Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia”
AHMAD Safri. Nama itu lahir dari tanah Cereng yang begitu tenang. Bukan dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan. Ia tumbuh di antara suara angin dan doa. Di rumah beratap seng, mimpi disemai pelan-pelan. Tangannya kecil dulu, kini menggenggam ilmu. Langit Manggarai Barat menjadi saksi pertama. Bahwa anak petani pun bisa menatap jauh.
Ia dilahirkan pada Senin 25 Mei 1998 di Cereng. Dua nama menemaninya sejak napas pertama. Bapak Safrudin dan Ibu Siti Marfa, ayah dan ibunya. Keduanya petani, penggenggam cangkul dan harapan. Mereka tidak mewariskan emas, hanya kerja keras. Namun dari lumpur sawah lahirlah tekad. Agar anak sulungnya melangkah lebih tinggi. Melewati batas yang dulu tak berani diimajinasi.
Ia anak pertama dari dua bersaudara. Setelah dirinya, ada Muhammad Sandri. Dua nama, satu akar, satu atap. Rumah itu kecil, tapi penuh pelajaran. Tentang berbagi, tentang mengalah, tentang menunggu. Di sana ia belajar menjadi pelindung. Belajar memimpin tanpa harus berteriak. Karena sulung adalah guru pertama di keluarga.
Sosok yang paling berpengaruh adalah orang tua. Bukan pidato, tapi keringat mereka yang bicara. Setiap tetes di sawah adalah nasihat. Setiap diam saat gagal panen adalah pelajaran. Dari mereka ia mengenal arti sabar. Mengenal arti ikhlas tanpa pamrih. Dan mengenal arti berjuang dalam sunyi. Agar anak-anaknya tidak mengulang lelah yang sama.
Langkah pertama ke sekolah dimulai di MIS Nurul Fikri Leheng. Tahun 2005 ia masuk, 2011 ia lulus. Enam tahun bersama papan tulis dan kapur. Di sana ia belajar membaca, menulis, dan hormat. Di sana pula ia belajar menyesal. Karena pernah membuat ibunya menangis karena nakal. Luka itu ia simpan, ia jadikan cermin. Agar dewasa nanti ia tak mengulanginya.
Tahun 2011 ia melanjutkan ke MTs Hidayatullah Mataram. Tiga tahun ia ditempa dalam disiplin. 2014 ia keluar dengan dada lebih lapang. Mataram mengajarinya tentang dunia luar. Tentang teman beda kampung, beda cerita. Tentang adab yang harus mendahului ilmu. Dan tentang rindu yang mulai belajar jarak. Sebelum akhirnya ia benar-benar pergi jauh.
MA Hidayatullah Mataram menjadi persinggahan berikutnya. 2014 ia masuk, 2017 ia lulus. Tiga tahun ia merapikan niat dan arah. Di madrasah itu ia belajar bertanya. Untuk apa semua lelah ini. Jawabnya sederhana, untuk mengangkat derajat. Derajat orang tua, derajat kampung halaman. Dengan ilmu, bukan dengan kebisingan.
Surabaya memanggilnya pada tahun 2017. Ia menuntut ilmu di STAIL Surabaya, Jawa Timur. Mengambil jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah. Empat tahun ia tempuh hingga 2021. Kota besar mengajarinya tentang waktu. Bahwa detik berharga jika diisi makna. Bahwa kuliah bukan hanya di kelas. Tapi juga di jalan, di masjid, di komunitas. Di kampus ia tidak berjalan sendiri. Ia aktif di Lembaga Dakwah Kampus, LDK. Dipercaya menjadi bendahara organisasi. Bukan karena ingin nama, tapi ingin manfaat.
Ia belajar mencatat, menghitung, dan bertanggung jawab. Ia belajar mendengar sebelum memutuskan. Ia belajar bahwa kerja tim adalah ibadah. Dan bahwa melayani adalah cara belajar paling jujur. Alasan ia berorganisasi sederhana saja. Belajar bermasyarakat, belajar menyelesaikan masalah. Dunia nyata tidak selalu ada di buku. Kadang ia ada di rapat, di konflik, di keputusan.
Dampaknya nyata pada dirinya. Lebih disiplin, lebih peduli, lebih berani. Jiwa tampil di depan mulai tumbuh. Dari malu menjadi mampu. Hal unik ia temukan selama kuliah. Ternyata hidup harus seimbang. Antara teori di kelas dan praktik di lapangan. Antara tugas dan amanah organisasi.
Ia belajar mengatur waktu dengan teliti. Karena telat sedetik bisa mengecewakan banyak orang. Dan karena setiap amanah adalah ujian. Hal yang menuntut ia dewasa sebelum waktunya.
Hidup di rantauan memberinya pelajaran lain. Makna hidup yang sesungguhnya. Bagaimana mengandalkan Robb lebih dari manusia, lebih dari orangtua. Bagaimana rindu menjadi tenaga, bukan beban. Bagaimana sepi mengasah kemandirian. Bagaimana jauh membuat pulang lebih berharga. Di tanah orang ia belajar berdiri. Tanpa menyandarkan bahu pada siapa-siapa.
Selama merantau ia menjaga dua prinsip. Amanah dan kejujuran dalam segala keadaan. Itu titipan orang tua yang tak boleh pudar. Ia menolak jalan pintas yang menggiurkan. Ia memilih jalan panjang yang memberkati. Karena nama baik lebih mahal dari nilai. Karena kepercayaan lebih berat dari ijazah. Dan karena Allah melihat yang tak terlihat.
Nasihat orang tua menjadi modal hidupnya. “Kamu harapan kami,” begitu mereka berkata kenang dia. “Kami boleh tidak sekolah, tapi kamu harus.” “Karena dengan ilmu, derajat kami terangkat.” Kalimat-kalimat itu ia simpan di dada. Ia keluarkan saat semangat mulai padam. Ia jadikan pengingat saat malas merayap. Agar ia tidak tergoda untuk mengkhianati pengorbanan.
Ada nama yang menginspirasi langkahnya. Bang Muhamad Salahudin, Bang Syamsudin Kadir, dan Ustadz Mohamad Yasin. Ilmu mereka luas, wawasan mereka dalam. Dari cara mereka hidup, ia belajar. Bahwa ilmu tanpa akhlak adalah kosong. Bahwa hebat bukan untuk disombongkan. Tapi untuk dibagikan. Agar orang lain ikut terang.
Setelah sarjana, rencana S2 pernah ada. Namun hidup memilihkan jalan lain. Ia mendahulukan pernikahan sebagai ibadah. “Semoga di waktu yang tepat, kuliah lanjut,” harapnya.
Mimpinya untuk kampung tetap menyala. Ia ingin Cereng khususnya, Manggarai Barat umumnya. Dihuni oleh orang berpendidikan dan berintegritas. Agar tanah itu melahirkan pemimpin, bukan penonton.
Ia memegang satu kalimat sebagai pegangan. “Jika memulai karena Allah, jangan berhenti karena manusia.” Kalimat itu ia ulang saat dicibir. Ia ulang lagi saat dipuji. Agar niat tidak bergeser oleh suara. Agar langkah tidak oleng oleh angin. Karena yang menilai bukan manusia. Tapi Zat yang Maha Mengetahui.
Kepada pelajar dan mahasiswa yang melanjutkan pendidikan di tanah rantau ia berpesan. “Niatnya dijaga, bahwa rantauan bukan gaya-gayaan tapi pilihan. Belajar sungguh-sungguhlah di kampus. Jadikan keringat orang tua sebagai penyemangat di saat kamu mulai malas. Lalu bangkitlah. Di saat waktunya nanti pulang, bukan sekedar rindu tapi utamanya ilmu,” ungkapnya.
Untuk para rektor dan dosen ia berterima kasih. “Terima kasih atas ilmu dan keteladanan,” ucapnya. Semoga setiap huruf yang diajarkan, harap dia, menjadi amal jariyah yang tak putus. Semoga setiap lelah mendidik. Dibalas dengan kemuliaan di sisi-Nya. Karena guru adalah lentera. Yang menyalakan tanpa takut padam.
Untuk ayah dan bunda, ia menunduk dalam. “Terima kasih sudah menjadi orang tua hebat. Kalian tidak memikirkan masa depan kalian Tapi masa depan anak-anakmu,” ucapnya.
Ia mohon maaf atas segala salah. Atas janji yang belum tertunai. Ia berharap namanya asing di dunia. Tapi harum di akhirat karena doa mereka.
Ia mencintai sepak bola dan futsal. Baginya itu seni. Seni mengontrol bola, seni mengontrol emosi. Seni mengoper, seni mempercayai tim. Dari lapangan ia belajar kerjasama. Dari peluh ia belajar kerendahan hati.
Ustadz Safri, demikian ia akrab disapa, menikah dengan gadis asal Toli-toli, Sulawesi Tengah, namanya Sarinah. Kini bersama anak mereka, Ceisya Adzkiyatuzzahra, berdomisili di Surabaya dan aktif sebagai Pengasuh SMP SMA Hidayatullah Surabaya.
Dan gelar Sarjana Pendidikan atau S.Pd. yang kini disandangnya, ia persembahkan sepenuhnya untuk kedua orang tuanya. (*)






