Opini

Belajar Kepada Ibnu Ummi Makhtum

11
×

Belajar Kepada Ibnu Ummi Makhtum

Share this article
IMG 20260524 WA0042
Foto : Dok Pribadi/Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Muhammadiyah: Ide, Narasi dan Karya”

JANGAN tunggu menjadi sosok hebat untuk beramal baik. Langsung beramal baik, itu sudah awalan sekaligus menjadi rute menuju hebat. Keterbatasan fisik bukanlah alasan atau menjadi penghambat untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Menyicil langkah, terus berbuat baik dan jadi penyebar kebaikan bersama orang-orang baik adalah lakon hebat. Tak mengapa amalnya terlihat kecil, yang penting kontinyu atau dijalankan terus menerus.

Itulah pembelajaran berharga yang dapat kita petik dari perjalanan sejarah, kehidupan dan pengalaman salah satu sosok sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namanya Abdullah bin Qais yang akrab juga dengan sebutan Ibnu Ummi Makhtum. Sosoknya buta sejak lahir, namun ibadahnya di atas rata-rata. Sebagai muslim generasi pertama, sosoknya layak diteladani.

Salah satu kisah yang cukup menarik adalah perihal turunnya al-Quran surat ‘Abasa ayat 1-16. Suatu saat Ibnu Makhtum hendak bertanya tentang sesuatu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berbicara dengan beberapa petinggi Quraish, salah satunya Amr bin Hisyam yang dikenal Abu Jahal. Pertemuan ini tentu pertemuan yang penting dalam strategi diplomasi kala itu.

Namun utusan Allah itu fokus berbicara dengan para tamunya itu, sementara pertanyaan sahabatnya itu belum sempat dijawab. Lalu tak lama setelah itu, turunlah teguran dari Allah, seperti yang dapat kita baca pada 16 ayat tersebut. Ini pertanda bahwa sosoknya di hadapan Allah sangat spesial. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam semakin cinta dan perhatian pada saudara sepupu dari istrinya Khadijah.

Sejak kecil Ibnu Ummi Makhtum adalah sosok yang aktif di majelis ta’lim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama yang di Masjid Nabawi. Giatnya dalam berilmu semakin menjadi-jadi setelah hijrah ke Madinah. Kealimannya membuatnya jadi ahli ibadah dan sahabat yang sangat taat, bahkan menjadi sosok yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Baca Juga :  28 Tahun KAMMI; Bakti KAMMI untuk Indonesia

Ibnu Ummi Makhtum juga sosok yang dipercaya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal azan, misalnya, ia sosok yang dipercaya untuk mendampingi atau berkolaborasi dengan Bilal Bin Rabah. Bila Bilal menjadi muazin azan pertama jauh waktu menjelang subuh tiba, sementara Ibnu Ummi Makhtum jadi muazin untuk azan subuh. Sebab ia sosok yang sangat peka sekaligus disiplin dalam hal waktu.

Dalam aspek lain, Ibnu Ummi Makhtum juga kerap dipercaya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memimpin Madinah kala umat Islam yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat di medan tarung melawan para pengganggu umat Islam hingga luar kota kala itu. Ia terhitung belasan kali memimpin Madinah. Bila sang rasul memberi kepercayaan kepada sahabatnya, maka itu pertanda sahabatnya itu memiliki kelebihan dan layak dipercaya.

Ia juga aktif dalam berbagai pertarungan melawan para musuh Islam. Ia mendapat tugas mulia sebagai pembawa panji Islam. Dan Perang Qadisiyah adalah saksi paling nyata betapa cintanya ia pada Islam dan rindunya ia pada surga. Ia syahid sembari memegang panji Islam. Pasukan umat Islam menang, walau beberapa pasukan menjadi syahid. Awalnya tak dikenali, namun beberapa tanda menunjukan ia benar-benar telah syahid.

Jazakumullah dan terima kasih banyak saya sampaikan kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber dan keluarga besar Muhammadiyah Sumber di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat atas undangannya kepada saya untuk berbagi cerita tentang Ibnu Ummi Makhtum pada majelisnya pada Jumat 15 Mei 2026, setelah magrib hingga isya. Semoga setiap kebaikan yang kita lakukan selalu dalam bimbingan, lindungan dan keberkahan dari Allah! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *