Opini

Masa Depan Masjid dan Literasi Islam Era Digital

2
×

Masa Depan Masjid dan Literasi Islam Era Digital

Share this article
IMG 20260923 WA0054
Syamsudin Kadir Foto : Dok Pribadi

Oleh: Syamsdin Kadir

Wakil Ketua LPBKI MUI Pusat

INDONESIA memiliki infrastruktur dakwah terbesar di dunia. Data SIMAS Kemenag 28 Agustus 2026 mencatat 317.461 masjid terdaftar. Data SIMAS 5 Januari 2026 mencatat 317.277 masjid dan 390.031 mushola. Laporan Ditjen Bimas Islam tahun 2025 mencatat 315.740 masjid. Secara kuantitas kita unggul, namun pengaruh Literasi Islam masih tertinggal. Transformasi media masjid harus segera dijalankan bersama.

Konsentrasi masjid berada di lima provinsi utama. GoodStats mengutip SIMAS per 28 Agustus 2026 merilis data tersebut. Jawa Barat 65.135 masjid, Jawa Timur 55.005 masjid, Jawa Tengah 54.304 masjid. Sulawesi Selatan 15.649 masjid dan Lampung 13.146 masjid. Jika lima provinsi ini membuat sistem media terstandar, 60 persen umat terjangkau. Potensi besar ini belum dimanfaatkan optimal.

Perilaku umat telah bergeser sepenuhnya ke ruang digital. Data APJII Januari 2025 mencatat 229,4 juta jiwa terkoneksi internet. Angka itu 80,66 persen penduduk, naik dari 79,50 persen pada 2024. We Are Social dan Meltwater Digital 2025 mencatat 212 juta identitas media sosial aktif. Durasi 7 jam 38 menit per hari dihabiskan di layar. Masjid absen di digital kehilangan akses jamaah.

Konsekuensi kekosongan itu adalah kalah dalam perang informasi. Kominfo Laporan Kinerja 2024 mencatat 3.235 isu hoaks ditangani 2023-2024. Hoaks menyebar cepat melalui grup WhatsApp warga tanpa filter. Masjid tidak menyediakan klarifikasi berbasis ilmu secara rutin. Ketika sumber otoritatif diam, sumber non-otoritatif mengambil alih. Ruang disinformasi makin meluas tanpa kendali.

Masalah

Pertama, kesalahan paradigma DKM memahami fungsi masjid. Dalam buku “Manajemen Pemberdayaan Masjid” (2023), A. Bachrun Rifa’i dan M. Fathurrohman, menjelaskan, masjid era Rasulullah adalah pusat ilmu, ekonomi, kebijakan publik. Hari ini banyak DKM mempersempit fungsi masjid hanya tempat shalat. Anggapan media urusan sekunder adalah kekeliruan manajemen yang merugikan.

Kedua, ketidakpahaman logika algoritma. Ismail Fahmi dalam “Indonesia Digital Outlook” (2024) menegaskan hal ini. Algoritma hanya mendistribusikan konten konsisten, otentik, interaktif. Poster jadwal khatib seminggu sekali kalah oleh konten negatif harian. Yuval Noah Harari dalam “Nexus” (2024) menjelaskan hal serupa. Dominasi informasi menentukan dominasi peradaban masa depan.

Baca Juga :  Jangan Terhipnotis Angka PISA!

Ketiga, kegagalan menjawab kebutuhan Gen Z. Dalam buku “The Anxious Generation”, Jonathan Haidt (2024) memotretnya. Gen Z cemas akibat banjir informasi tanpa kurator kredibel. Praktik KH. Abdullah Gymnastiar lewat “Jagalah Hati” (2022) jadi rujukan. Ustadz Dr. Adi Hidayat, Ustadz Prof. Dr. Abdul Somad, Ustadz Dr. Das’ad Latif buktikan dakwah empatik berhasil. Gen Z tidak anti masjid.

Secara normatif dasar transformasi digital masjid sangat kuat. Dr. KH. Cholil Nafis dalam “Fikih Media Sosial” (2021) menegaskan, wasilah dakwah harus mengikuti instrumen terbaik di zamannya. Gary R. Bunt dalam “Digital Islam” (2023) menjelaskan, digitalisasi masjid bagian dari jihad kontemporer dakwah. Menolak literasi digital sama menolak optimalisasi dakwah yang diperintahkan.

Solusi

Bukti empiris keberhasilan model di atas sudah tersedia. Masjid Jogokariyan Yogyakarta diliput Harian Kompas 12 Maret 2023. Masjid itu mengelola infak Rp 4,2 miliar per tahun karena transparansi media. Masjid Daarut Tauhiid Bandung 2024 mengelola 2,3 juta followers Instagram. Jonah Berger dalam “Contagious” (2013) menjelaskan logikanya. Transparansi dan nilai sosial adalah variabel utama kepercayaan publik.

Solusi rasional adalah mengubah orientasi media secara total. Ubah dari papan pengumuman pasif menjadi pabrik Literasi Islam aktif harian. Austin Kleon dalam “Show Your Work” (2014) jadi rujukan Kemkominfo 2024. Kredibilitas dibangun melalui dokumentasi proses konsisten harian. DKM perlu produksi tafsir singkat, video fikih 60 detik, kisah sahabat. Tidak butuh kamera mahal, hanya HP dan sistem kerja yang jelas.

Fungsi Praktis

Pertama, dokumentasi ilmu sebagai bank pengetahuan. Persoalannya ilmu kajian hilang setelah selesai tanpa arsip. Solusinya bentuk Tim Dokumentasi dengan tugas jelas. Rekam kajian, rangkum lima poin utama, distribusikan. Melalui WhatsApp, Instagram, YouTube jamaah tetap dapat akses setara. Masjid memiliki aset intelektual jangka panjang yang lebih berharga.

Baca Juga :  Terima Kasih Pak JK, Terima Kasih PMI

Kedua, kontrol sosial melalui kurikulum tabayyun. Persoalannya jamaah cenderung membagikan informasi tanpa verifikasi. Solusinya buat program Jumat Tabayyun rutin setiap pekan. Setiap Jumat DKM publikasikan satu hoaks beserta metode verifikasinya. Rujukannya Al-Hujurat ayat 6 dan Buku Saku “Cek Fakta” (2023) kolaborasi dari Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) dan UNESCO. Latih 10 pemuda sebagai Tim Cek Fakta Masjid yang terampil.

Ketiga, pemberdayaan ekonomi melalui transparansi keuangan. Persoalannya rendahnya infak disebabkan laporan keuangan tertutup. Solusinya tiru model Jogokariyan dengan laporan terbuka. Publikasikan laporan infak setiap Jumat malam di Story Instagram bukti transfer. Buat Katalog UMKM Jamaah di WhatsApp Business promosikan gratis tiap Rabu. Transparansi hasilkan kepercayaan dan partisipasi.

Keempat, kaderisasi kreator dakwah untuk regenerasi. Persoalannya remaja dan pemuda hanya diberi peran marjinal penjaga parker, beresin lantai dan sebagainya. Akibatnya mereka pergi ke ruang lebih menghargai kreativitas. Solusinya bentuk Divisi Media Remaja rekrut lima pelajar SMP SMA. Latih editing CapCut Canva dua pekan dengan modul Kelas Kreator Kemkominfo 2024. Berikan SK resmi dan insentif dari dana infak media.

Kelima, jejaring kolaborasi mengatasi ego sektoral. Persoalannya masjid berjalan sendiri tanpa berbagi sumber daya. Solusinya bentuk Forum Media Masjid tingkat kecamatan terstruktur. Masjid Sejuta Pemuda Sukabumi dengan coffee bar creative space bisa jadi mentor. Masjid kecil belajar manajemen konten dan pelibatan Gen Z. Berbagi template via Google Drive tingkatkan efisiensi kolektif.

Keenam, arsip digital sebagai penjaga identitas masjid. Banyak masjid kehilangan narasi sejarah karena tidak dokumentasikan wakifnya. Solusinya buat program “SejarahMasjidKami” terjadwal pekanan. Setiap pekanan publikasikan satu kisah wakif, satu foto pembangunan, satu profil pejuang. Simpan di highlight Instagram dan playlist YouTube Arsip Masjid. Komunitas kuat selalu menjaga memori kolektifnya.

Jika enam fungsi berjalan indikator kemajuan masjid harus diredefinisi. Ukuran kemajuan bukan lagi luas kubah atau mahalnya karpet impor. Ukuran kemajuan adalah aktifnya produksi Literasi Islam dan transparansinya. Masjid yang medianya aktif harian pasti programnya aktif. Karena media menuntut perencanaan dan pelaporan tertib terukur. Media hidup adalah indikator objektif DKM profesional.

Baca Juga :  Wasit Dipukul, Sepak Bola Mabar Bisa Amburadul!

Jadi, hentikan menjadikan media masjid sebagai aset mati. Grup WhatsApp hanya aktif sebulan sekali untuk jadwal dan berita duka adalah bukti. Itu bukti DKM tidak memiliki sistem kerja terencana. Solusinya terapkan Kalender Konten 30 hari realistis konsisten. Senin motivasi, Selasa fikih, Rabu UMKM, Kamis kisah sahabat, Jumat infografis khutbah. Sabtu remaja dan pemuda, dan Ahad olahraga. Sistem sederhana lebih efektif dari ide besar tanpa eksekusi.

Urgensi Kolaborasi

Pada titik inilah urgensi kolaborasi Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman (LPBKI) MUI dengan masjid DKM dan ormas keislaman menjadi kunci. LPBKI MUI tidak bisa bekerja sendiri tanpa jejaring masjid simpul Literasi Islam akar rumput. Muhammadiyah, NU, PERSIS, PUI, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Hidayatullah, NW, NWDI, Al-Washliyah, pesantren memiliki infrastruktur kader teruji. Kolaborasi harus berupa kurikulum literasi bersama, pelatihan Tim Cek Fakta Masjid, bank konten terstandar bersama.

Kini saatnya 317 ribu masjid dari ujung barat hingga timur memilih bangkit menyala. Tak perlu menunggu dana besar kamera mahal, cukup satu HP dan hati tulus. Mulailah Jumat ini rekam khutbah 60 detik jujur sebarkan di grup warga. Biarkan satu langkah kecil jadi percikan api pertama yang konsisten. Dari situlah 229,4 juta jiwa di langit digital akan menemukan jalan pulang menuju masjid.

Masa depan Literasi Islam tidak ditentukan algoritma, melainkan keputusan DKM hari ini. Jika masjid hadir konsisten, maka literasi tumbuh dan hoaks menyusut. Jika masjid memilih diam, maka umat cari cahaya di tempat salah. Pilihannya rasional dan sangat sederhana: hidupkan media atau biarkan masjid sepi perlahan. Sejarah akan mencatat masjid mana yang memilih jadi mercusuar peradaban. Kita sangat optimis bahwa pemberdayaan media masjid dapat menunjang upaya penguatan literasi keislaman di seluruh pelosok Indonesia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *