Opini

Literasi Bola dan Inspirasi Dari Lamine Yamal

8
×

Literasi Bola dan Inspirasi Dari Lamine Yamal

Share this article
IMG 20260719 WA00591
Pemain Bola dari Spanyol Lamine Yamal Nasraoui Ebana Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penggiat LITERASIA-Literasi Indonesi

KITA kembali menatap layar kaca TV atau langsung hadir di MetLife Stadium, East Rutherford, pada Senin 20 Juli 2026 sejak pukul 02.00 WIB. Kali ini berlangsung laga final partai puncak Piala Dunia 2026 antar Spanyol dan Argentina. Laga penuh gengsi dan emosional. Secara spesifik, ini tentang sosok muda yang namanya disebut di banyak tempat, termasuk netizen di seluruh dunia. Nama lengkapnya Lamine Yamal Nasraoui Ebana, akrab disapa Lamine Yamal, atau Yamal.

Sosok yang lahir pada Jumat 13 Juli 2007 ini adalah pemain sepak bola profesional Spanyol yang bermain sebagai penyerang untuk klub La Liga Barcelona dan tim nasional Spanyol. Dikenal karena bakatnya, penciptaan peluang, dan gol-gol melengkung jarak jauhnya, Yamal dianggap sebagai salah satu pemain terbaik di dunia saat ini. Uniknya, bahkan tanggal pertandingan final piala dunia pun seolah mengikuti kisah hidupnya. Senin 20 Juli 2026. Sepekan setelah ia berusia genap 19 tahun.

Sepak bola level dunia tahun ini memang penuh kejutan. Ada tim yang terlihat apik sejak awal hingga akhir, ada juga yang apik di awal namun belum menggapai sesuatu sesuai ekspektasi. Ada tim yang terlihat solid dan difavoritkan jadi juara, namun berhenti di perempat final. Bahkan ada pemain yang seperti kehilangan peran. Permainan tim dan skill individu yang wah ternyata berhadapan dengan tim yang juga solid dan memiliki daya permainan juga yang lebih wah.

Itu sedikit catatan “ngasal” seputar tim dan skill individu piala dunia kali ini. Tapi kita mendapatkan hiburan yang membuat piala dunia kali ini tak mudah untuk ditinggalkan. Bila ada tim yang kita dukung namun kini sudah angkat koper di babak-babak sebelumnya, kini kita masih punya penjaga daya untuk tetap dalam riang. Kita punya Yamal. Sosok muda yang agresif dan apik dalam memainkan bola juga melakukan penyerangan yang membuat lawan penuh jaga dan was-was.

Baca Juga :  Bahaya Ghuluw dan Peran MUI

Kisah Yamal terasa seperti skenario yang ditulis sempurna. Bayangkan saja, ia sangat muda, bahkan masih berusia 19 tahun. Ia mengenakan jersey bernomor 19. Lalu, kesempatan terbesar dalam kariernya datang. Ia bersama tim negaranya, Spanyol, selalu menghadirkan tepuk tangan dan sorak senang para penonton dari seluruh jagad sejak awal pesta bola dunia dimulai hingga kini. Final Piala Dunia yang dimainkan pun, sekali lagi, tepat pada Senin 20 Juli 2026.

Memang tak ada argumentasi ilmiah yang dapat menjadi dalil untuk menempatkan angka itu sebagai angka ajaib. Namun padanya selalu ada cerita yang membuat kita selalu penasaran dan berkelakar bahwa di balik angka itu ada energi yang memotivasi untuk terus meningkatkan prestasi dan menghadirkan permainan yang menghibur ratusan juga mata di seluruh jagad bumi. 1 adalah angka pertama, 9 adalah angka akhir. 1 adalah start perjuangan panjang, 9 adalah obsesi ideal dalam meraih prestasi. Mungkin raih juara dunia, bisa jadi.

Sebagaimana diberitakan banyak media, bahwa panjang Piala Dunia 2026, Yamal baru mencatat satu gol tanpa satu pun assist. Angka itu tampak sederhana ketika dibandingkan dengan penampilan Lionel Messi, Kylian Mbappe, Harry Kane, Jude Bellingham, maupun Erling Haaland. Kendati demikian, kontribusinya tidak berhenti pada statistik. Pergerakan membawa bola, kemampuan membuka ruang, serta keputusan di sepertiga akhir kerap memberi ruang bagi rekan setim untuk menyelesaikan peluang.

“Saya tentu ingin mencetak gol, tetapi saya tidak masuk ke lapangan hanya memikirkan itu. Saya bermain untuk membantu tim,” ujarnya pada media. “Jika kami menjuarai Piala Dunia, tidak ada yang akan mengingat apakah saya mencetak gol atau tidak. Yang terpenting adalah kemenangan,” lanjutnya. Kini ratusan juta mata dunia tertuju padanya, begitu juga timnya: Spanyol. Kali ini ia bakal berhadapan dengan tim yang memiliki sepak terjang dan pengalaman panjang dalam sejarah sepak bola dunia: Argentina.

Baca Juga :  Mari Berdo’a Kepada Allah!

Namun Yamal bukan tipe penakut, bukan juga tipe jumawa. Baginya, lapangan dan permainan bola di lapangan adalah saksi paling tulus. Ini bukan tentang siapa yang hebat dan yang tak hebat, tapi tentang momentum dan pembelajaran sejarah. Bagi Yamal, final kali ini bukan soal tim apa yang menang atau kalah, tapi tentang pengalaman berharga sebagai start untuk melanjutkan apa yang sudah ditenun selama ini. Menjadi pemain yang profesional level dunia sejak usia muda adalah pengalaman berharga dan bersejarah.

Bagi Yamal, meniti perjalanan sebagai pemain bola kelas dunia bukanlah kerja kecil, tapi ini kerja besar yang membutuhkan kesungguhan, kerja keras dan perjuangan panjang. Lagi-lagi, semua mata kini tertuju padanya. Angka 19 pada jerseynya adalah saksi yang akan bercerita tentang lakon berikutnya yang lebih indah untuk dikenang. Baik oleh diri dan negaranya maupun oleh fans dan siapapun di luar sana. Tentang menang atau kalah saat bertanding itu soal lain.

Pertandingan bergengsi kali ini memang bukan ditentukan oleh angka 19. Benar-benar bukan. Tapi dengan angka itu membuat Yamal merasa tertantang untuk hadir di lapangan hijau dengan permainan yang lebih apik dari yang sudah dihadirkan selama ini. 90 menit atau mungkin lebih pertandingan sejatinya bisa mengubah sejarah, baik Spanyol maupun Yamal sendiri. Bila soliditas tim dan skill individu menyatu, tentu akan punya dampak besar untuk memenangkan pertandingan yang diramaikan oleh suara gemuruh dukungan dari seluruh dunia ini.

Namun bagi kita yang menyaksikan final kali ini, di mana pun kita berada dan apa pun tim yang kita dukung, atau siapapun pemain yang kita sukai; bukan itu saja substansinya, tapi pada giat kita untuk belajar dari perjalanan kariernya, juga perjuangannya menjadi pemain profesional dan mengagumkan ratusan juta manusia. Yamal menjadi inspirator kita terutama anak muda di seluruh dunia untuk terus berprestasi sesuai dengan minat, bakat dan profesi yang ditekuninya. Termasuk untuk berkarier dengan tetap menjaga shalat lima waktu, giat membaca Al-Quran dan berdoa kepada Allah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *