Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”
ARDIAN Sanjaya, S. Ars., lahir di Wae Racang, Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT pada Juni 2000. Ia anak kedua dari empat bersaudara, darah daging Bapak Muhamad San dan Ibu Siti Nurdiana. Ayahnya menaklukkan tanah sebagai petani, ibunya menenun rumah sebagai ibu rumah tangga. Di dapur sederhana dan sawah yang basah, ia belajar arti sabar. Sari Andani, Bambang Susanto, dan Devi Susanti tumbuh bersamanya. Di antara tawa dan rebutan, ia belajar berbagi ruang dan waktu. Keluarga itu tidak kaya harta, tetapi kaya doa. Dari sanalah fondasi hidupnya mulai dicor.
Pendidikan dasar ia mulai di SDI Wae Racang, kelas satu sampai lima. Lalu ia menuntaskan di MIS Naga hingga lulus tahun 2015. Sejak 2008 ia mengenal bangku kayu dan kapur tulis. Jarak jauh ia tempuh, namun semangatnya tidak pernah tertinggal. Guru adalah lentera, buku adalah jendela. Ia mencatat bukan hanya pelajaran, tetapi juga harapan. Di masa itu ia menanam disiplin yang kelak tumbuh tinggi. Langkah kecilnya sudah mengarah ke langit yang lebih luas.
SMPN 3 Sanonggoang menyambutnya tahun 2015 hingga 2018. Di sana ia belajar bahwa bertanya adalah keberanian. Ia belajar bahwa gagal adalah guru yang jujur. Angin Manggarai Barat mengajarinya untuk tidak rapuh. Ia pulang membawa catatan, juga membawa mimpi. Mimpi itu bernama masa depan yang lebih terang. Ia belum tahu jalannya, tetapi ia tahu arahnya. Ilmu menjadi kompas yang ia pegang erat.
SMAN 2 Kota Bima menjadi rumah keduanya, 2018 sampai 2021. Kota itu memperluas pandangannya tentang dunia. Ia membaca lebih dalam, berdiskusi lebih berani. Ia mulai bertanya, untuk apa ilmu jika tidak membangun. Jawabannya datang dalam bentuk garis, ruang, dan cahaya. Ia memilih Arsitektur sebagai bahasa pengabdiannya. Ia ingin merancang tempat yang menumbuhkan manusia. Ijazah SMA ia terima dengan dada penuh tekad.
Tahun 2021 ia merantau ke Surabaya seorang diri. Tidak ada tangan yang menuntun, hanya doa yang mengiring. Ia masuk ITATS, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Kuliah baginya bukan sekadar mengejar gelar. Ia belajar tentang karakter, relasi, dan tanggung jawab. Ia belajar bahwa waktu adalah bahan bangunan paling mahal. Di kos sempit ia berhadapan dengan rindu dan lelah. Namun ia tidak pernah membiarkan gelap memadamkan nyala.
Pada 13 Agustus 2025 ia diwisuda sebagai Sarjana Arsitektur. Skripsinya “Perencanaan dan Perancangan Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ Bima)”. Sebuah karya yang menjahit iman dan ruang menjadi satu. Gelar itu ia letakkan di pangkuan orang tuanya. Untuk Bapak Muhamad San dan Ibu Siti Nurdiana yang tak kenal lelah. Untuk dua punggung yang basah oleh panas dan hujan. Wisuda itu bukan akhir, melainkan pintu baru. Syukur ia ucapkan dalam sujud yang panjang.
Organisasi menjadi sekolah keduanya selama di kampus. Ia aktif di HMI sebagai anggota yang berpikir kritis. Di HMJ ia dipercaya di bidang keilmuan, lalu menjadi Ketua. Ia juga memimpin HM3 pada periode 2023 sampai 2025. Alasannya sederhana, ia ingin belajar memberi manfaat. Ia ingin melatih kepemimpinan, komunikasi, dan tanggung jawab. Dari forum ke forum ia ditempa menjadi pribadi utuh. Dari amanah ke amanah ia belajar arti melayani.
Dampak organisasi mengalir ke dalam dirinya. Ia menjadi lebih percaya diri tanpa kehilangan rendah hati. Ia mampu memimpin, bekerja sama, dan mengambil keputusan. Ia belajar menyelesaikan masalah, bukan menghindarinya. Ia belajar mendengar sebelum berbicara. Ia belajar bahwa pemimpin adalah pelayan yang pertama. Setiap rapat adalah latihan, setiap konflik adalah cermin. Dari situlah ia tumbuh menjadi manusia yang siap pakai.
Merantau mengajarinya arti kesepian yang produktif. Ia datang ke Surabaya tanpa siapa-siapa, tanpa nama. Kesulitan mempertemukannya dengan orang-orang baik. Dari tangan asing ia menerima pertolongan dan arah. Dari sanalah ia belajar mandiri dan berserah. Ia yakin bahwa Allah selalu membuka jalan. Prinsipnya sederhana: mulai dari bawah, dengan jujur. Amanah ia jaga, tanggung jawab ia pikul, pantang menyerah.
Nasihat orang tuanya ia simpan seperti mantra. “Lakukan hari ini sebaik mungkin, karena semua akan dibayar.” Kalimat itu ia ulang saat tenaga hampir habis. Kalimat itu ia jadikan bahan bakar ketika ragu datang. Orang tuanya ingin ia sukses tanpa penyesalan. Ingin ia berusaha sampai tidak ada kata “seandainya”. Pesan itu ia teruskan kepada mahasiswa perantau lain. Jangan takut dari nol, tetaplah jujur, amanah, dan berdoa.
Ada malam ketika ia menangis diam-diam. Ia memikirkan biaya kuliah dan keringat orang tua. Ia menatap foto mereka di sawah dan dapur. Lalu ia bertanya pada dirinya sendiri. “Apakah aku lebih lelah dari mereka?” Pertanyaan itu memukul dan membangkitkan. Air matanya berubah menjadi semangat baru. Dari luka itu lahirlah kekuatannya.
“Saat merantau saya sering memikirkan biaya kuliah dan perjuangan orang tua. Ketika lelah, saya melihat foto mereka bekerja di panas dan hujan. Saya berkata, “Apakah saya lebih lelah dari mereka?” Hal itu membuat saya kembali semangat,” ucapnya.
Pengalaman paling berkesan adalah awal merantau. Kesulitan datang bertubi, namun pertolongan datang juga. Allah mempertemukannya dengan orang yang menolong tanpa pamrih. Di situlah ia belajar bahwa kebaikan tidak pernah salah alamat. Di situlah ia belajar bahwa sendiri bukan berarti sendirian. Setiap pintu tertutup digantikan pintu lain yang terbuka. Ia belajar percaya pada proses dan pada waktu. Ia belajar berjalan dengan iman sebagai senter.
Setelah semester enam ia sudah bekerja. Ia menjadi Pengawas Lapangan Rumah Layak Huni di Wonorejo. Ia melihat teori turun menjadi tembok dan atap. Setelah lulus ia bergabung di PT MRM sebagai Arsitek. Dua bulan kemudian ia dipercaya memimpin tim. Kemudian ia dipindahkan sebagai Pengawas Konsultan dan Manajer Pengawas. Periode 2024 sampai 2026 menjadi masa tempa profesionalnya. Kini ia juga mengurus Panti Asuhan Al Mizan Surabaya.
“Setelah lulus, saya bekerja di PT MRM sebagai Arsitek. Setelah dua bulan dipercaya memimpin tim, kemudian dipindahkan ke perusahaan utama sebagai Pengawas Konsultan/Manajer Pengawas, dengan pengalaman pada periode 2024–2026,” akunya.
Di panti ia menemukan wajah lain dari arsitektur. Bukan hanya merancang gedung, tetapi merawat manusia. Ia melihat anak-anak yang butuh ruang aman. Ia ingin memastikan ada tempat berteduh bagi mereka. Baginya membangun adalah memastikan harapan tetap hidup. Gelar menjadi tanggung jawab, bukan hiasan. Kerja menjadi ibadah, bukan sekadar karier. Di sanalah ia merasa paling dekat dengan makna.
Sosok yang paling menginspirasi tetaplah orang tuanya. Petani dan ibu rumah tangga yang bekerja tanpa panggung. Mereka menukar tenaga demi pendidikan anak-anaknya. Dari mereka ia belajar bahwa pengorbanan adalah cinta. Dari mereka ia belajar bahwa doa adalah struktur tak kasatmata. Inspirasi itu tidak pernah padam di dadanya. Ia ingin menjadi anak yang membanggakan. Bukan dengan janji, tetapi dengan bukti.
Ia memegang satu kalimat sebagai pegangan. “Jangan takut melangkah sendirian.” “Selama kita berusaha dan berdoa, Allah selalu punya cara.” Kalimat itu ia bawa ke setiap proyek dan rapat. Kalimat itu ia bagikan kepada siapa pun yang goyah. Ia percaya langkah kecil yang konsisten mengalahkan niat besar. Ia percaya bahwa kerja keras adalah doa yang berjalan. Ia percaya bahwa langit mendengar orang yang bekerja.
Mimpinya untuk kampung halaman tidak pernah padam. Ia ingin melihat Manggarai Barat maju dalam pendidikan. Ia ingin melihat pembangunan yang memanusiakan. Ia ingin sumber daya manusia tumbuh dengan ilmu dan adab. Ia ingin pulang membawa kontribusi, bukan hanya cerita. Ilmunya ingin ia gunakan untuk membangun tanah kelahiran. Ia ingin merancang ruang yang mencerdaskan dan meneduhkan. Ia ingin menjadi bagian kecil dari kemajuan besar itu.
“Saya ingin Manggarai Barat semakin maju dalam pendidikan, pembangunan, dan sumber daya manusia serta dapat ikut berkontribusi melalui ilmu yang saya miliki,” harapnya.
Tahun ini ia berencana mengambil profesi arsitektur. Ia tahu gelar sarjana hanyalah permulaan. Ia tahu profesi menuntut tanggung jawab yang lebih berat. Ia mempersiapkan diri dengan kerja, belajar, dan doa. Ia tidak tergesa, tetapi juga tidak menunda. Ia ingin naik tangga dengan pijakan yang kokoh. Agar ilmunya bermanfaat, agar amanahnya dijaga. Agar setiap rancangan menjadi sedekah jariyah.
Ucapan terima kasih ia sampaikan kepada Rektor dan dosen. Atas ilmu, bimbingan, pengalaman, dan pendidikan yang diberikan. “Terima kasih atas ilmu, bimbingan, pengalaman, dan pendidikan yang telah diberikan. Semoga menjadi amal dan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT.,” ucapnya.
Ucapan terima kasih juga ia haturkan kepada Ayah dan Ibu. Atas doa, kerja keras, dan pengorbanan yang tak terhitung. Gelar ini ia persembahkan sepenuhnya untuk kalian. Semoga ia bisa menjadi anak yang membanggakan. Karena baginya, membangun negeri dimulai dari membangun bakti. (*)






