menjadi medium amal baik kita secara berjamaah. Salam literasi Islam! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *